JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Perubahan zaman membawa tantangan baru bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Produk yang dulu cukup dipasarkan dari mulut ke mulut atau mengandalkan pelanggan sekitar, kini dituntut mampu menembus ruang digital agar menjangkau pasar yang lebih luas.
Semangat itulah yang diangkat dalam Learning Event bertajuk “Cakap Teknologi ke Pasar Digital” yang digelar DBS Foundation bersama Yayasan Mercy Corps Indonesia di aula Balai Kota Semarang.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs powered by DBS Foundation, yang mendorong perempuan pemilik dan pengelola usaha mikro dan kecil agar semakin siap memanfaatkan teknologi serta membuka akses terhadap pasar dan layanan keuangan.
Sekitar 800 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 600 di antaranya merupakan perempuan pemilik dan pengelola usaha mikro dan kecil yang mengikuti program. Turut hadir pula perwakilan pemerintah daerah, lembaga keuangan, organisasi masyarakat, akademisi, dan media.
Suasana kegiatan tidak sekadar menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha dan pemangku kepentingan. Forum ini juga menjadi momentum untuk mempertemukan pengalaman para perempuan pelaku UMKM dengan perkembangan teknologi yang kini semakin lekat dengan aktivitas bisnis sehari-hari.
Bagi pelaku usaha kecil, digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan untuk mengikuti tren. Kehadiran marketplace, media sosial, pembayaran digital, hingga berbagai layanan keuangan berbasis teknologi telah mengubah cara konsumen mencari produk dan melakukan transaksi.
Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi secara tepat menjadi bagian penting dari perjalanan usaha untuk berkembang.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs bertujuan meningkatkan ketahanan dan kesehatan keuangan 40.000 perempuan pemilik atau pengelola UMKM (20% di antaranya anak muda perempuan) di Kota Semarang, Surabaya, dan Medan hingga 30 September 2027.
Sejak diluncurkan pada Oktober 2025 hingga Agustus 2026, program ini telah menjangkau lebih dari 20.000 perempuan pelaku usaha mikro dan kecil melalui pelatihan dan mentoring terintegrasi yang mencakup literasi digital, literasi keuangan, produk dan layanan keuangan, manajemen keuangan, serta pemasaran digital.
Learning Event di Semarang mengusung dua tema utama diskusi panel. Sesi pertama membahas “Perkuat Literasi Digital sebagai Strategi Efektif untuk Mendukung Perempuan Pemilik/Pengelola Usaha Mikro dan Kecil di Perkotaan”, sementara sesi kedua berfokus pada penggunaan saluran pemasaran digital dan pengelolaan keuangan usaha. Acara juga dilengkapi dengan Bazar UMKM yang menampilkan 35 booth peserta program, testimoni pelaku usaha, serta interaktif doorprize dan business challenge.

Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman antar pemangku kepentingan, sekaligus menampilkan praktik baik dan capaian program. Pembelajaran yang diperoleh dari rangkaian learning event di Medan, Semarang, Surabaya, dan Jakarta akan dihimpun dalam learning document yang berisi rekomendasi strategi efektif untuk mendukung perempuan pemilik/pengelola usaha mikro dan kecil di wilayah perkotaan. Dokumen tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Kementerian UMKM Republik Indonesia.
Disebutkan, khususnya di Kota Semarang menjadi salah satu ruang penting bagi penguatan kapasitas tersebut. Dengan banyaknya usaha mikro dan kecil yang tumbuh di tengah masyarakat, transformasi digital diharapkan dapat membuka peluang baru bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan konsumen sekaligus memperkuat keberlanjutan bisnis.
“Kami berharap usaha mereka dapat lebih berkembang dan kondisi keuangan usaha mereka lebih baik. Mendorong inklusi finansial dan pemberdayaan perempuan merupakan fokus utama DBS Foundation dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan,” ujarnya.
“Melalui program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs powered by DBS Foundation, kami berharap semakin banyak perempuan pelaku UMKM memiliki akses terhadap pengetahuan, layanan, dan produk keuangan yang dapat membantu mereka meningkatkan ketahanan usaha, memenuhi kebutuhan dasar keluarga, dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas,” sambung Mona Monika.
Rangkaian learning event ini akan berlanjut di kota-kota lain hingga akhir September 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem dukungan bagi perempuan pelaku usaha mikro dan kecil di Indonesia.
Melalui program tersebut, DBS Foundation dan Yayasan Mercy Corps Indonesia berupaya memperkuat kapasitas perempuan pengusaha agar tidak hanya mampu menjalankan bisnis, tetapi juga memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri untuk membawa produknya masuk ke ekosistem ekonomi digital. (muz)





