Wibowo Prasetyo Ingatkan Mahasiswa, AI Harus Jadi Alat Bantu Bukan Pengganti Nalar Kritis


JATENGPOS.CO.ID,  TEMANGGUNG – Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan tinggi. Teknologi ini membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, serta pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, pemanfaatannya harus tetap disertai kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan tanggung jawab akademik.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pelatihan Penggunaan AI di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan di Resto Omah Kebon, Temanggung, Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini merupakan kerja sama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, dengan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang.

Pelatihan menghadirkan Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan H. Wibowo Prasetyo dan Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., sebagai narasumber. Hadir pula Wakil Dekan III FTIK UIN Walisongo Semarang Dr. Karnadi, Kasubag TU Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung H. Syukron, serta Ketua Yayasan INISNU Temanggung KH Nur Makhsun.

Dalam paparannya di depan ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan guru, Wibowo Prasetyo menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh tertinggal dalam menghadapi perkembangan teknologi AI. Kehadirannya perlu dipandang sebagai peluang untuk memperkuat kualitas pendidikan sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja.

Baca juga:  Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Semarang Bicara Filosofi Pemimpin yang Baik

“AI sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, termasuk dunia pendidikan. Mahasiswa sekarang bisa mencari referensi, mempelajari berbagai konsep, bahkan memperoleh bantuan untuk menganalisis persoalan dalam waktu relatif singkat. Tetapi jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir secara mandiri,” ujar Wibowo.

Menurutnya, tantangan pendidikan tinggi saat ini bukan lagi sekadar bagaimana mahasiswa memperoleh informasi, melainkan bagaimana mereka mampu memahami, menguji kebenaran, mengolah, dan mengembangkan informasi tersebut menjadi pengetahuan yang bermanfaat.

Ia mencontohkan penggunaan AI dalam penyusunan karya ilmiah. Teknologi dapat membantu mahasiswa menemukan gagasan awal, menyusun kerangka penelitian, atau memahami metode analisis. Namun, mahasiswa tetap harus memeriksa keakuratan informasi, memastikan validitas referensi, serta menghindari praktik plagiarisme.

“Jangan sampai mahasiswa mampu menghasilkan tulisan yang bagus dengan bantuan AI, tetapi tidak memahami apa yang ditulisnya. Teknologi harus membuat manusia semakin cerdas, bukan semakin malas berpikir. AI adalah alat bantu, bukan pengganti kemampuan intelektual manusia,” tegasnya.

Wibowo juga mengingatkan bahwa perkembangan AI akan memengaruhi kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Karena itu, perguruan tinggi perlu memperkuat kemampuan mahasiswa dalam berpikir analitis, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan teknologi baru.

Baca juga:  Gubernur Ahmad Luthfi: Jelang Lebaran Jangan Ada Permainan Harga!

Sementara itu, Rektor INISNU Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda menyoroti pentingnya kesiapan perguruan tinggi dalam mengintegrasikan AI ke dalam kegiatan akademik. Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu dosen mengembangkan metode pembelajaran yang lebih menarik sekaligus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar secara lebih mandiri.

“Perguruan tinggi perlu membangun budaya akademik yang terbuka terhadap perkembangan teknologi. AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran dan penelitian, tetapi penggunaannya harus tetap memperhatikan etika, kejujuran ilmiah, dan kualitas proses pendidikan,” ujar Hamidulloh.

Ia menambahkan, perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki tanggung jawab untuk memastikan kemajuan teknologi berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai moral dan karakter mahasiswa. Penggunaan AI tidak boleh mengabaikan integritas akademik yang menjadi landasan utama pendidikan tinggi.

Pelatihan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang penggunaan AI secara produktif dan bertanggung jawab di lingkungan perguruan tinggi. Selain penguasaan teknologi, peserta didorong untuk memahami keterbatasan AI, termasuk kemungkinan munculnya informasi keliru, referensi yang tidak valid, serta persoalan privasi dan keamanan data.


TERKINI

Rekomendasi

...