JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Musim kemarau mempengaruhi ketersediaan air baku di sejumlah wilayah Kabupaten Semarang. Debit beberapa mata air mengalami penurunan, sementara kebutuhan masyarakat terhadap air bersih justru meningkat.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Bumi Serasi Kabupaten Semarang untuk menjaga agar air tetap mengalir ke rumah-rumah pelanggan.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Bumi Serasi Kabupaten Semarang, Guswakhid Hidayat, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga kontinuitas pelayanan, termasuk mengoptimalkan sumber air lain yang masih memiliki debit mencukupi.
Hal itu disampaikan Guswakhid saat menjadi narasumber talkshow di Rasika FM bersama Dony Azhar dan Ketua Forum Komunikasi Pelanggan (FKP) Haris Widi, Selasa (15/9/2026).
“Kalau dari air baku memang ada penurunan beberapa mata air. Kami juga melakukan upaya untuk menyuplai wilayah yang kekurangan dengan menambahkan dari sumber mata air lain yang masih mencukupi,” kata Guswakhid.
Menurutnya, penurunan debit air pada musim kemarau merupakan kondisi yang tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, Perumda berupaya agar dampaknya terhadap pelanggan dapat ditekan seminimal mungkin.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah jaringan yang bersumber dari PT STU Bawen. Sejumlah kawasan seperti Leyangan, Kalikopeng, Delta Asri, hingga Susukan berada di bagian paling ujung jaringan distribusi.
Posisi tersebut membuat wilayah tersebut lebih rentan mengalami gangguan ketika debit air baku menurun.
“Daerah tersebut kebetulan merupakan titik terjauh dari pipa produksi kita. Tetapi tetap kami usahakan layanan ini tetap bagus. Kami bertanggung jawab memberikan layanan terbaik kepada pelanggan,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada sebagian jaringan di wilayah Salatiga, khususnya Argomulyo, yang mendapat pasokan dari sumber air di Kopeng, Kecamatan Getasan. Ketika debit sumber tersebut menurun, aliran air pada pelanggan juga dapat mengalami perubahan, termasuk hanya mengalir pada jam-jam tertentu.
Perumda Tirta Bumi Serasi sendiri melayani tiga wilayah utama, yakni Cabang Ungaran yang mencakup Ungaran Timur, Ungaran Barat dan Bergas, kemudian Cabang Salatiga serta Cabang Ambarawa.
Guswakhid menyebut, sejumlah pengaduan pelanggan pada musim kemarau banyak berasal dari wilayah yang berada di titik tinggi atau ujung jaringan. Salah satunya kawasan Bergas yang berada di elevasi cukup tinggi.
“Ketika kemarau seperti ini kebutuhan air juga meningkat. Jadi ada beberapa titik yang memang menjadi perhatian kami,” katanya.

Kerahkan Tiga Tangki Air
Ketika gangguan pasokan terjadi, Perumda tidak hanya menunggu kondisi sumber air kembali normal. Perusahaan mengerahkan armada tangki untuk melakukan dropping air secara gratis kepada pelanggan terdampak.
Saat ini, Perumda memiliki tiga armada tangki yang digunakan untuk membantu distribusi air bersih.
“Kompensasi bagi pelanggan yang mengalami gangguan air, kami melakukan dropping air dengan mengandalkan tiga tangki yang kami miliki. Solusinya kami dropping dengan tangki semampu kami untuk memberikan air secara gratis kepada pelanggan yang terkena dampak,” jelas Guswakhid.
Namun, keterbatasan armada membuat pengiriman air tidak bisa dilakukan secara bersamaan ke seluruh lokasi yang mengalami gangguan.
Karena itu, Perumda harus melakukan pemetaan dan menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan terlebih dahulu. Jika kebutuhan meningkat, dukungan armada tambahan juga dapat diperlukan.
“Kami mohon maaf tidak bisa langsung semuanya karena armada dan sarana prasarana kami juga terbatas. Tetapi kami upayakan semaksimal mungkin agar semuanya tertangani,” katanya.
Guswakhid menegaskan, pelayanan kepada pelanggan akan terus dievaluasi dan ditingkatkan. Berbagai keluhan yang masuk, termasuk melalui media sosial, menjadi bahan bagi perusahaan untuk mencari solusi.
Perumda juga membuka kanal pengaduan selama 24 jam melalui call center. Selain itu, pelanggan dapat menyampaikan keluhan melalui media sosial maupun Forum Komunikasi Pelanggan (FKP).
“Kami berterima kasih kepada pelanggan yang menyampaikan banyak hal kepada kami. Dari situ kami mendapatkan masukan dan saran. Nanti kami carikan solusi terbaik terhadap semua layanan,” ungkapnya.
Guswakhid juga menjelaskan alasan aliran air terkadang tidak langsung normal meski gangguan jaringan telah selesai diperbaiki.
Menurutnya, karakteristik jaringan air berbeda dengan listrik. Ketika listrik mengalami gangguan dan jaringan telah diperbaiki, aliran dapat kembali dalam waktu relatif cepat. Sementara jaringan perpipaan membutuhkan proses normalisasi.
“Air itu tidak mengalir seperti listrik. Kalau listrik, setelah gangguan selesai beberapa detik bisa langsung mengalir. Air membutuhkan proses, terutama ketika ada gangguan jaringan. Mulai dari perbaikan, membongkar pipa sampai pengaliran air kembali,” jelasnya.
Setelah pipa diperbaiki, tekanan air harus kembali dibangun secara bertahap hingga distribusi ke seluruh jaringan kembali stabil. Terlebih untuk wilayah yang berada di ujung jaringan atau memiliki elevasi lebih tinggi.
Karena itu, pelanggan diimbau memahami bahwa selesainya pekerjaan perbaikan tidak selalu berarti air langsung mengalir dengan tekanan normal.

Jaga Kontinuitas dan Kualitas
Di tengah persoalan debit air baku, Perumda memastikan kualitas air tetap menjadi perhatian utama. Guswakhid mengatakan pemantauan kualitas dilakukan secara berkala. Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang melakukan uji petik di lapangan setiap bulan, sementara Perumda juga melakukan pemantauan internal melalui tim produksi dan pengujian laboratorium.
“Kualitas air kita ada jaminan dari uji petik di lapangan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang setiap bulan. Kami juga melakukan pemantauan internal dari teman-teman produksi dengan melakukan uji laboratorium,” ujarnya.
Menurutnya, pelayanan Perumda tidak hanya berorientasi pada bagaimana air tetap mengalir, tetapi juga memastikan air yang didistribusikan memenuhi standar kualitas yang berlaku. Empat aspek menjadi perhatian utama perusahaan, yakni kualitas, kontinuitas, kuantitas, dan keamanan air.
Upaya menjaga pelayanan itu juga mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Guswakhid mencontohkan kawasan Susukan, tepatnya di belakang Tarubudaya. Jika sebelumnya pelanggan di kawasan tersebut hanya mendapatkan aliran air dua hari sekali, kini pelayanan telah meningkat hingga air dapat mengalir selama 24 jam.
Perbaikan tersebut menjadi gambaran bahwa di tengah tekanan musim kemarau, Perumda tidak hanya berupaya mengatasi gangguan sesaat, tetapi juga terus membenahi sistem distribusi agar pelayanan kepada masyarakat semakin baik.
“Memang masih ada yang tidak puas, tetapi kami sudah maksimal memberikan pelayanan terbaik. Ke depan pelayanan ini akan terus kami tingkatkan agar semakin bagus,” pungkas Guswakhid. (muz)





