Romantisme di Balik Program Pohon Cinta Kemenag Kabupaten Semarang


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Selasa (14/7/2026) pagi itu, cangkul di tangan Subakir (60) diayun membedah tanah dengan penuh semangat. Bukan untuk membuat pondasi rumah. Bukan pula untuk menggali sumur. Ia sedang menanam “masa depan” dengan sebatang bibit durian di halaman MTs Tahfidzul Quran, Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.

Di sampingnya berdiri Nuriyah (44), calon istrinya. Senyum malu-malu sesekali terlempar. Sesekali Subakir melirik, lalu menimbun akar pohon itu dengan tanah.

“Ini pohon cinta saya,” kata Subakir, napasnya masih terengah setelah mencangkul.

“Saya tanam durian sebagai perlambang cinta yang berharga bersama calon istri saya. Biar sama-sama tumbuh, sama-sama berbuah nanti,” sambungnya.


Momen sederhana itu adalah prosesi tidak asing dari sebuah pernikahan di Kabupaten Semarang. Subakir adalah satu dari 10 pasangan calon pengantin yang ikut launching program “Pohon Cinta” yang digagas Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Semarang.

Program yang sangat unik, setiap calon pengantin yang menikah di KUA, wajib menyerahkan satu bibit pohon penghijauan. Bisa dititipkan ke petugas KUA untuk ditanamkan. Bisa juga ditanam sendiri seperti yang dilakukan Subakir, lalu mengirim foto atau videonya sebagai syarat administrasi nikah.

Baca juga:  Literasi Permainan Tradisional Multikultural pada SD Kuncup Melati Kota Semarang

“Kami tidak merasa terbebani. Malah bangga. Nanti kalau pohon ini besar dan berbuah, anak cucu kami yang petik,” pungkas Subakir.

Kepala Kantor (Kakan) Kemenag Kabupaten Semarang, H. Ta’yinul Birri Bagus Nugroho, menyebut ide menelurkan “Pohon Cinta” ini bukan gagasan baru.

“Ini duplikasi dari kearifan para sesepuh dulu. Dulu orang mau nikah itu tanam pohon kelapa dulu, ‘cikal’. Nah sekarang kita modernkan jadi ‘Pohon Cinta’,” jelasnya.

Lebih dari itu, program ini adalah wujud nyata dari ecotheology, program prioritas Kemenag yang memadukan ajaran agama dengan pelestarian lingkungan.

“Menjaga bumi adalah bagian dari menjaga ciptaan Tuhan. Pernikahan itu tentang menumbuhkan. Maka kami ajak pasangan baru untuk benar-benar menumbuhkan sesuatu,” kata Ta’yinul.

Sejak diluncurkan tahun lalu, “Pohon Cinta” sudah menelurkan hasil nyata. Tidak kurang dari 6.600 batang bibit sudah tertanam di berbagai sudut Kabupaten Semarang.

Jenis bibit pohon yang ditanam beragam, ada alpukat, kelengkeng, durian, mangga, jeruk, sawo, dan lainnya.

“Kami imbau para Catin (Calon Penganti, red) membeli bibit dari petani setempat. Jadi selain menghijaukan, kita juga menggerakkan ekonomi lokal. Cintanya ke pasangan, cintanya juga ke petani,” pesan Ta’yinul.

Baca juga:  Perang Sarung Saat Sahur, Pemuda di Semarang Kena Sabetan Celurit
POHON CINTA: Sepasang calon pengantin muda menyerahkan bibit pohon buah diterima Wabup Semarang Hj Nur Arifah disaksikan Kakan Kemenag Kabupaten Semarang, H. Ta’yinul Birri Bagus Nugroho, dan anggota Komisi B DPRD H Sjaichul Hadi (kiri). FOTO:IST/JATENGPOS

Ajakan itu diamini Wakil Bupati (Wabup) Semarang, Hj. Nur Arifah, yang hadir mewakili Bupati H. Ngesti Nugraha. Turut hadir anggota Komisi B DPRD Kabupaten Semarang H Sjaichul Hadi.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa menjaga kelestarian adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya pemerintah.

“Menanam ‘Pohon Cinta’ ini mengajarkan nilai agama yang paling dasar: menjaga kelestarian ciptaan-Nya. Inilah yang disebut ecotheology,” pungkasnya.

Acara penanaman berlangsung khidmat dengan penuh kehangatan. Para calon pengantin lain juga kompak membawa bibit masing-masing. Ada yang bawa mangga, ada yang bawa jambu.

Bagi Subakir dan Nuriyah juga pasangan Catin lainnya, pohon durian yang mereka tanam hari ini bukan sekadar simbol. Ia adalah saksi. Saksi bahwa cinta mereka dimulai bukan hanya dengan janji di pelaminan, tapi juga dengan keringat di tanah.

Beberapa tahun dari sekarang, saat pohon itu sudah tinggi dan mulai berbuah, mungkin Subakir akan mengajak anak-anaknya berteduh di bawahnya.

“Ini lho, dulu waktu bapak sama ibu mau nikah, kita tanam pohon ini bersama-sama. Dan di situlah letak indahnya “Pohon Cinta” ia menikahkan dua manusia, sekaligus menikahkan manusia dengan alam,” pungkas Mas Kakan –panggilan akrab Ta’yinul—. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...

Menipu Tesla

Ganti Foto dan Kenalkan Presiden Baru

Vaksin Berpikir Simple