Dari Tabung ke Jaringan Pipa, Portobello Menekan Biaya Energi Dapur


PEMANFAATAN GAS BUMI- Portobello memanfaatkan jaringan gas bumi PGN untuk mendukung aktivitas dapur dan menekan biaya energi operasional. FOTO: PRASETYA WIDODO/JATENG POS

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Di dapur usaha kuliner, api yang menyala bukan sekadar penanda dimulainya aktivitas memasak. Di balik setiap hidangan yang tersaji, ada perhitungan biaya bahan baku, tenaga kerja, waktu produksi, hingga energi yang digunakan untuk mengolah makanan. Ketika jumlah pesanan meningkat, kebutuhan energi ikut bertambah dan pengeluarannya dapat memengaruhi efisiensi usaha.

Bagi Portobello, usaha kuliner yang beroperasi sejak 2013, pengelolaan biaya energi menjadi salah satu pertimbangan dalam menjaga kelancaran operasional. Pemanfaatan jaringan gas bumi dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menjadi pilihan setelah pengelola melihat peluang penghematan dibandingkan penggunaan LPG tabung.

Finance and Leader Portobello, Ayang Ardyana Susilowati, yang akrab disapa Nana, mengatakan keputusan tersebut berawal dari keberadaan jaringan PGN di sekitar lokasi usaha. Penawaran yang diterima pemilik kemudian ditindaklanjuti dengan perhitungan biaya pemasangan dan potensi pengeluaran energi untuk jangka panjang.

“Perbedaannya signifikan, sekitar 30 sampai 40 persen dibandingkan kalau kita memakai LPG biasa,” kata Nana, saat menceritakan pengalaman Portobello menggunakan gas bumi.

Bagi usaha kuliner, selisih pengeluaran itu bukan perkara kecil. Efisiensi energi dapat membantu pelaku usaha menjaga struktur biaya operasional, terutama ketika harga bahan bakar berubah dan aktivitas dapur harus mengikuti permintaan pelanggan. Penghematan yang diperoleh pun dapat memberi ruang lebih besar untuk mengelola kebutuhan usaha lainnya.

Sebelum menggunakan gas bumi, dapur pusat Portobello mengandalkan LPG tabung berkapasitas 50 kilogram. Nana mengingat harga satu tabung sempat mencapai sekitar Rp1 juta dalam periode yang ia ceritakan, dengan kebutuhan delapan hingga sembilan tabung per bulan. Pengeluaran tersebut membuat biaya bahan bakar menjadi salah satu komponen yang perlu diperhitungkan secara rutin.

Setelah beralih ke gas bumi, pengeluaran energi dapur pusat disebut berada di kisaran Rp1,2 juta ketika aktivitas sedang ramai, sedangkan pada periode normal hingga sepi dapat berada di bawah Rp1 juta. Angka itu merupakan gambaran berdasarkan pengalaman pengelola, bukan perbandingan biaya yang berlaku sama bagi seluruh pelanggan.

“Kalau menggunakan PGN, mau memasak dalam jumlah banyak, biaya yang kami keluarkan tetap lebih terkendali,” ujarnya.

Praktis, Tak Perlu Repot Mengganti Tabung

Manfaat gas bumi bagi Portobello tidak hanya berkaitan dengan biaya. Sistem penyaluran melalui jaringan pipa membuat dapur tidak perlu bergantung pada penggantian tabung sebagai rutinitas utama setiap kali persediaan bahan bakar habis. Selama pasokan tersedia dan instalasi berfungsi normal, kegiatan memasak dapat berlangsung tanpa jeda akibat pergantian tabung.

Di Portobello, gas bumi digunakan untuk mendukung operasional dapur pusat yang mengolah bahan makanan hingga setengah jadi sebelum dikirim ke outlet untuk proses penyelesaian. Kebutuhan energi tersebut menopang penggunaan sejumlah peralatan memasak, termasuk kompor dan oven, yang bekerja mengikuti kebutuhan produksi.

