JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Bayangkan sebuah kasur, tetapi bukan terbuat dari busa atau kapas, melainkan dari ribuan tahu yang disusun sedemikian rupa hingga menyerupai tempat tidur. Pemandangan unik itu benar-benar hadir di The Wujil Resort & Conventions, Kabupaten Semarang, akhir pekan kemarin.
Bukan sekadar atraksi, kasur berbahan tahu tersebut berhasil mencatatkan nama The Wujil Resort & Conventions bersama JJ Oemah Tahu dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Sebanyak 3.850 tahu dirangkai menjadi sebuah replika kasur dan mengantarkan kolaborasi tersebut meraih rekor MURI kategori “Replika Kasur dari Rangkaian Tahu Terbanyak di Indonesia”.
Piagam penghargaan MURI diserahkan dalam acara yang berlangsung meriah di area The Wujil Resort & Conventions. Namun, ada hal menarik setelah rekor itu resmi dicatat.
Ribuan tahu yang sebelumnya menjadi bagian dari karya tersebut tidak berakhir sebagai pajangan.
Satu per satu tahu justru dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang hadir. Para peserta trail run yang memadati lokasi acara juga ikut mendapatkannya sebagai hidangan penyegar sekaligus tambahan energi setelah beraktivitas.
Dengan begitu, sebuah karya yang lahir dari kreativitas tidak hanya berhenti pada pencapaian rekor, tetapi langsung kembali kepada masyarakat.
Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, rekor MURI itu memiliki makna lebih luas karena turut membawa nama produk kuliner lokal Kabupaten Semarang ke tingkat nasional.
“Kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada The Wujil Resort & Conventions dan JJ Oemah Tahu atas inisiatif luar biasa ini. Rekor MURI ini bukan sekadar pencapaian prestasi belaka, melainkan sebuah momentum besar untuk mempromosikan potensi kuliner lokal Kabupaten Semarang agar semakin dikenal di kancah nasional,” ujar Ngesti.
Menurut dia, semangat kolaborasi tersebut juga terlihat dalam rangkaian peringatan 10 tahun The Wujil melalui Pasar Rakyat Wujilday 2026 yang melibatkan pelaku UMKM.
Bagi Ngesti, keterlibatan sektor perhotelan dalam pengembangan UMKM menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap penguatan ekonomi kerakyatan.
“Ini menjadi momen bahwa sektor perhotelan juga mampu membantu ikut menggerakkan roda perekonomian UMKM di Kabupaten Semarang. Perpaduan dua sektor ini, UMKM dan hospitality, diharapkan mampu meningkatkan pendapatan kedua sektor itu dan menjadi contoh bagi hotel-hotel lainnya di Kabupaten Semarang,” katanya.
Bukan Sekedar Rekor
General Manager The Wujil Resort & Conventions Ahmad Solela mengatakan, pembuatan replika kasur dari ribuan tahu merupakan bagian dari komitmen untuk terus menghadirkan inovasi sekaligus mengangkat potensi lokal.
Menurutnya, kolaborasi dengan JJ Oemah Tahu menunjukkan bahwa bahan pangan tradisional pun dapat dikemas menjadi sebuah karya kreatif yang memiliki nilai cerita dan daya tarik tersendiri.
“Capaian ini merupakan bentuk komitmen kami untuk terus berinovasi serta mengangkat kearifan lokal. Kolaborasi bersama pelaku UMKM seperti JJ Oemah Tahu membuktikan bahan makanan tradisional dapat dikemas menjadi karya seni yang menguji kreativitas,” ujar Ahmad.
Ia mengaku senang karena ribuan tahu yang digunakan dalam karya tersebut juga dapat langsung dinikmati masyarakat dan peserta trail run.
Kebanggaan serupa disampaikan Owner JJ Oemah Tahu, Edgina. Ia mengaku tidak menyangka kolaborasi menggunakan 3.850 tahu itu akhirnya mampu mencatatkan rekor MURI.
“Kami sangat bangga dan tidak menyangka karya kolaborasi berbasis 3.850 tahu ini mampu meraih rekor MURI. Semoga pencapaian ini makin melambungkan nama produk tahu khas daerah Kabupaten Semarang sekaligus menginspirasi para pelaku usaha kuliner lainnya untuk terus berkarya tanpa batas,” katanya.
Antusiasme juga terasa dari masyarakat yang menyaksikan langsung karya tersebut. Siti Rahmawati, salah seorang warga yang datang bersama keluarganya, mengaku terkesan melihat ribuan tahu disusun hingga membentuk replika kasur.
“Acaranya seru dan unik sekali! Bisa melihat langsung kasur dari ribuan tahu. Tahu yang dibagikan juga masih segar dan lezat. Senang sekali warga dan para pelari bisa membawa pulang serta menikmati tahu ini bersama-sama,” ungkapnya.
Rekor tersebut akhirnya bukan hanya meninggalkan sebuah piagam penghargaan. Di balik angka 3.850, tersimpan cerita tentang kreativitas, kolaborasi hotel dan UMKM, serta sebuah karya yang setelah mencetak sejarah justru kembali menjadi hidangan bagi masyarakat.
Sebuah kasur dari tahu pun akhirnya bukan untuk ditiduri, melainkan untuk dibagikan dan dinikmati bersama. (muz)




