JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA – PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) memulai inisiatif pelestarian lima stasiun bersejarah di Jakarta sebagai bagian dari pengembangan wisata heritage berbasis perkeretaapian. Langkah tersebut diawali dengan kunjungan kerja Komisaris Utama KAI Wisata Suria Ati Kusumah ke Stasiun Jakarta Kota, Kamis (2/7/2026).
Suria Ati Kusumah mengatakan, Stasiun Jakarta Kota dipilih sebagai titik awal karena memiliki nilai sejarah tinggi sebagai gerbang utama Batavia pada masa Hindia Belanda. Selain menjadi simpul transportasi, stasiun yang dikenal sebagai BEOS itu juga menjadi saksi perkembangan perkeretaapian dan perjalanan sejarah bangsa.
“BEOS bukan sekadar stasiun, tetapi gerbang yang menyambut jutaan perjalanan selama hampir satu abad, mulai dari pedagang di masa kolonial, pejuang kemerdekaan, para perantau, hingga komuter Jakarta masa kini,” ujarnya.
Stasiun Jakarta Kota yang diresmikan pada 1929 dikenal sebagai salah satu stasiun termegah di Asia Tenggara pada masanya. Bangunan bergaya Art Deco tersebut hingga kini tetap mempertahankan karakter arsitektur aslinya meski masih aktif melayani penumpang setiap hari.
Menurutnya, stasiun tersebut juga menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945. Lokasinya yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta menjadikan Stasiun Jakarta Kota memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah.
KAI Wisata selanjutnya akan mengembangkan konsep bertajuk “Perjalanan Bersejarah dari Ibukota Kolonial di Jalur Keemasan Hindia Belanda”. Program itu mencakup pelestarian lima stasiun bersejarah yang memiliki nilai arsitektur, budaya, dan sejarah perkeretaapian.
Empat stasiun lain yang masuk dalam program tersebut yakni Stasiun Tanjung Priok, Stasiun Manggarai, Stasiun Jatinegara, dan Stasiun Bogor. Masing-masing memiliki peran penting dalam perkembangan transportasi, perdagangan, hingga pertumbuhan kawasan perkotaan sejak era Hindia Belanda.
“Melalui inisiatif ini, kami ingin menjadikan stasiun-stasiun bersejarah bukan hanya sebagai tempat transit, tetapi juga sebagai pusat sejarah dan destinasi wisata heritage yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” katanya.
Suria menjelaskan, setiap stasiun menyimpan narasi sejarah yang berbeda, mulai dari aktivitas perdagangan, perkembangan teknologi perkeretaapian, hingga dinamika sosial masyarakat pada masanya. Kekayaan sejarah tersebut dinilai layak dikemas menjadi daya tarik wisata edukatif.
Ia berharap, program pelestarian ini mampu menghidupkan kembali fungsi stasiun sebagai ruang publik yang bernilai sejarah sekaligus memperkuat identitas Jakarta sebagai kota dengan warisan budaya perkeretaapian yang kaya. Program tersebut juga diharapkan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga aset bersejarah nasional.(aln)



