JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA- Pemerintah bersama pelaku industri, akademisi dan komunitas keamanan siber memperkuat kolaborasi untuk menghadapi potensi ancaman keamanan di era komputasi kuantum. Kemenko Polkam, BSSN dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mendorong penyusunan peta jalan nasional sebagai langkah awal menuju ekosistem digital yang lebih tangguh.
Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi dan Informasi Kemenko Polkam Marsda TNI, Eko Dono Indarto mengatakan, kesiapan menghadapi era komputasi kuantum harus menjadi agenda strategis nasional. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Urgensi Penyusunan Kebijakan Menghadapi Post-Quantum Computing (PQC) pada Kamis (6/8).
“Soal Post-Quantum Cryptography, dunia bergerak jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Kita harus mengejar dan membuat lompatan,” ujar Eko.
Menurutnya, persiapan menghadapi era pasca-kuantum tidak lagi dapat dilakukan secara sektoral. Pemerintah, industri, akademisi dan komunitas perlu membangun kolaborasi erat agar Indonesia memiliki kesiapan menghadapi perubahan lanskap keamanan siber di masa mendatang.
Forum tersebut merumuskan sejumlah langkah prioritas, antara lain penyusunan Peta Jalan Nasional Migrasi Post-Quantum Cryptography, penentuan prioritas perlindungan data dengan tingkat kerahasiaan tinggi serta penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Selain itu, muncul usulan pembentukan National Quantum Center sebagai pusat kolaborasi nasional dalam riset, standardisasi, pengembangan talenta dan implementasi teknologi kuantum. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kapasitas nasional menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Deputi Bidang Strategi dan Kebijakan Keamanan Siber dan Sandi BSSN Marsda TNI R. Tjahjo Kurniawan menjelaskan, keamanan siber merupakan fondasi utama keberhasilan transformasi digital. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu meningkatkan kesadaran terhadap risiko quantum attack dan mempersiapkan migrasi kriptografi secara bertahap serta terukur.
BSSN juga telah membentuk Gugus Tugas Nasional Penyiapan Migrasi Post-Quantum Cryptography. Gugus tugas tersebut ditujukan untuk mendukung penyusunan peta jalan nasional sekaligus mempercepat kesiapan Indonesia menuju ekosistem digital yang lebih tangguh.
Dari sisi industri, Telkom menegaskan komitmennya menjadi mitra strategis pemerintah dalam menghadapi era komputasi kuantum. Melalui Telkom University, sejumlah riset terkait PQC mulai dikembangkan, termasuk penelitian quantum error correction dan pengembangan talenta digital.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan, tantangan komputasi kuantum tidak dapat dijawab hanya melalui adopsi teknologi. Penguatan kapabilitas nasional secara menyeluruh juga diperlukan untuk memastikan ketahanan digital Indonesia.
“Era komputasi kuantum akan mengubah paradigma keamanan digital secara fundamental. Karena itu, yang perlu dibangun bukan hanya kesiapan teknologi, tetapi juga kapabilitas nasional,” kata Seno.
Telkom saat ini juga melakukan kajian menuju quantum-safe era melalui pengembangan quantum-safe network dan quantum-safe data center. Sementara itu, Chairman CISSReC Dr. Pratama Persadha mendorong organisasi mulai melakukan inventarisasi aset digital dan mengidentifikasi data kritis sejak dini.
Menurut Pratama, Indonesia tidak perlu menunggu sampai komputer kuantum mampu memecahkan sistem kriptografi yang digunakan saat ini. Persiapan migrasi menuju sistem keamanan yang tahan terhadap ancaman kuantum dapat dilakukan secara bertahap tanpa harus mengganti seluruh infrastruktur teknologi yang telah tersedia.
Rapat koordinasi tersebut menjadi langkah awal memperkuat sinergi nasional dalam menyusun kebijakan, membangun kapasitas dan mempercepat kesiapan menghadapi era komputasi kuantum. Kolaborasi pemerintah, industri, akademisi dan komunitas diharapkan tidak hanya mampu mengantisipasi ancaman siber, tetapi juga memanfaatkan teknologi kuantum untuk memperkuat daya saing dan kedaulatan digital Indonesia.(aln)





