Listrik PLN Tingkatkan Produktivitas Pertanian di Bekasi, Petani Kini Panen Tiga Kali Setahun


JATENGPOS.CO.ID, BEKASI-  Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Electrifying Agriculture yang dijalankan PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) melalui Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Bekasi berhasil meningkatkan produktivitas pertanian di Desa Cicau, Kabupaten Bekasi. Pemanfaatan listrik untuk sistem irigasi membuat Kelompok Tani Berkah Sakabeh mampu meningkatkan intensitas tanam dari dua menjadi tiga kali panen dalam setahun.

Manager PLN UPT Bekasi, Indra Kurniawan mengatakan, program Electrifying Agriculture menjadi bentuk perluasan manfaat listrik bagi sektor produktif, khususnya pertanian. Menurutnya, pemanfaatan energi listrik mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, sekaligus memperkuat pendapatan petani.

Desa Cicau yang berada di sekitar jalur transmisi SUTET 500 kV Cibatu-Deltamas selama ini menghadapi kendala pasokan air saat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat petani hanya mampu menanam dua kali dalam setahun dengan biaya operasional tinggi akibat penggunaan pompa berbahan bakar minyak (BBM).

“Electrifying Agriculture merupakan salah satu upaya PLN untuk memperluas manfaat listrik bagi sektor produktif. Ketika akses energi mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan memperkuat pendapatan petani, maka listrik menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.


Baca juga:  Polytron Jadi Merek Motor Listrik Favorit Gen Z 2026

Untuk mengatasi persoalan tersebut, PLN menghadirkan sambungan listrik baru berkapasitas 10.600 VA yang terintegrasi dengan pompa air irigasi dan instalasi kelistrikan. Program ini juga dilengkapi dua unit traktor listrik, mesin perontok padi listrik, mesin pemotong rumput listrik, pembangunan saung petani, penyediaan bibit padi dan cabai, serta pelatihan pengolahan hasil panen dan pemasaran produk.

“Kami berharap model ini dapat direplikasi di lebih banyak wilayah yang memiliki potensi pengembangan pertanian,” tambahnya.

Program tersebut mulai memberikan dampak nyata bagi petani. Biaya produksi turun sekitar Rp36,36 juta per tahun karena penghematan BBM, sedangkan ketersediaan air sepanjang tahun membuat intensitas tanam meningkat menjadi tiga kali panen.

Pemanfaatan peralatan berbasis listrik juga mempercepat proses pengolahan lahan hingga pascapanen. Selain itu, konsumsi listrik mencapai 11.994 kWh per tahun dan berkontribusi meningkatkan penjualan tenaga listrik PLN sekitar Rp4,78 juta per tahun.

Petani sekaligus Local Hero Kelompok Tani Berkah Sakabeh,.Masum mengatakan, perubahan paling terasa adalah tersedianya air sepanjang tahun sehingga petani tidak lagi bergantung pada musim. Menurutnya, penggunaan listrik membuat kegiatan bertani menjadi lebih efisien.

“Dulu kami harus membeli BBM untuk menjalankan pompa air dan tetap bergantung pada musim. Sekarang air tersedia kapan saja karena menggunakan listrik. Biaya operasional jauh lebih hemat, pekerjaan lebih cepat, dan kami bisa menanam tiga kali dalam setahun,” ujarnya.

Baca juga:  Didampingi Rumah BUMN SIG, Ummi Salamah Sukses Jual Jamu ‘Akar Jawi’ Hingga ke Mancanegara

Masum menambahkan, produktivitas lahan meningkat hingga 50 persen dengan pendapatan rata-rata petani bertambah sekitar Rp12 juta setiap tahun. Efisiensi penggunaan energi juga mengurangi konsumsi BBM sekitar 2.560 liter per tahun sehingga mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

“Perubahan ini sangat membantu kami dalam mengembangkan usaha tani,” tukasnya.

Program Electrifying Agriculture juga mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional melalui modernisasi sektor pertanian. Pemanfaatan energi listrik diharapkan meningkatkan efisiensi usaha tani, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta memperkuat daya saing petani di tengah perubahan iklim.

Sejak 2025 hingga 2026, PLN UIT Jawa Bagian Tengah telah menjalankan empat Program Electrifying Agriculture, terdiri atas dua program pada 2025 dan dua program pada 2026. Program tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya TPB 2 Tanpa Kelaparan, TPB 7 Energi Bersih dan Terjangkau, TPB 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta TPB 13 Penanganan Perubahan Iklim.(aln)


TERKINI


Rekomendasi

...