JATENGPOS.CO.ID, PATI – Kawasan Alun-Alun Kembangjoyo, Kabupaten Pati, kembali diwarnai aksi pencurian. Dua unit mainan anak milik Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Alun-Alun Kembangjoyo, Thukul, raib digondol maling.
Dua barang yang dicuri berupa satu mobil aki mini berwarna biru muda dan satu motor trail mini berwarna hijau. Keduanya merupakan armada baru yang dibeli kurang dari empat bulan lalu dengan nilai total sekitar Rp8,9 juta.
Pencurian diduga berlangsung pada Selasa (6/10/2026) dini hari, saat kondisi kawasan sepi dan penerangan dalam keadaan padam. Thukul baru mengetahui barang miliknya hilang pada sore hari ketika hendak memulai aktivitas.
Saat itu, ia mendapati terpal yang digunakan untuk menutup tempat penyimpanan mainan sudah dalam kondisi berantakan.
“Awalnya saya tahu sore hari kemarin pas saya mulai beraktivitas. Ternyata tempatnya sudah amburadul seperti ini,” ujar Thukul, Rabu (7/10).
Dari informasi sejumlah rekannya yang berada di sekitar lokasi, Thukul menduga pelaku datang menggunakan mobil pikap sekitar pukul 04.00 WIB atau menjelang subuh.
Dugaan tersebut diperkuat ukuran dan bobot dua mainan yang dicuri. Menurutnya, barang tersebut tidak mungkin diangkut hanya menggunakan kendaraan roda dua.
“Pas Selasa fajar itu keadaan gelap karena ada pemadaman listrik. Rekan yang sempat tidur di sekitar sini bilang ada mobil pikap masuk sekitar mau Subuh. Aksi pencurian ini tidak mungkin kalau tidak pakai mobil, sebab ukuran barang yang dicuri besar dan berat,” jelasnya.
Pencurian tersebut bukan kali pertama dialami Thukul. Sekitar setahun lalu, seperangkat mesin sound system miliknya senilai Rp5 juta juga raib dari kawasan tersebut.
Namun, saat itu Thukul memilih tidak melaporkan kejadian kepada polisi. Berbeda dengan kasus kali ini yang langsung dilaporkan karena dinilai sudah keterlaluan.
Ia bahkan sengaja tidak membereskan kondisi lokasi penyimpanan mainan untuk menjaga kemungkinan adanya barang bukti sebelum dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh kepolisian.
“Kalau dulu saya diam, tidak lapor. Tapi kalau yang ini saya laporkan karena sudah keterlaluan. Saya sengaja membiarkan kondisi lokasi yang berantakan ini karena masih menunggu proses olah TKP dari Polsek Pati Kota,” tegasnya.
Menurut Thukul, aksi pencurian juga mulai meresahkan pedagang lain di kawasan Kembangjoyo. Sejumlah lapak disebut beberapa kali menjadi sasaran pembobolan. Barang yang hilang beragam, mulai pakaian, aksesori, jam tangan hingga perlengkapan jualan.
Kondisi tersebut semakin membuat para PKL mempertanyakan keamanan kawasan relokasi yang selama ini menjadi tempat mereka berjualan.
Ironisnya, di tengah persoalan keamanan tersebut, usaha penyewaan mainan anak juga sedang sepi. Tarif sewa mobil aki dan motor trail mini sebesar Rp10.000 untuk tujuh menit belum mampu menutup kekhawatiran pedagang terhadap keamanan barang mereka.
Thukul menyayangkan belum adanya pengamanan yang dianggap memadai, terutama pada malam hingga dini hari. Padahal, menurut dia, ketika PKL direlokasi ke Kembangjoyo, pemerintah daerah sempat menjanjikan fasilitas dan keamanan kawasan.
“Kami ini PKL yang taat aturan, mau direlokasi. Tapi janji fasilitas dan keamanan dari pemerintah daerah mana? Kalau malam sampai fajar tidak ada yang menjaga kawasan ini,” ungkapnya kecewa.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Pati segera mengambil langkah konkret. Salah satunya dengan menempatkan personel Satpol PP secara bergilir atau memberikan dukungan honor bagi petugas keamanan yang berjaga di kawasan tersebut.
Thukul menegaskan, persoalan keamanan dan penataan PKL tidak bisa terus dibiarkan. Jika tidak segera mendapat respons dari pemerintah daerah, para pedagang bahkan mempertimbangkan kembali berjualan di kawasan Alun-Alun Simpang Lima Pati.
“Kalau masalah keamanan dan penataan ini tidak segera direspons, kami para pedagang bisa saja kembali berjualan di Simpang Lima,” tegasnya. (Ida/rit)






