Label ‘Kampung Sosial’ Bikin SD 5 Hadipolo Kekurangan Murid


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 menjadi potret buram bagi SD 5 Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Menyusul adanya label ‘’Sekolah Anak Kampung Sosial’’. Tahun ini, tercatat hanya mendapatkan tiga orang murid baru.

Plt Kepala SD 5 Hadipolo, Solichul Hadi mengungkapkan, sebenarnya ada lima calon murid yang mendaftar. Namun, dua anak terganjal masalah administrasi karena tidak memiliki akta kelahiran.

‘’Kita sudah mau bantu uruskan pembuatan akta, tapi orang tuanya tidak bergerak,’’ ungkap Hadi, Selasa (14/7).

Hadi blak-blakan menyebut sentimen negatif masyarakat terhadap keberadaan anak-anak dari “kampung sosial” menjadi pemicu utama. Kondisi ini membuat warga sekitar enggan menyekolahkan anak mereka di sana, meski pihak sekolah sudah gencar melakukan promosi.


‘’Kami sudah door to door mendatangi warga. Tapi karena stigma sekolah kampung sosial, masyarakat tetap tidak berminat. Mayoritas murid di sini akhirnya memang anak-anak dari kompleks tersebut,’’ terangnya.

Baca juga:  Perpusling Bakal Sasar Tempat Wisata di Kudus

Saat ini, total murid di SD 5 Hadipolo hanya tersisa 29 anak. Rinciannya, kelas 1 dan 2 masing-masing 3 murid, kelas 3 ada 5 murid, kelas 4 dan 5 masing-masing 7 murid, serta kelas 6 hanya 4 murid.

Merujuk data sekolah, penurunan drastis jumlah siswa mulai terasa signifikan sejak tahun 2023 atau pascapandemi Covid-19. Sistem pembelajaran daring dinilai membuat anak-anak terlena dan malas untuk kembali ke sekolah formal.

‘’Kelamaan di rumah bikin malas sekolah. Apalagi anak-anak di sini, setelah pulang sekolah langsung disuruh bekerja. Ada yang mengamen, jual rujak, hingga meminta-minta,’’ beber Hadi.

Sementara itu, cobaan sekolah ini tidak berhenti pada minimnya siswa. SD 5 Hadipolo juga didera krisis tenaga pendidik. Saat ini, kegiatan belajar mengajar (KBM) hanya ditopang oleh enam guru. Formasinya terdiri atas dua guru PPPK penuh waktu, tiga guru PPPK paruh waktu, dan satu guru GTT.

Baca juga:  Realisasi Pendapatan Pariwisata Kudus Baru Capai 47,34 Persen

‘’Kekurangan guru membuat beberapa pengajar terpaksa merapel kelas,’’ tandasnya.

Tantangan di ruang kelas pun tergolong berat. Hadi menceritakan, pihak orang tua siswa seringkali mendesak agar jam pelajaran disudahi tepat pukul 12.00 WIB. Jika pulangnya terlambat, orang tua murid akan melayangkan protes.

Hal ini terjadi karena anak-anak tersebut sudah ditunggu oleh angkutan khusus. Angkutan itu bertugas menjemput dan mengantar mereka ke jalanan untuk mengamen atau berjualan.

‘’Kadang ada anak yang sampai mengantuk di dalam kelas. Kalau ditanya, mereka mengaku capek karena habis jualan atau mengamen di jalan sampai larut,’’ ungkapnya. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...