Telkom Resmi Spin-Off InfraCo, InfraNexia Kelola 90 Persen Aset Jaringan


JATENGPOS.CO.ID,  JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk resmi melakukan pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Rabu (30/9). Aksi korporasi tersebut mendapat persetujuan pemegang saham independen Telkom.

Spin-off InfraCo menjadi bagian dari strategi TLKM 30 untuk mendorong monetisasi aset bernilai tinggi sekaligus membuka ruang kemitraan strategis yang lebih luas. Langkah tersebut juga memperkuat transformasi Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding dengan pola Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo).

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, persetujuan pemegang saham menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus. Menurutnya, pemisahan tersebut juga memberikan fleksibilitas lebih besar bagi InfraNexia untuk mengembangkan bisnis infrastrukturnya.

“Kepercayaan yang diberikan kepada Telkom atas Spin-Off InfraCo ini menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus, sekaligus memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal,” katanya.

RUPSLB sekaligus menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Telkom. Perubahan tersebut diarahkan untuk memperkuat tata kelola perusahaan sekaligus mendukung agenda transformasi TLKM 30.

Susunan Dewan Komisaris setelah RUPSLB terdiri atas Komisaris Utama Angga Raka Prabowo, Komisaris Ossy Darmawan, Rizal Mallarangeng dan Edwin Hidayat Abdullah. Sedangkan Komisaris Independen terdiri atas Rofikoh Rokhim, Anthony Leong, Deswandhy Agusman dan Ira Noviarti.

Baca juga:  5 Tahun BUMN di Bawah Erick Thohir, PLN Dukung PEPARNAS 2024

Sementara jajaran direksi dipimpin Direktur Utama Nanang Hendarno, dengan Veranita Yosephine sebagai Direktur Enterprise & Business Service, Willy Saelan sebagai Direktur Human Capital Management, serta Arthur Angelo Syailendra sebagai Direktur Keuangan & Manajemen Risiko.

Jajaran lainnya yakni Budi Satria Dharma Purba sebagai Direktur Network, Seno Soemadji sebagai Direktur Strategic Business Development & Portfolio, Radita Ali Putra sebagai Direktur Wholesale & International Service, Kharim I. G. Siregar sebagai Direktur IT Digital dan Andy Kelana sebagai Direktur Legal & Compliance.

Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia menandatangani akta pemisahan sebagai tahapan penting penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2. Akta tersebut ditandatangani Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.

Melalui konsolidasi tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikelola InfraNexia. Total infrastruktur yang dikonsolidasikan mencapai sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik, dengan nilai transaksi sekitar Rp85,7 triliun.

Nanang menegaskan, InfraNexia diarahkan untuk mempertajam fokus bisnis sekaligus meningkatkan produktivitas aset infrastruktur. Penguatan tersebut diharapkan meningkatkan kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.

“Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri,” ujarnya.

Baca juga:  Menteri BUMN Kunjungi Mitra Binaan PLN UIT JBT

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menambahkan, konsolidasi tersebut memberikan ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital nasional. Infrastruktur yang semakin besar juga memungkinkan perusahaan menghadirkan solusi konektivitas sesuai kebutuhan pelanggan.

Pasca konsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik melalui infrastruktur darat dan laut yang didukung empat area, 12 regional dan 61 distrik di seluruh Indonesia. Jaringan tersebut menjadi fondasi bagi operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, data center serta berbagai pelaku industri.

Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan, fase baru tersebut memperkuat posisi perusahaan dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka dan terintegrasi.

“Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya,” tuturnya.

InfraNexia menjalankan model bisnis carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yakni Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx. Portofolio tersebut mencakup konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama sesuai kebutuhan pelanggan.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...

Menjelang Nataru, KAI Daop 4 Temukan 440...

PLN Sigap Amankan Suplai Listrik

G20 Empower dan Women20 Dimulai

Visa dan ALTO Luncurkan Kemitraan