Dalam usaha kuliner, kelancaran dapur berhubungan langsung dengan kemampuan menjaga ritme kerja. Ketika persiapan bahan makanan berjalan sesuai jadwal, proses distribusi ke outlet dapat lebih terencana. Karena itu, kemudahan memperoleh energi menjadi salah satu pertimbangan dalam pengelolaan kegiatan sehari-hari.

Baca juga:  Eric Pengusaha Muda Jepara Sebut Figur Prabowo - Gibran Layak Jadi Pemimpin

Nana menilai pelayanan dan penanganan teknis juga menjadi bagian dari pengalaman penggunaan gas bumi. Ia mengingat pernah terjadi gangguan beberapa tahun lalu, tetapi dalam periode setelahnya pasokan dirasakan lebih lancar.

“Yang pertama pasti lebih ekonomis. Kalau ada gangguan teknis, penanganannya juga cukup cepat dan responsif,” tuturnya.

Meski menawarkan kemudahan, penggunaan gas bumi tetap membutuhkan kedisiplinan dalam pengoperasian dan pemeliharaan instalasi. Portobello menerapkan kebiasaan mematikan aliran gas melalui keran penutup setelah kegiatan dapur selesai dan melakukan pengecekan meter secara berkala.

Bagi Nana, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemilihan sumber energi bukan hanya tentang harga bahan bakar. Kesesuaian dengan peralatan, kelancaran pasokan, kemudahan penggunaan, dan keamanan instalasi juga perlu diperhitungkan sebelum sebuah usaha memutuskan untuk beralih.

Memperluas Pemanfaatan Gas Bumi

KERAN GAS- Petugas dari PGN memberikan sosialisasi tentang pentingnya menutup atau mematikan keran gas secara total saat restoran tutup kepada karyawan Gerai Portobelo, sebagai bagian dari SOP yang wajib dilakukan, Selasa (11/8/2026). FOTO: PRASETYA WIDODO/JATENG POS

Pengalaman Portobello menjadi gambaran bagaimana efisiensi energi dapat dimulai dari keputusan operasional yang dekat dengan keseharian pelaku usaha. Peluang serupa juga menjadi bagian dari pengembangan pemanfaatan gas bumi PGN di Jawa Tengah, yang mencakup pelanggan rumah tangga, industri, komersial, serta usaha kecil dan menengah.

Area Head PGN Semarang dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Sugiyanto Eko Cahyono mengatakan, PGN terus memperluas pemanfaatan gas bumi melalui pembangunan dan pengembangan jaringan pipa, sekaligus menyediakan solusi penyaluran gas di luar jaringan pipa atau beyond pipeline.

Menurutnya, cakupan pengembangan di wilayah Jawa Tengah dan area layanan terkait meliputi sejumlah wilayah, antara lain Semarang, Sleman, Magelang, Kendal, Batang, Demak, dan Blora. Perluasan dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan infrastruktur serta potensi kebutuhan energi di masing-masing daerah.

Sugianto menjelaskan, dari data PGN kini jumlah pelanggan di Jawa Tengah mencapai 22.099 pelanggan, mencakup sektor rumah tangga, industri dan komersial, serta usaha kecil dan menengah. Pada periode 2024–2025, jumlah pelanggan tercatat tumbuh sekitar 25 persen dibandingkan basis pelanggan sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut didukung keberadaan sejumlah kawasan industri, seperti Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Wijayakusuma, Kawasan Industri Candi, Kawasan Industri Terpadu Batang, dan kawasan industri di Demak. Selain sektor industri, PGN juga mengembangkan pasar komersial, termasuk hotel, restoran, dan kafe yang memiliki kebutuhan energi untuk kegiatan operasional.

Sugianto menyampaikan, penggunaan gas bumi berpotensi memberikan penghematan hingga 30 persen dibandingkan bahan bakar gas lainnya. Besarnya penghematan dapat berbeda, bergantung pada pola konsumsi, harga energi pembanding, kebutuhan peralatan, dan kondisi operasional pelanggan.

