Behind the Stage: Perjalanan Projek-D Menggerakkan Industri Musik Indonesia


JATENGPOS.CO.ID, SOLO — Gemerlap lampu panggung, dentuman bass yang menggetarkan dada, hingga ribuan penonton yang bernyanyi bersama di De Tjolomadoe, Karanganyar, hanyalah puncak dari sebuah gunung es. Di balik kemegahan festival musik tahunan Projek-D, terdapat ekosistem pekerja kreatif yang bekerja keras merajut panggung, kurasi talenta, hingga menggerakkan rantai ekonomi lokal di Solo Raya.

Sejak diinisiasi oleh Dyandra Promosindo, Projek-D tidak pernah dirancang sekadar sebagai festival hiburan komersial semata. Lebih dari itu, ajang ini menjelma menjadi laboratorium industri pertunjukan yang merekam dinamika dan evolusi ekosistem musik regional dari tahun ke tahun.

Sejak penampilan perdana Projek-D vol. 1 selalu menghadirkan sajian musik yang spesial yang dihasilkan oleh puluhan pekerja seni yang bergabung. Mulai dari tata panggung, lighting, sound, konsep acara hingga atmosfer penonton yang memberikan pengalaman berbeda. Berikut kilas balik perjalanan Projek-D mulai dari vol. 1 hingga menuju Projek-D vol. 5 yang siap berlangsung September 2026.

Projek-D Vol.1 (2022): Langkah Awal dan Panggung Multi-Genre
Fondasi Projek-D resmi diletakkan pada perhelatan debutnya pada 29–30 Oktober 2022 di De Tjolomadoe. Edisi perdana ini langsung mencatatkan sukses besar dengan menyedot lebih dari 11.000 pengunjung selama dua hari penyelenggaraan.

Menghadirkan konsep dua panggung unik—Panggung Maduswara di area outdoor dan Panggung Wirama di area indoor—Projek-D Vol.1 menyajikan 22 musisi dari tingkat lokal hingga nasional. Hari pertama dimeriahkan oleh kolaborasi spesial Bilal Indrajaya x Ade Paloh, OKAAY, Vierratale, Pamungkas, hingga Ndarboy Genk. Kemeriahan berlanjut di hari kedua bersama Ardhito Pramono, Reality Club, Soegi Bornean, The Sailors, Soloensis, Mawang, Ikkubaru, hingga Black Horses. Volume perdana ini menandai lahirnya ruang perjumpaan baru bagi penikmat musik lintas genre di Jawa Tengah.

Projek-D Vol.2 (2023): Inovasi Lintas Ekosistem dan Tema “Pop of Circus”
Melanjutkan kesuksesan edisi perdana, Projek-D Vol.2 kembali mengguncang De Tjolomadoe pada 5–6 Agustus 2023. Mengusung tema visual “Pop of Circus” dengan slogan #SehidupSeparty, edisi ini berhasil menarik sekitar 13.000 penonton.

Pada volume kedua ini, penyelenggara melakukan gebrakan inovatif dengan memadukan pertunjukan musik lintas genre bersama pameran otomotif kendaraan listrik roda dua (IIMS Motobike Show & Music). Lewat dua panggung utama, Maduswara Stage dan Wirama Stage, Projek-D Vol.2 menghadirkan sajian musik yang kian meluas—mulai dari pop, rock, folk, dangdut, jazz, hingga ska.

Baca juga:  Komisi B DPRD Jateng Ingatkan Pentingnya Perencanaan untuk Ketersediaan Pangan

Hari pertama dipanaskan oleh aksi panggung For Revenge, Skastra, Nidji, Down For Life, JKT48, Parade Hujan, NDX AKA, Olski, Kuburan, hingga pertunjukan energik Prontaxan, yang disusul deretan musisi lintas daerah di hari kedua. Kolaborasi pertunjukan musik dan pameran otomotif ini membuktikan bahwa panggung festival mampu menjadi wadah pertemuan lintas industri kreatif.

Projek-D Vol.3 (2024): Meletakkan Pondasi Kolaborasi Lintas Komunitas
Setelah terus berkembang, perjalanan Projek-D kian kokoh pada perhelatan Vol.3 yang digelar pada 7–8 September 2024. Mengusung tema Sehidup Separty, festival ini menjadi ruang pembuktian bahwa pertunjukan skala besar tidak harus berpusat di ibu kota.

Project Director Projek-D, Rumpoko Adi, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pengalaman festival yang inklusif.

“Kami mengembangkan event festival musik Projek-D untuk semua kalangan agar siapapun tanpa ragu dapat bersenang-senang. Musik menjadi penghubung utama antara penggemar, artis, dan komunitas,” terangnya.

