JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi fase penting yang menjadi fondasi bagi tumbuh kembang anak. Pemenuhan nutrisi, kesehatan, serta perhatian terhadap kebutuhan fisik dan emosional anak menjadi hal yang perlu diperhatikan orang tua sejak awal.
Di tengah derasnya informasi mengenai pola asuh, orang tua juga dihadapkan pada berbagai mitos dan ekspektasi sosial terkait perkembangan anak. Kondisi tersebut terkadang membuat orang tua bingung menentukan langkah yang tepat dalam mendukung tumbuh kembang buah hati.
Menjawab tantangan tersebut, Morinaga menghadirkan Early Life Nutrition (ELN) 2026 bertajuk “Next Gen(re)parenting, Masa Depan Dimulai Sekarang”. Kegiatan ini menjadi wadah edukatif dan interaktif untuk membantu orang tua memahami kebutuhan anak pada tahap awal kehidupan.
Kegiatan digelar di Pandanaran Ballroom 3, Padma Hotel Semarang, Sabtu (5/9/2026), dengan mempertemukan para orang tua dan media bersama sejumlah pakar kesehatan. Berbagai informasi mengenai nutrisi, kesehatan anak, perkembangan otak hingga aspek psikologis dalam pengasuhan dibahas dalam kegiatan tersebut.
Momfluencer Patricia Gouw mengatakan, menjadi seorang ibu menghadirkan tantangan baru, terutama dalam membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Ia mengaku tetap berusaha menjalankan aktivitasnya, meski setelah memiliki anak kebutuhan dan prioritas dalam kehidupan mengalami perubahan.
“Dulu saya sangat aktif, sering keluar kota setiap minggu, menjadi presenter dan menghadiri berbagai kegiatan. Setelah menjadi ibu, tantangannya adalah bagaimana tetap bisa bekerja, tetapi kebutuhan dan nutrisi anak juga harus menjadi perhatian,” ujarnya.
Patricia menilai, pengalaman menjadi ibu membuatnya semakin memahami bahwa pengasuhan anak membutuhkan kesiapan sekaligus kemampuan beradaptasi. Menurutnya, dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam menjalani berbagai perubahan setelah memiliki anak.
Sementara itu, Dokter Anak dr. Hendra Wardhana, Sp.A membahas pentingnya orang tua memahami tahapan perkembangan anak dan tidak sekadar membandingkannya dengan anak lain. Evaluasi diperlukan ketika terdapat tanda-tanda perkembangan yang tidak sesuai dengan tahapan usia anak.
“Kalau pada usia tertentu perkembangan anak belum sesuai dengan yang diharapkan, perlu dilakukan evaluasi. Orang tua harus peka terhadap perkembangan anak dan tidak hanya melihat dari perbandingan dengan anak lainnya,” jelasnya.
Menurut Hendra, setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu memahami karakter dan kebutuhan anak, sekaligus memberikan stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Aspek psikologis orang tua juga menjadi perhatian dalam ELN 2026. Psikolog Indah Sundari Jayanti, S.Psi., M.Psi. mengingatkan orang tua agar tidak terbebani oleh ekspektasi sosial dalam melihat perkembangan anak.
“Boleh saja orang tua memiliki ekspektasi terhadap perkembangan anak, tetapi ekspektasi tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing anak. Jangan menjadikan perkembangan anak lain sebagai ukuran mutlak karena setiap anak memiliki proses yang berbeda,” katanya.
Indah juga mengajak orang tua untuk lebih peka terhadap kebutuhan emosional anak sekaligus menghindari kompetisi dalam pengasuhan. Menurutnya, perhatian dan penerimaan orang tua menjadi bagian penting agar anak dapat berkembang sesuai potensinya.
ELN 2026 turut menyoroti sejumlah aspek penting selama periode 1.000 HPK, mulai dari brain development, kesehatan saluran cerna atau gut health, pencegahan risiko alergi hingga pemenuhan nutrisi. Berbagai topik tersebut dikemas melalui sesi talkshow bertajuk “Fact or Feeling”.
Melalui sesi tersebut, peserta diajak membedah berbagai informasi seputar parenting dengan membandingkan fakta medis dan mitos yang berkembang di masyarakat. Pembahasan tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga tantangan emosional yang dihadapi orang tua dalam menjalani proses pengasuhan.
Melalui ELN 2026, Morinaga berharap orang tua memperoleh informasi yang lebih relevan dan berbasis pengetahuan dalam mendukung tumbuh kembang anak, khususnya selama periode krusial 1.000 HPK. Konsep Next Gen(re)parenting juga menjadi ajakan bagi orang tua untuk menghadapi tantangan pengasuhan generasi baru dengan lebih terbuka, kritis, dan memahami kebutuhan kesehatan serta emosional anak.(aln)




