Gandeng Mahasiswa Riset Efektivitas Gerakan Pangan Murah


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Pemkab Kudus melalui Dinas Pertanian dan Pangan kembali menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) berkala, yang dilaksanakan setiap minggu kedua setiap bulannya. Kegiatan ini bentuk komitmen menjaga daya beli masyarakat, dan menekan angka inflasi daerah.

Namun, kali ini ada yang berbeda pada pelaksanaan sebelumnya. Pemkab Kudus secara resmi menggandeng para mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kudus, untuk melakukan riset mengenai efektivitas program tersebut.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas keterlibatan sektor akademisi, dalam mengawal program kerakyatan ini. Menurutnya, gerakan ini diprioritaskan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat kurang mampu, khususnya Keluarga Penerima Manfaat (KPM), agar tetap bisa menjangkau bahan pangan pokok di tengah fluktuasi ekonomi.

‘’Gerakan pangan murah ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga, menekan inflasi di Kabupaten Kudus, serta membantu masyarakat tidak mampu. Kebutuhan sehari-hari masyarakat memang perlu dukungan dan intervensi langsung dari pemerintah,’’ ujar Sam’ani, disela-sela meninjau pelaksanaan GPM di halaman Kantor Dispertan Pangan Kudus, Jumat (10/7) pagi.


Baca juga:  214 Pelajar Kudus Berebut Juara Popda Karate 2024

Sam’ani menambahkan, bahwa dampak dari dinamika ekonomi global, nasional, hingga regional sangat dirasakan oleh masyarakat. Salah satunya dipicu oleh penyesuaian harga bahan bakam minyak (BBM) yang memengaruhi harga pasar.

‘’Untuk mengendalikan inflasi, tiga pilar utama harus dijaga yaitu kepastian pasokan, ketersediaan barang di pasar dengan baik, serta menjaga daya beli masyarakat,’’ tandasnya.

Dalam pantauannya, komoditas yang paling diserbu warga adalah beras sesuai harga Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog, minyak goreng, gas LPG standar, hingga gula pasir. Harga komoditas di GPM ini dipastikan berada di bawah harga pasar, seperti gula pasir yang dijual Rp16.000 per kilogram dari harga normal Rp17.500.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Didik Tri Prasetiyo, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan mahasiswa UIN ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak sosial-ekonomi dari program GPM secara ilmiah.

Baca juga:  Pemkab Kudus Maraton Validasi Data Kinerja Program Strategis

‘’Riset mini ini menyasar para pembeli dengan menyebar kuesioner berisi 15 pertanyaan seputar pembelian bahan pokok seperti gas, minyak goreng, gula, dan beras. Output yang ingin kita cari adalah seberapa efektif dan seberapa besar pengaruh gerakan ini terhadap masyarakat,’’ jelas Didik.

Riset perdana ini rencananya akan berjalan secara berkelanjutan sebanyak dua hingga tiga kali pelaksanaan GPM, hingga data yang dibutuhkan benar-benar valid. Tidak hanya di satu lokasi, survei juga akan diperluas ke pasar-pasar tradisional untuk melihat reaksi pasar secara riil, termasuk mengukur dampaknya terhadap aspek ekonomi, sosial, hingga ketenagakerjaan masyarakat.

‘’Ke depan, juga akan dibuka peluang untuk memindahkan atau mendekatkan lokasi GPM ke wilayah kecamatan lain, agar dampak intervensi harga ini bisa langsung dirasakan lebih luas oleh masyarakat,’’ tutupnya. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...