Bagi usaha kuliner, kontinuitas pasokan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan. Dapur membutuhkan energi untuk menyiapkan pesanan, menjalankan peralatan, dan menjaga proses produksi tetap sesuai jadwal. Dengan layanan gas bumi yang tersedia secara berkelanjutan selama jaringan beroperasi normal, pelaku usaha memiliki alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pengelolaan persediaan tabung.

Baca juga:  Puluhan Sapi Terjangkit LSD

Dari sisi lingkungan, gas bumi menghasilkan emisi karbon dioksida lebih rendah daripada sejumlah bahan bakar fosil lain untuk energi yang setara. Namun, manfaat lingkungan secara keseluruhan juga dipengaruhi oleh kebocoran metana selama produksi dan distribusi, sehingga pengelolaan infrastruktur tetap menjadi faktor penting.

Membuka Akses bagi UMKM

Potensi penghematan tersebut belum otomatis dapat dinikmati seluruh pelaku usaha. Salah satu tantangan pengembangan jaringan gas adalah ketersediaan pipa yang belum menjangkau semua lokasi. Pembangunan jaringan baru memerlukan investasi besar, terutama jika lokasi calon pelanggan jauh dari jaringan yang sudah ada.

Untuk itu, PGN memprioritaskan perluasan dan akuisisi pelanggan di kawasan tengah Kota Semarang serta sejumlah kawasan industri di Semarang, Demak, Kendal, dan Batang. Bagi calon pelanggan yang berada di luar jangkauan jaringan pipa, perusahaan juga menawarkan GasLink berbasis gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) sebagai salah satu solusi beyond pipeline.

Sugianto menjelaskan, proses pengajuan sambungan gas bagi pelaku usaha dimulai melalui formulir registrasi daring atau dengan menghubungi tenaga penjualan PGN. Setelah itu, petugas melakukan survei untuk mengetahui kebutuhan gas, kondisi lokasi, dan kebutuhan pemasangan pipa serta meter sebelum evaluasi dan proses pemasangan dilaksanakan.

Biaya sambungan baru berbeda-beda, bergantung pada volume pemakaian dan kebutuhan instalasi. PGN menyatakan pemasangan pipa dari jaringan utama hingga meter gas di lokasi pelanggan dibiayai perusahaan. Sementara itu, untuk saat ini belum tersedia skema pembiayaan atau subsidi khusus bagi instalasi pipa internal pelanggan.

PGN juga memiliki program pembebasan biaya pengaliran kembali bagi pelanggan rumah tangga dan pelanggan kecil atau UMKM yang telah berhenti berlangganan dan ingin kembali menggunakan gas bumi. Berdasarkan informasi yang disampaikan perusahaan, program tersebut dapat dimanfaatkan hingga akhir 2026 sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi pelaku usaha yang mempertimbangkan peralihan energi, langkah awalnya adalah menghitung kebutuhan bahan bakar, membandingkan pengeluaran dengan sumber energi sebelumnya, dan memastikan kesesuaian peralatan serta instalasi. Perhitungan tersebut membantu menentukan apakah biaya awal dan pola penggunaan gas bumi sepadan dengan manfaat operasional yang diharapkan.

Pada akhirnya, efisiensi energi bukan hanya soal mencari bahan bakar dengan harga lebih murah. Bagi usaha seperti Portobello, keputusan menggunakan gas bumi juga berkaitan dengan kepraktisan, kelancaran produksi, dan kemampuan menjaga biaya operasional agar tetap terkendali.

Dari dapur yang setiap hari menyiapkan hidangan untuk pelanggan, langkah efisiensi itu memperlihatkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari keputusan bisnis yang sederhana. Ketika penghematan bertemu dengan kemudahan penggunaan dan pasokan yang terjaga, gas bumi berpeluang menjadi salah satu pilihan untuk mendukung keberlanjutan usaha kuliner dan UMKM di Jawa Tengah.(aning karindra)


TERKINI

Rekomendasi

...