Habitat dan Pemkab Sragen Bantu 101 Keluarga Miliki Rumah Layak Huni


JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Habitat for Humanity Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Sragen meningkatkan kualitas rumah tidak layak huni (RTLH) bagi 101 keluarga sepanjang 2026. Program ini dilakukan melalui dukungan terhadap Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), yang diperkuat pendanaan tambahan dan pendampingan teknis.

Kolaborasi tersebut menggabungkan bantuan pemerintah, dukungan mitra korporasi, serta partisipasi keluarga penerima manfaat untuk mewujudkan hunian yang lebih aman, sehat, dan nyaman. Skema ini juga mengedepankan perbaikan rumah yang sudah ada agar memenuhi standar kelayakan tanpa harus membangun hunian baru.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Sragen, sebanyak 13.945 keluarga dari kelompok desil pendapatan 1 dan 2 masih menempati rumah tidak layak huni. Dari jumlah tersebut, terdapat 3.229 rumah tangga yang dikepalai perempuan dan 1.912 keluarga dengan anggota penyandang disabilitas, sedangkan 2.151 keluarga tercatat dalam kategori backlog perumahan.

Kondisi hunian yang tidak memadai masih menjadi persoalan bagi keluarga berpenghasilan rendah karena keterbatasan biaya perbaikan. Kerusakan atap, dinding rapuh, lantai tanah, hingga fasilitas sanitasi yang tidak sesuai kebutuhan dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan penghuni.

Melalui skema pendanaan pendamping, bantuan BSPS sebesar Rp20 juta per keluarga dipadankan dengan tambahan Rp20 juta dari Habitat for Humanity Indonesia. Dengan demikian, total dukungan mencapai Rp40 juta per keluarga untuk membantu peningkatan kualitas rumah.

Dukungan tersebut dihimpun melalui kontribusi donatur dan mitra korporasi, kemudian dilengkapi pendampingan teknis dalam perencanaan, pengawasan konstruksi, pengelolaan material, serta penyesuaian kebutuhan hunian. Keluarga penerima juga berpartisipasi melalui kontribusi tenaga atau *sweat equity* selama proses perbaikan berlangsung.

Baca juga:  Penerimaan Pajak Wilayah Jawa Tengah II Tahun 2020 Capai 14,54 Persen

Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah *retrofitting*, yakni memperbaiki dan memperkuat bangunan yang sudah ada sesuai kondisi rumah dan kebutuhan penghuninya. Pekerjaan dapat mencakup perbaikan atap, dinding, lantai, elemen bangunan yang rusak, serta fasilitas sanitasi agar rumah lebih aman dan layak ditempati.

Manfaat program tersebut dirasakan Sri Wahyuni dan ibunya, Samiyati, yang sebelumnya tinggal di rumah dengan atap miring dan dinding berbahan gedek atau anyaman bambu yang sudah tua. Keterbatasan biaya membuat keduanya kesulitan memperbaiki rumah meskipun kondisi bangunan mengkhawatirkan.

“Seandainya tidak dibangun, rumahnya pasti akan ambruk, roboh semua. Atapnya sudah benar-benar miring, dan dindingnya juga masih menggunakan gedek dari bambu yang sudah lama,” ungkap Sri Wahyuni dan Samiyati.

Setelah diperbaiki, rumah keduanya menjadi lebih kokoh, rapi, dan mudah dibersihkan. Lantai yang sebelumnya becek juga sudah lebih baik sehingga keduanya merasa nyaman dan bangga terhadap kondisi tempat tinggalnya.

“Sekarang rumahnya bagus, sudah lebih kokoh lagi. Banyak tetangga yang memuji rumahnya sudah bagus dan tidak seperti dulu lagi, saya jadi bangga,” tutur mereka.

Manfaat serupa dirasakan Suyadi, yang sebelumnya tinggal di rumah berdinding dan beratap bambu dengan lantai tanah. Saat hujan turun, lantai rumahnya basah dan kebocoran genteng membuatnya khawatir, terutama ketika cuaca buruk disertai angin kencang.

Baca juga:  Sekolah Sungai Siluk, Ubah Pencemaran Lingkungan Jadi Wisata Edukasi Terpadu

“Alhamdulillah, bantuan yang diberikan sangat membantu kami. Kloset yang sekarang duduk dan ada pegangannya di dinding. Dulu waktu menggunakan kloset jongkok susah sekali dan khawatir terpeleset. Sekarang sudah nyaman, lebih mudah digunakan dan kami lebih tenang,” ujarnya.

Selain perbaikan fisik, Habitat for Humanity Indonesia memberikan pendampingan melalui pelatihan *Building Back Safer* (BBS) untuk meningkatkan pemahaman keluarga mengenai konstruksi rumah yang lebih aman dan memperhatikan risiko bencana. Program ini juga mengedepankan pendekatan inklusif dengan mempertimbangkan kebutuhan keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas serta rumah tangga yang dikepalai perempuan.

Pada 2026, peningkatan kualitas rumah melalui kolaborasi Habitat for Humanity Indonesia dan Pemkab Sragen telah menjangkau 101 keluarga. Sementara itu, terdapat 904 keluarga yang menjadi prioritas pemerintah daerah, sehingga perluasan kerja sama dengan sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat, dan komunitas dinilai penting untuk menjangkau lebih banyak penerima manfaat.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat upaya penyediaan hunian layak melalui perpaduan pendanaan, keahlian teknis, dan partisipasi masyarakat. Sejak 1997 beroperasi di Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia telah mendukung lebih dari 200.000 keluarga untuk membangun atau memperbaiki rumah sebagai bagian dari upaya mewujudkan kehidupan yang lebih aman dan bermartabat.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...

Mengenal Cara Kerja Honda Smart Key System,...

Masih Banyak Perusahaan Belum Patuh

Kanwil BPN DIY Gandeng PLN dalam Penanganan...

Queen City Mall Semarang Resmi Dibuka