JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG – Selama bertahun-tahun masuk kategori kemiskinan ekstrem, Desa Kepyar, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, kini didorong menjadi desa mandiri melalui kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggandeng pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga berbagai lembaga untuk mengembangkan sumber daya manusia dan mengoptimalkan potensi lokal desa.
Kepala Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI), Dr. Muhammad Taufiq, DEA, mengapresiasi langkah tersebut, saat menghadiri stan BPSDMD Provinsi Jawa Tengah dalam kegiatan di lingkungan Pemprov Jateng, Kamis (20/8/2026).
Stan tersebut diresmikan melalui pemotongan pita oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, didampingi Kepala BPSDMD Jateng, Dr Uswatun Hasanah, sejumlah jajaran pemerintahan, serta kepala desa dan camat dari Desa Kepyar.
“Kami memberikan apresiasi yang luar biasa karena Desa Kepyar ini sebagai sebuah contoh konkret bagaimana budaya Jawa Tengah bisa memecahkan masalah pembangunan, yaitu dengan cara bergotong royong dan melibatkan semua stakeholder,” kata Taufiq.
Ia menilai penanganan kemiskinan tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Aparatur sipil negara (ASN), menurutnya, harus mampu menjadi penggerak pembangunan dengan merangkul seluruh komponen.
Persoalan kemiskinan telah menjadi program prioritas pemerintah selama puluhan tahun. Namun, pendekatan yang dilakukan di Kepyar dinilai memiliki pembeda karena mengedepankan inovasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Gotong royong ini kemudian mendorong adanya inovasi. Inovasi untuk percepatan pemberdayaan kemiskinan,” katanya.
Ia berharap model yang dikembangkan di Desa Kepyar dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Jawa Tengah maupun wilayah lain di Indonesia.
Sementara itu, Kepala BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, Dr. Uswatun Hasanah, mengatakan program tersebut merupakan bentuk nyata konsep “super tim” yang selama ini didorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
“Substansinya hari ini adalah representasi dari apa yang sering disampaikan Pak Gubernur bahwa kita itu super tim. Tidak ada Superman, tapi ini super tim,” kata Uswatun.
Program tersebut merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui BPSDMD dan sejumlah OPD dengan Pemerintah Kabupaten Wonogiri serta perguruan tinggi. Masing-masing pihak telah dipetakan untuk menjalankan peran sesuai kompetensinya.
Dijelaskan, Desa Kepyar dipilih karena memiliki persoalan kemiskinan yang cukup sulit ditangani. Pola intervensi berupa bantuan logistik selama ini dinilai belum mampu memutus siklus kemiskinan.
“Selama ini yang terjadi kita intervensi secara logistik terus sampai zonanya hijau. Tetapi apa yang terjadi setelah itu? Kembali lagi miskin ekstrem. Dan itu yang terjadi di Desa Kepyar,” ujarnya.
Kondisi tersebut telah berlangsung sejak 2012. Karena itu, pemerintah memilih membangun jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk melakukan intervensi secara lebih komprehensif.
Perguruan tinggi dilibatkan melalui program pengabdian kepada masyarakat sekaligus menjadikan desa sebagai laboratorium pengembangan keilmuan. Sementara BPSDMD berfokus pada penguatan sumber daya manusia, termasuk pemberdayaan ASN di wilayah tersebut.
“Prosesnya sangat panjang, tetapi sebenarnya ini adalah ruang yang sama-sama ditunggu untuk berkolaborasi,” tandasnya.
Ia berharap Desa Kepyar nantinya dapat menjadi pilot project inovasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam penanganan kemiskinan yang dapat direplikasi di daerah lain.
“Kepyar berkelas. Artinya, dari Desa Kepyar dengan kemiskinan ekstrem harapannya dia akan naik kelas di tingkat nasional. Ini akan menjadi branding pilot project untuk inovasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” pungkas Uswatun.
Kepala Desa Kepyar, Mei Rina Tri Purnawati, mengatakan desanya sebenarnya memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.
Selain memiliki sejumlah potensi wisata alam, Desa Kepyar juga mempunyai pelaku UMKM yang cukup banyak. Namun, selama ini masyarakat masih menghadapi kendala dalam mengelola dan memasarkan potensi tersebut.
“Kondisi sebelumnya di Desa Kepyar itu masuk salah satu kategori desa kemiskinan ekstrem se-Kabupaten Wonogiri. Jadi penerima bantuan paling banyak. Tetapi potensi alamnya juga banyak,” kata Meirina.
Ia menyebut sedikitnya terdapat empat potensi wisata yang belum dikelola secara maksimal, yakni Watu Lumbung, Kayu Terjeranginan, pendakian Gunung Jumbri, dan kawasan agrowisata.
“Potensi wisata alamnya ada empat titik yang belum dikelola sama pemerintah dan ada SDM-SDM yang potensinya perlu digali,” ujarnya.
Selain wisata, pengembangan UMKM juga menjadi salah satu fokus. Menurut Meirina, persoalan utama yang dihadapi pelaku usaha bukan minimnya produk, melainkan keterbatasan dalam pemasaran.
Melalui pelatihan serta pendampingan dari sejumlah OPD, pemerintah desa berharap masyarakat penerima bantuan dapat memiliki keterampilan dan usaha sehingga mampu meningkatkan pendapatan secara mandiri.
“Harapannya nanti penerima bansos itu mandiri, punya usaha dan ekonominya meningkat sehingga bisa menyelesaikan masalah ekonomi dan berhenti menjadi penerima bantuan sosial,” tutup Meirina. (ucl).





