Bulog Jateng Serap 106 Persen Target Beras, Stok Tembus 465 Ribu Ton


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN – Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Tengah mencatat realisasi penyerapan beras mencapai 106 persen dari target yang ditetapkan pemerintah hingga pekan kedua Oktober 2026. Meski target telah terlampaui, Bulog memastikan penyerapan gabah dan beras dari petani tetap berlanjut hingga akhir tahun untuk menjaga harga di tingkat produsen.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jawa Tengah, Sri Muniati mengatakan, realisasi penyerapan secara nasional juga telah melampaui target penugasan pemerintah sebesar empat juta ton beras pada 2026. Hingga pekan lalu, penyerapan nasional tercatat mencapai 4,115 juta ton.

“Untuk Jawa Tengah sendiri juga sama, sudah mencapai 106 persen. Meski demikian, kami tentu akan terus melakukan penyerapan sampai akhir tahun,” ujarnya.

Dijelaskan, penyerapan tetap dilakukan untuk memastikan pemerintah hadir dalam menjaga keberlangsungan usaha petani, terutama di tengah pola panen yang berlangsung bergantian di berbagai daerah. Bulog bersama mitra terus mendatangi sentra-sentra produksi yang sedang memasuki masa panen.

Sejumlah daerah dengan tingkat panen tinggi di antaranya Sukoharjo, Grobogan, Demak, Sragen, Banyumas, dan Magelang. Penyerapan dilakukan untuk menjaga harga gabah dan beras di tingkat petani tetap menguntungkan serta mempertahankan gairah produksi.

Di sisi lain, Bulog Jateng juga memperkuat penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen. Langkah ini menjadi bagian dari pengendalian inflasi, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru ketika permintaan pangan berpotensi meningkat.

Baca juga:  RUPSLB Indosat Perpanjang Masa Jabatan Vikram Sinha

Sri Muniati menyebutkan, stok beras Bulog di Jawa Tengah saat ini mencapai sekitar 465.000 ton setara beras. Jumlah tersebut dinilai masih memadai untuk menopang penyaluran sekaligus mengantisipasi kebutuhan masyarakat dalam beberapa bulan mendatang.

“Kalau rata-rata penyaluran sekitar 55.000 ton, stok yang tersedia masih jauh mencukupi. Sementara itu, kami juga masih terus melakukan penyerapan,” jelasnya.

Untuk penyaluran beras SPHP, Bulog Jateng mencatat realisasi mencapai 116.000 ton atau 144,72 persen dari target sekitar 101.000 ton. Rata-rata penyaluran beras SPHP di Jawa Tengah mencapai 110 ton per hari melalui berbagai saluran distribusi.

Penyaluran dilakukan melalui pasar rakyat, jaringan distribusi, gerakan pangan murah, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai lembaga. Setiap outlet SPHP di pasar rakyat dan sejumlah jaringan penyaluran umumnya mendapat alokasi sekitar dua ton per minggu, dengan kesempatan mengajukan tambahan pasokan apabila stok habis sebelum jadwal distribusi berikutnya.

Bulog juga mulai memperluas akses beras SPHP melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Skema tersebut diharapkan mempermudah masyarakat di wilayah pedesaan memperoleh beras dengan harga terjangkau, sekaligus memperkuat jalur distribusi pangan hingga tingkat desa.

Baca juga:  Mandiri Livin' Fest 2025, Sinergikan UMKM dan Ekonomi Kreatif

Sri Muniati menjelaskan, KDKMP mendapat fleksibilitas pemesanan beras SPHP sesuai kebutuhan, tanpa batasan jumlah seperti yang diterapkan pada sejumlah saluran distribusi lainnya. Namun, penyaluran tetap memperhatikan kebutuhan dan kondisi stok di masing-masing lokasi.

Dari sisi harga, beras SPHP kemasan lima kilogram dijual dengan harga maksimal Rp12.500 per kilogram di Jawa Tengah. Sementara itu, beras medium non-SPHP memiliki harga eceran tertinggi Rp13.500 per kilogram, sehingga masyarakat dapat membedakan harga beras program stabilisasi dengan beras medium komersial.

Memasuki akhir tahun, Bulog juga mengantisipasi potensi gangguan produksi akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berdampak hingga awal 2027. Ketersediaan stok saat ini menjadi salah satu modal untuk menjaga kesinambungan pasokan ketika produksi dan pola panen menghadapi perubahan.

Selain penyaluran SPHP, Bulog Jateng juga merencanakan kembali distribusi bantuan pangan kepada masyarakat pada Oktober hingga Desember 2026. Langkah tersebut diharapkan membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus meredam tekanan harga pangan menjelang pergantian tahun.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...

Alami Insiden pada PON XX, Atlet Gantole...

Direktur PLN Bahas EBT di Kuliah Umum...

PLN Siap Laksanakan RUPTL 2025-2034

Pasar Modal Edukasi dan Literasi Atlet