JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI, A. Muhaimin Iskandar, memberikan penghargaan kepada dua pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sukses mengembangkan produk olahan singkong di Kota Salatiga. Keduanya dinilai turut mengangkat potensi pangan lokal melalui inovasi produk dan pengembangan usaha berbasis singkong.
Penerima penghargaan tersebut adalah Toni Anandya Wicaksono, pengembang produk Argotelo, serta Hendardi, pelaku usaha yang mempopulerkan singkong keju D-9. Keduanya juga berkontribusi dalam mengembangkan Kampung Singkong Salatiga sebagai sentra kuliner dan oleh-oleh khas daerah.
Penghargaan diserahkan saat Muhaimin berdialog sekaligus meninjau Kampung Singkong di Dukuh Ngaglik, Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Kamis (15/10/2026). Kunjungan tersebut turut didampingi Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin.
Muhaimin mengaku bangga melihat perkembangan produk olahan singkong yang mampu tumbuh menjadi usaha bernilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah. “Saya bersyukur dan bangga dengan kemajuan produk olahan berbasis singkong ini. Semoga makin maju dan terus berkarya,” kata Muhaimin.
Menurut dia, keberadaan Kampung Singkong memiliki potensi besar untuk mendorong produk lokal semakin dikenal luas. Pengembangan usaha berbasis potensi daerah juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM.
Selain mengapresiasi usaha kuliner berbahan singkong, Muhaimin juga memberikan perhatian terhadap perkembangan industri kreatif di Salatiga. Dia mengapresiasi karya Andi Taru yang mengembangkan game edukasi, film animasi, serta berbagai produk teknologi informasi (TI).
Muhaimin turut menyoroti keberadaan layanan ojek lokal Salatiga bernama Jeggboy yang digagas Sahonoe. Menurutnya, berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi masyarakat tidak terbatas pada sektor kuliner, tetapi juga mencakup teknologi dan jasa.
Dia menegaskan, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendorong pertumbuhan usaha masyarakat, termasuk pelaku industri kreatif.
Kampung Singkong Salatiga menjadi salah satu pusat kuliner dan oleh-oleh khas yang mengandalkan singkong sebagai bahan baku utama. Sejumlah UMKM di kawasan tersebut mengembangkan beragam produk olahan yang kini dikenal hingga berbagai daerah.
Selain Argotelo dan D-9, kawasan ini juga memiliki pelaku usaha yang merintis produk olahan singkong, di antaranya getuk ketek dan cassava. Keberadaan mereka memperkuat posisi singkong tidak sekadar sebagai komoditas pertanian, tetapi juga bahan baku produk kuliner dengan nilai tambah ekonomi.
Salah satu kisah perkembangan usaha tersebut datang dari Toni Anandya Wicaksono, perintis Singkong Keju Argotelo. Dia mulai merintis bisnisnya pada 2016 dengan modal awal sekitar Rp50.000 dan kapasitas produksi hanya 10 kilogram singkong per hari.
Seiring waktu, Argotelo berkembang tidak hanya sebagai usaha penjualan makanan olahan singkong. Toni juga berupaya menghadirkan kegiatan edukasi bagi pengunjung dan pelajar yang datang untuk mengenal lebih jauh potensi singkong serta proses pengolahannya.
Bagi Toni, pengembangan usaha tidak semata-mata mengejar keuntungan. Dia berharap bisnis yang dirintisnya dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat sekitar, termasuk melalui pemanfaatan potensi lokal dan terbukanya peluang ekonomi.
Perkembangan Kampung Singkong menjadi gambaran bagaimana potensi pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk unggulan melalui kreativitas, ketekunan, dan inovasi pelaku UMKM. Sehingga dukungan serta kolaborasi berbagai pihak diharapkan mampu memperluas pasar produk lokal sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat Salatiga.( deb)







