JATENGPOS.CO.ID, BOYOLALI – Di balik pesona pemandangan Waduk Cengklik yang menjadi daya tarik pariwisata daerah, tersimpan realita dan cerita kehidupan para nelayan keramba yang menggantungkan nasibnya pada perairan tersebut. Menyadari besarnya potensi lokal ini, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 38 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tengah melaksanakan masa pengabdian di Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, pada periode Juli hingga Agustus 2026, terjun langsung untuk mengeksplorasi aktivitas perikanan warga.
Selama masa KKN, para mahasiswa tidak hanya menjalankan program digitalisasi dan perbaikan fasilitas desa, tetapi juga membaur secara humanis untuk mengenal lebih jauh pemanfaatan Waduk Cengklik yang dikelola secara masif oleh masyarakat menjadi keramba budidaya ikan.
Bagi warga Sobokerto, eksistensi keramba ini bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan sebuah sektor riil yang sangat membantu mendorong perekonomian masyarakat di sekitar waduk. Melalui pendekatan langsung ke lapangan, kehadiran mahasiswa diharapkan mampu menjadi jembatan untuk menggaunkan inisiatif keramba sebagai pemberdayaan yang berkelanjutan, sekaligus mengangkat kisah-kisah dibalik kerja keras para nelayan lokal.
Pemetaan lapangan menunjukkan bahwa sektor perikanan Waduk Cengklik merupakan sumber penghasilan utama bagi sekitar 31 warga Desa Sobokerto. Sebagian nelayan mengelola beberapa petak keramba sekaligus, sementara warga lainnya menjadikan budidaya ini sebagai pekerjaan sampingan atau menangkap ikan secara tradisional menggunakan jaring dan pancing.
Sistem tata kelola dan distribusi hasil panen di kawasan ini sudah terstruktur. Pengepul lokal menampung hasil budidaya, sementara proses pemanenan diatur bergiliran antarpemilik keramba demi menjaga stabilitas pasokan pasar dan kepastian pendapatan warga.
Selama pengabdian, Tim KKN 38 UNS terlibat langsung dalam aktivitas harian nelayan, seperti memberi pakan hingga memanen ikan. Dari interaksi di atas perahu, mahasiswa mempelajari teknik budidaya, tantangan cuaca, dan tata kelola usaha keramba.
Aktivitas ini meninggalkan kesan mendalam bagi mahasiswa, terlebih didukung keindahan panorama matahari terbenam dan siluet pegunungan di Desa Sobokerto. Kehangatan warga juga terjalin saat nelayan membagikan ikan segar hasil panen untuk dimasak di posko KKN.
Ke depan, keberlanjutan budidaya ikan di Waduk Cengklik memerlukan kepastian legalitas dan payung hukum tata ruang pemanfaatan waduk. Pendampingan perizinan penting untuk memberikan jaminan keamanan kerja sekaligus membuka akses bantuan, subsidi, dan pembinaan dari pemerintah.
Kehadiran mahasiswa mendapat sambutan hangat dari warga. “Kami senang adik-adik mahasiswa mau turun langsung ke keramba. Harapan kami, usaha keramba ini lancar, makin diperhatikan, dan ada kejelasan aturan dari pemerintah supaya kami bisa mencari nafkah dengan tenang,” ungkap salah satu nelayan Sobokerto. (biz/ADE)




