Penglipuran Bali, Menjaga Rumah, Menyambut Dunia

*Pariwisata Berkelanjutan Tumbuh dari Kearifan Lokal yang Terus Dijaga


 

UDARA sejuk khas dataran tinggi Bangli menyambut setiap langkah yang memasuki Desa Wisata Penglipuran. Jalan desa membentang lurus di antara deretan pekarangan yang tertata rapi.

 

Pohon kamboja berbunga menghiasi halaman, sementara hutan bambu yang mengelilingi desa menghadirkan kesejukan sekaligus menjadi benteng alami yang telah dijaga turun-temurun. Aroma sesajen dari pelinggih keluarga sesekali tercium, berpadu dengan suara burung, kokok ayam, dan sapaan ramah warga yang mengenakan busana adat Bali.


 

Di desa ini, kehidupan berjalan dalam irama yang tenang, seolah mengajak setiap tamu menikmati wajah asli pedesaan Bali. Pemandangan itu membuat Penglipuran menjadi salah satu desa yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Pulau Dewata. Namun, bagi masyarakat setempat, desa ini tetaplah rumah yang harus dijaga, bukan semata destinasi wisata.

 

Kepala Pengelolaan Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa mengatakan, sejak awal masyarakat hanya memiliki satu komitmen, yakni melestarikan adat istiadat, budaya, dan lingkungan yang diwariskan leluhur.

 

“Sejak awal kami memiliki komitmen untuk menjaga dan melestarikan adat istiadat, budaya, serta lingkungan yang kami miliki. Berbekal komitmen itu masyarakat terus konsisten merawat desa. Pariwisata yang kami nikmati sekarang hanyalah bonus karena sejak dulu Penglipuran tidak pernah dibangun dengan konsep menjadi desa wisata. Ini adalah rumah kami, tempat kami lahir, tumbuh, dan menjalani kehidupan sehari-hari,” katanya, saat ditemui Jateng Pos di Desa Wisata Penglipuran, Bali, Rabu (29/7/2026), dalam rangkaian Media Gathering Bank Indonesia Jawa Tengah.

 

Menurut Sumiarsa, konsistensi tersebut akhirnya menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Bangli. Pada 1993, Penglipuran ditetapkan sebagai salah satu objek wisata di Bali. Saat itu sebagian besar pengunjung merupakan wisatawan mancanegara yang ingin melihat langsung kehidupan masyarakat Bali yang masih memegang teguh tradisi.

– I WAYAN SUMIARSA- Kepala Pengelolaan Desa Wisata Penglipuran. FOTO : ANING KARINDRA/JATENG POS

“Kami tidak pernah bermimpi menjadi destinasi wisata. Wisatawan datang karena ingin melihat budaya yang kami miliki, kehidupan masyarakat, dan lingkungan yang tetap terjaga. Itu semua terjadi di luar ekspektasi kami,” ujarnya.

Baca juga:  PLN UP3 Magelang Siap Amankan Keandalan Listrik

 

Dorongan pemerintah untuk mengikuti berbagai lomba kebersihan, lingkungan, dan desa wisata semakin memantapkan keyakinan masyarakat bahwa menjaga budaya dan alam dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan warga.

 

Namun, menurut Sumiarsa, pola pikir masyarakat tidak pernah berubah. Kebersihan desa bukan dilakukan demi menyenangkan wisatawan, melainkan karena warga ingin tempat tinggal mereka tetap nyaman.

 

“Kami bersih bukan karena pariwisata. Kami bersih karena ingin tempat tinggal kami bersih, indah, dan nyaman untuk dihuni. Kalaupun suatu hari Penglipuran tidak lagi menjadi destinasi wisata, kami tetap akan menjaga semuanya karena ini rumah kami,” tegasnya.

 

Saat ini, Penglipuran dihuni sekitar 285 kepala keluarga atau lebih dari 1.200 jiwa. Meski jumlah penduduk terus bertambah, kawasan inti desa tetap mempertahankan sekitar 76 pekarangan tradisional. Dalam satu pekarangan bahkan dapat dihuni beberapa keluarga sehingga karakter desa tetap terjaga.

