Rupiah Tresno Budoyo 2026, BI Jateng Padukan Edukasi Rupiah dengan Sejarah dan Budaya


 

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah menghadirkan Rupiah Tresno Budoyo (RTB) 2026 di Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan ini memadukan edukasi rupiah, digitalisasi sistem pembayaran, sejarah, budaya, UMKM hingga pengendalian inflasi.

 

Mengusung tema “Two Shores, One Story, One Connection”, RTB menjadi bagian komunikasi kebijakan BI untuk meningkatkan literasi masyarakat, sekaligus memperluas akseptasi ekonomi dan keuangan digital di Jawa Tengah.

– RUPIAH TRESNO BUDOYO 2026- Plh. Kepala Perwakilan KPwBI Provinsi Jawa Tengah, Anggis Rakhmi Ichsan, bersama Founder EkosDance Company, Prof. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn, M.F.A., Ph.D., saat memberikan keterangan terkait Rupiah Tresno Budoyo 2026 dan konsep Dance Spectacle “Two Shores, One Story, One Connection”, di Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/8/2026). FOTO: ANING KARINDRA/JATENG POS

 

Plh. Kepala Perwakilan KPwBI Provinsi Jawa Tengah, Anggis Rakhmi Ichsan menjelaskan, RTB menggunakan pendekatan sejarah dan budaya agar edukasi BI lebih dekat serta mudah diterima masyarakat.

 

“Kami berupaya mendekatkan kegiatan kami dengan kegiatan budaya masyarakat sehingga harapannya kegiatan ini akan lebih mudah diterima oleh masyarakat,” jelas Anggis.

– MELUKIS- Pengunjung mengikuti kegiatan melukis dalam rangkaian Rupiah Tresno Budoyo 2026 di Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/8/2026). FOTO: ANING KARINDRA/JATENG POS

Dikatakan, rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi, meliputi story telling Cinta, Bangga, Paham Rupiah, workshop seni dan budaya, QRIS Challenge, kuis CBP Rupiah, QRIS dan PeKA, wayang potehi, barongsai, bazaar UMKM, serta tebus murah komoditas pangan.

 

“Selain edukasi dan literasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah, kami juga mengajak UMKM dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk pengendalian inflasi pangan,” ungkapnya.

– MENGANYAM- Pengunjung mengikuti kegiatan menganyam dalam rangkaian Rupiah Tresno Budoyo 2026 di Sam Poo Kong Semarang, Sabtu (26/8/2026). FOTO: ANING KARINDRA/JATENG POS

 

Ditambahkan, BI juga menghadirkan pameran budaya China-Jawa Semarang, Library in Motion, serta berbagai workshop, seperti membuat Warag Ngendog, melukis lampion dan kipas, membuat aksesori tusuk konde hingga membatik.

 

Salah satu kegiatan lainnya adalah pengembalian uang logam yang sudah tidak layak edar. Anggis menyebut, 84 orang melakukan penukaran sekitar 21.840 keping uang logam dengan nilai sekitar Rp8,3 juta.

Baca juga:  XL SATU Lite Hadir, Jadi Solusi Internet Rumah Nirkabel

 

“Ini akan kami dorong lagi supaya pengembalian uang yang tidak layak edar, khususnya uang logam, bisa semakin meningkat,” tuturnya.

 

Menurut Anggis, sejarah Laksamana Cheng Ho menjadi inspirasi untuk melihat hubungan Tiongkok dan Semarang yang telah berlangsung sejak dahulu, sekaligus dikaitkan dengan perkembangan konektivitas pembayaran pada era digital.

 

“Sekarang hubungan ini semakin erat dengan adanya QRIS, di mana transaksi keuangan dapat dilaksanakan dengan menggunakan QRIS,” tegasnya.

 

RTB 2026 juga mendorong penggunaan QRIS Cross Border sebagai bentuk konektivitas pembayaran lintas negara. Jika dahulu hubungan antarbangsa dibangun melalui pelayaran dan perdagangan, kini konektivitas berkembang melalui teknologi pembayaran yang semakin terintegrasi.

 

Selain itu, lanjutnya, BI Jateng bersinergi dengan TP2DD Provinsi Jawa Tengah melalui BPKAD, Bapenda dan Bank Jateng, dalam TNT Awards Jawa Tengah 2026, untuk mendorong elektronifikasi transaksi pemerintah daerah.

 

“Kriteria yang kami lakukan penilaian adalah penggunaan Kartu Kredit Indonesia, optimalisasi transaksi non-tunai dalam bentuk pajak dan retribusi, serta belanja,” kata Anggis.

 

Ditegaskan, perluasan transaksi non-tunai diharapkan membangun ekosistem digital yang berkelanjutan sekaligus mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

 

“Tujuannya tentu saja supaya ekosistemnya bisa terbangun dan transaksi non-tunai ini akan meningkatkan pendapatan asli daerah,” pungkasnya.

 

Eko Hadirkan Cheng Ho dalam Spektakel

Sementara itu, Founder EkosDance Company, Prof. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn, M.F.A., Ph.D., menerjemahkan tema RTB melalui Dance Spectacle “Two Shores, One Story, One Connection” bersama ISI Surakarta.

Baca juga:  JNE Raih Gold Champion of Indonesia

 

“Semarang merupakan tempat yang luar biasa, tempat yang memberikan keleluasaan bagi sejarah untuk hadir bagi masyarakat sekarang dan generasi sekarang dengan akulturasinya,” kata Eko, yang juga menjadi Sutradara Dance Spectacle.

 

Dijelaskan, spektakel tersebut membawa tiga gagasan utama, yakni sejarah pelayaran dan perdagangan maritim, akulturasi budaya Tiongkok-Jawa, serta konektivitas Indonesia-Tiongkok melalui teknologi pembayaran.

 

“Yang pertama adalah konteks sejarah, perdagangan dan pelayaran maritim, terutama Laksamana Cheng Ho yang datang ke Semarang,” ujarnya.

 

Bagian kedua menampilkan akulturasi budaya Jawa, Arab dan Tionghoa melalui tari, musik, barongsai, liong hingga budaya kuliner Semarang.

 

“Akulturasi budaya di Semarang itu nyata, ada budaya Jawa, Arab dan Cina, termasuk tari-tarian, barongsai, naga atau liong sampai kuliner,” ungkapnya.

 

Sedangkan bagian ketiga mengangkat QRIS sebagai bentuk konektivitas baru Indonesia dan Tiongkok.

 

“Dengan QRIS kita bisa menghubungkan lagi Tiongkok dan Indonesia dengan nyata, tidak lagi berbicara masalah sejarah dan akulturasi, tetapi sudah nyata langsung terhubung,” tegas Eko.

 

Pertunjukan sekitar 75 menit tersebut melibatkan sekitar 35 penari, mayoritas mahasiswa S1, S2 dan S3 ISI Surakarta, serta seniman Gambang Semarang, Unnes dan seniman lokal. Proses latihan berlangsung sekitar dua minggu.

 

“Latihannya sekitar dua minggu, karena kami sudah punya chemistry dengan BI. Tahun kemarin kami mengangkat Diponegoro, sekarang Cheng Ho,” pungkas Eko.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...