Project Manager Projek-D, Data Pratama, bersama tim merancang sajian lintas genre secara presisi. Panggung Vol.3 mempertemukan deretan musisi papan atas seperti Tulus, Nadin Amizah, Bilal Indrajaya, The Adams, Avhath, Donker, hingga penghormatan budaya lokal lewat kolaborasi Yan Vellia & Ndarboy Genk yang membawakan karya-karya almarhum Didi Kempot.

Inovasi behind the stage juga terlihat dari pelibatan komunitas lokal, seperti rilisan fisik piringan hitam Lokananta pada Spinning Session, pertunjukan komedi Guyonlah bersama Stand Up Indo Solo, hingga program After Party.

Projek-D Vol.4 (2025): Penguatan Wadah Inkubasi dan Apresiasi Karya Visual
Memasuki edisi Vol.4 pada 30–31 Agustus 2025, Projek-D memperluas dampaknya terhadap pemberdayaan musisi daerah. Di tengah kemeriahan penampil nasional seperti Bernadya, Nadin Amizah, .Feast, Hindia, Perunggu, Juicy Luicy, Lomba Sihir, hingga Down For Life, tim kerja Projek-D menghadirkan program kurasi CEKSON.

Wadah ini menjadi ajang pembuktian bagi musisi independen lokal. Band rock alternative/punk asal Solo, Malu2x, berhasil keluar sebagai pemenang CEKSON Projek-D Vol.4. Di balik layar, apresiasi yang diberikan tidak hanya sebatas jam tampil (slot time) di panggung utama bersama musisi papan atas, tetapi juga berupa bantuan pendanaan produksi video klip untuk memperluas jangkauan karya visual mereka.

Baca juga:  Gubernur Ahmad Luthfi Kebut Perbaikan Jalan di Jateng, Warga Senang dan Nyaman 

Langkah ini membuktikan peran penting festival sebagai inkubator industri: membantu band lokal bertransisi dari sekadar pengisi acara menjadi entitas profesional yang memiliki portofolio audio-visual yang matang.

Projek-D Vol.5 (2026): Menjawab “What’s Next for Music” dan Pertumbuhan Ekonomi
Menyongsong puncak gelaran Projek-D Vol.5 pada 5 September 2026 mendatang, jajaran pekerja kreatif di balik layar mengusung tema besar “What’s Next for Music”. Edisi kelima ini menegaskan kedewasaan festival dalam membangun fondasi ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Rangkaian diawali dengan program Kelas Musik x Dengar Kota—sebuah gerakan edukasi lintas kota di Pekalongan, Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Melalui wadah ini, pekerja industri, praktisi rekaman, dan musisi duduk bersama membedah strategi produksi album hingga manajemen karier.

Hasil kurasi CEKSON Vol.5 pun melahirkan grup rock and roll asal Surakarta, Mess in Balance, yang tidak hanya difasilitasi tampil di panggung utama tetapi juga didukung dalam pembuatan merchandise kolaborasi eksklusif.

“Lewat CEKSON kami memberikan kesempatan bagi talenta baru untuk memperluas jangkauan pendengar. Sementara melalui Kelas Musik x Dengar Kota, kami menghadirkan ruang diskusi praktis seputar proses kreatif hingga strategi bertahan di industri bagi musisi lokal,” papar Data Pratama, baru baru ini.

Tidak berhenti di situ, Projek-D Vol.5 juga memperluas ranah kerja kreatifnya dengan menghadirkan panggung khusus komedi GUYONLAAAH bersama Coki Anwar dan Stand Up Indo Solo, mendatangkan 14 penampil musik lintas genre (seperti .Feast, Hindia, FSTVLST, Nadhif Basalamah, hingga showcase set The Jeblogs), serta membuka kompetisi jurnalistik BATIK dan Suara Musik.

Refleksi Industri: Panggung Regional sebagai Motor Ekonomi
Evolusi Projek-D dari edisi Vol.1 hingga Vol.5 membuktikan bahwa festival musik di daerah bukan sekadar hiburan visual dan auditori. Di belakang panggung, festival ini menjadi mesin penggerak ekonomi yang memberikan multiplier effect bagi penyerapan tenaga kerja kreatif lokal, jasa sewa tata suara dan pencahayaan, sektor perhotelan, kuliner UMKM, hingga literasi media. Projek-D sukses mengukuhkan diri sebagai etalase kolaborasi yang menjaga nyala api industri pertunjukan musik Indonesia. (dea/bis)


TERKINI

Rekomendasi

...