 

Dalam mengelola pariwisata, Penglipuran juga menerapkan prinsip keberlanjutan. Jumlah kunjungan ideal dibatasi sekitar 2.000 hingga 2.500 wisatawan per hari. Saat musim liburan jumlahnya memang dapat mencapai sekitar 3.000 orang, namun angka tersebut dinilai sudah melampaui daya dukung lingkungan.

 

“Kami pernah merasakan ketika kunjungan wisatawan sangat tinggi. Ekonomi memang meningkat, tetapi lingkungan juga mulai tertekan. Karena itu sekarang kami lebih memilih menjaga keseimbangan agar desa tetap lestari,” jelasnya.

 

Wisatawan Nusantara dikenai tiket masuk Rp25.000 untuk dewasa dan Rp15.000 bagi anak-anak, sedangkan wisatawan mancanegara masing-masing Rp50.000 dan Rp30.000. Seluruh pendapatan tiket terlebih dahulu disetorkan kepada pemerintah daerah, kemudian 60 persen dikembalikan kepada pengelola desa untuk operasional dan pelestarian.

 

Dana tersebut digunakan untuk menjaga kebersihan desa, merawat kawasan adat, memberikan subsidi perbaikan bangunan tradisional, mendukung pendidikan, bantuan kebencanaan, hingga berbagai program sosial bagi masyarakat.

Baca juga:  SIG dan BRIN Kerja Sama Bidang Riset

 

Ke depan, Penglipuran juga akan memperkuat layanan pembayaran digital melalui kerja sama dengan Bank Indonesia. Pada 7 Agustus mendatang, Bank Indonesia akan menyosialisasikan implementasi QRIS Cross Border di Penglipuran. Layanan tersebut diharapkan memudahkan wisatawan mancanegara bertransaksi menggunakan aplikasi pembayaran dari negara asalnya sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi dan pariwisata digital di desa wisata tersebut.

 

“Setiap wisatawan yang datang sebenarnya ikut membantu menjaga Penglipuran. Apa yang mereka bayarkan kami investasikan kembali untuk melestarikan adat, budaya, rumah-rumah tradisional, dan lingkungan desa. Jadi pariwisata yang kami bangun bukan hanya bersama masyarakat, tetapi juga bersama para wisatawan,” pungkasnya.

 

Komitmen menjaga keaslian desa itulah yang kemudian dirasakan langsung oleh para pengunjung. Di sepanjang jalan desa, wisatawan tampak berjalan santai menikmati suasana, berbincang dengan warga, hingga mengabadikan setiap sudut desa yang berlatar perbukitan dan rimbunnya hutan bambu.

 

Markus Schneider, wisatawan asal Australia mengaku, sengaja datang ke Penglipuran karena penasaran dengan reputasinya sebagai salah satu desa terbersih di dunia.

 

“Desanya sangat tenang, bersih, dan masyarakatnya ramah. Saya berharap keaslian seperti ini tetap dipertahankan,” katanya, dalam bahasa Inggris.

 

Kesan serupa disampaikan Rina Pratiwi, wisatawan asal Jakarta, yang datang bersama keluarganya.

 

“Di sini anak-anak bisa belajar langsung tentang budaya Bali sekaligus pentingnya menjaga lingkungan. Semoga desa ini tetap asli seperti sekarang,” ujarnya.

 

Di Penglipuran, pariwisata bukanlah tujuan akhir. Ia lahir dari ketulusan masyarakat menjaga rumah, merawat budaya, dan menghormati alam. Kini, di tengah upaya mempertahankan tradisi, desa ini juga mulai beradaptasi dengan inovasi digital melalui kolaborasi bersama Bank Indonesia. Dari sebuah desa yang dipeluk rimbunnya hutan bambu, Penglipuran membuktikan bahwa kearifan lokal dan kemajuan zaman dapat berjalan berdampingan.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...