JATENGPOS.CO.ID, BANJARMASIN- Di tengah laut yang luas, pencarian korban KM Virgo Transport 8 berpacu dengan waktu. Kapal yang terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa, bukan hanya menyulitkan tim SAR menemukan korban yang masih hilang, tetapi juga menghadirkan risiko besar bagi para penyelamat. Bagaimana kondisi para korban hilang?

Hingga Senin (14/9) pukul 22.00 Wita, sebanyak 114 orang telah ditemukan. Rinciannya, 108 korban selamat dan enam orang meninggal dunia. Namun angka itu sekaligus menyisakan pertanyaan besar: di mana 129 orang lainnya?
Mereka masih menjadi bagian dari operasi pencarian yang hingga hari ketiga belum memberikan jawaban bagi seluruh keluarga.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan posisi KM Virgo Transport 8 telah bergeser sekitar 1,6 nautical mile ke arah barat dari titik datum atau lokasi awal kapal ditemukan. Kapal kini berada dalam kondisi terbalik atau tengkurap.
Perubahan posisi itu membuat operasi penyelamatan semakin rumit. Bagi penyelam, masuk ke badan kapal yang terbalik bukan sekadar persoalan keberanian. Ada faktor arus, cuaca, kondisi bawah laut, struktur kapal, hingga kemungkinan perubahan tekanan di dalam ruang-ruang tertutup yang harus diperhitungkan.
“Kalau misalkan posisinya tengkurap pada saat tim penyelam itu masuk, tentunya memiliki risiko tersendiri dan operasi hanya bisa dilaksanakan apabila memenuhi ketentuan dan safety first, artinya jaminan aman,” ujar Syafii.
Masalah lain berada di dalam badan kapal. Menurut Syafii, kapal masih memiliki sekat-sekat dan ruang kosong. Kondisi tersebut memungkinkan kapal terus bergeser atau melayang mengikuti arus. Jika sekat atau ruang tertentu dibuka secara paksa, perubahan tekanan dapat terjadi secara tiba-tiba dan membahayakan penyelam.
“Begitu juga pada saat ada ruang-ruang di kapal yang kosong ini, kalau kita sampai memaksakan untuk masuk, apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan,” katanya.
Karena itu, operasi hari ketiga tidak bisa dilakukan dengan pendekatan serampangan. Basarnas harus melibatkan personel yang memiliki pengalaman serta pendidikan khusus dalam menangani kapal tenggelam. Setiap metode penyelaman dan pencarian harus dihitung berdasarkan kondisi kapal dan lingkungan bawah laut.
Persoalannya kini bukan sekadar bagaimana menemukan korban, tetapi bagaimana menemukan mereka tanpa menambah korban dari pihak penyelamat.
8 Warga Jateng Masuk Pencarian
Di balik angka 129 orang yang masih dicari, terdapat keluarga-keluarga di Jawa Tengah yang menunggu kabar dari Banjarmasin. Sedikitnya delapan warga Jawa Tengah diketahui berada dalam perjalanan KM Virgo Transport 8. Sebagian telah ditemukan selamat, sementara lainnya masih belum diketahui keberadaannya.
Salah satu yang berhasil selamat adalah Mia Melinda (28), warga Kendal. Mia ditemukan setelah terombang-ambing di laut selama sekitar empat jam. Ia kemudian diselamatkan kapal tugboat sebelum dipindahkan ke kapal SAR.
Namun kondisi Mia membuat proses evakuasi kembali berpacu dengan waktu. Perempuan itu mengalami luka di kepala sehingga tim SAR memutuskan mengevakuasinya melalui udara menggunakan helikopter Dauphin HR-3601 milik Basarnas.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita mengatakan Mia kemudian dibawa ke RS TNI AU Lanud Sjamsudin Noor, Banjarbaru.
“Korban telah tiba di Banjarbaru dan langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) TNI AU Lanud Sjamsudin Noor untuk mendapatkan perawatan medis,” ujar Hilman, Senin (14/9/2026).
Kondisinya relatif stabil. Mia masih dapat berbicara, meski harus menjalani pemeriksaan fisik lanjutan dan rontgen akibat luka di kepalanya. Namun ketika ditemui setelah diselamatkan, pengalaman itu masih membekas.
“Semuanya seperti mimpi,” kata Mia singkat.
Kalimat pendek itu menggambarkan betapa tipis jarak antara hidup dan maut yang baru saja dilewatinya.
Ahmad Selamat, Nur Hasyim Hilang
Dari Kabupaten Magelang, ada dua nama yang menjadi perhatian keluarga di Desa Kalikuto, Kecamatan Grabag: Ahmad Bukhori alias Mamad (31) dan Nur Hisyam (34). Keduanya berangkat bersama dalam satu truk. Ahmad sebagai sopir, sedangkan Hisyam menjadi kernet.
Kapal yang membawa mereka menuju Banjarmasin kemudian mengalami musibah. Kabar tentang kecelakaan itu mula-mula beredar di tengah masyarakat. Kepala Desa Kalikuto Muh Faid kemudian memastikan kedua warganya memang berada di kapal tersebut.
Kabar baik datang pada Minggu (13/9) sore. Ahmad berhasil ditemukan selamat. Ia bahkan sempat menghubungi istrinya, Ngaeni Mutoharoh, dengan meminjam telepon milik relawan.
“Aku baik-baik aja,” demikian kabar Ahmad kepada keluarganya.
Tetapi kelegaan itu belum lengkap. Nur Hisyam belum ditemukan. Hisyam disebut berangkat membawa muatan barang berupa bibit dan kuningan dari wilayah Tempuran untuk dikirim ke Banjarmasin. Keluarganya kini hanya bisa menunggu perkembangan pencarian.
Kakak iparnya, Kusni Hidayat, mengatakan harapan keluarga tetap sama: Hisyam ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat kembali berkumpul bersama keluarganya.
Danang Ditemukan, Bagus masih Dicari
Dari Kabupaten Klaten, kecemasan serupa dirasakan keluarga di Desa Lumbung Kerep, Kecamatan Wonosari. Dua bersaudara, Danang Yuliyanto (31) dan Bagus Mahendra (25), sama-sama bekerja sebagai sopir ekspedisi dan diketahui menjadi penumpang KM Virgo Transport 8.
Keluarga pertama kali mengetahui kecelakaan dari teman yang berada di pelabuhan. Sutarto, ayah keduanya, bahkan membatalkan rencana menghadiri acara pernikahan di Sragen setelah mendengar kabar tersebut.
Tidak lama kemudian, telepon yang ditunggu datang. Danang memberi kabar bahwa dirinya selamat. Tetapi satu nama belum pulang: Bagus. Setelah ditemukan, Danang bahkan sempat berusaha mencari adiknya. Namun Bagus tidak ada di antara korban yang berhasil dievakuasi.
Kini Sutarto bersama istri Danang berangkat ke Banjarmasin untuk mengikuti perkembangan pencarian secara langsung. Danang sendiri masih menjalani pemulihan karena mengalami luka robek di bagian kaki.
Satu keluarga selamat dari ketidakpastian, tetapi separuh lainnya masih menggantung pada hasil operasi SAR.
Jevon tak Ada Kabar
Di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, penantian juga menyelimuti keluarga Jevon Joechelin Jotham (19). Jevon berangkat ke Banjarmasin bukan untuk berlibur. Ia ingin mencari pekerjaan di perkebunan sawit.
Ia berangkat bersama rekannya, Aldo Nurahmansya. Keduanya menuju Surabaya pada Jumat (11/9), sebelum kemudian menaiki KM Virgo Transport 8. Pada Sabtu (12/9) siang, Jevon masih sempat menghubungi keluarga. Itu menjadi komunikasi terakhir.
Setelah itu, telepon Jevon tidak lagi dapat dihubungi. Sekitar pukul 01.00 WIB pada Minggu (13/9), kapal dilaporkan menghadapi cuaca buruk sebelum akhirnya kehilangan kontak.
Ayah Jevon, Totok Hariyono, yang diliputi kecemasan kemudian berangkat ke Surabaya untuk mencari informasi mengenai keberadaan anaknya. Kini, pertanyaan yang sama terus berulang di rumah-rumah keluarga korban. Apakah mereka masih hidup? Di mana mereka berada? Dan kapan mereka akan ditemukan?
Sementara penyelam menghadapi bahaya di bawah permukaan laut, operasi pencarian dari udara menjadi mata bagi tim SAR di permukaan. Lanud Sjamsudin Noor digunakan sebagai salah satu pangkalan operasi udara. Pesawat tim gabungan setiap hari bergerak menuju lokasi kapal terbalik.
Dari udara, petugas berusaha menemukan korban yang mungkin hanyut, termasuk life raft atau rakit penolong yang diduga membawa korban selamat. Hilman mengatakan sejumlah titik life raft telah ditemukan dan koordinatnya langsung dilaporkan ke posko untuk ditindaklanjuti kapal-kapal penolong.
Artinya, pencarian berlangsung dalam beberapa lapisan: udara menyisir permukaan, kapal-kapal bergerak berdasarkan koordinat, sementara penyelam harus menunggu kondisi yang benar-benar memungkinkan untuk memasuki badan kapal.
Waktu menjadi lawan utama. Arus terus bergerak. Kapal telah bergeser dari titik awal. Korban yang berada di laut juga berpotensi terbawa semakin jauh dari lokasi kecelakaan.
Pemerintah memastikan kapal tidak berlayar dalam kondisi kelebihan muatan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut kapasitas penumpang kapal mencapai 500 orang, sedangkan jumlah orang di kapal saat kejadian sebanyak 243.
Namun, kapasitas bukanlah jawaban atas pertanyaan tentang penyebab kecelakaan. Penyebab pasti insiden masih menunggu investigasi menyeluruh dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Untuk saat ini, fokus utama masih satu: menemukan mereka yang belum pulang. Di Banjarmasin, tim SAR berpacu dengan arus dan waktu. Di Jawa Tengah, keluarga menunggu telepon yang mungkin membawa kabar baik. Dan, di antara 129 nama yang masih berada dalam daftar pencarian, keluarga sangat berharap ada kabar karena mereka ditunggu pulang. (dbs/dtc/muz)




