JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Kesejahteraan petani di Jawa Tengah perlu terus diperbaiki di tengah capaian produksi beras yang meningkat di provinsi ini.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, sejauh ini masih ada kesenjangan antara peningkatan produksi beras dengan kesejahteraan petani.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) pendapatan petani masih di kisaran Rp2,4 juta per bulan.
“Padahal standar Bank Dunia terhadap pendapatan layak petani berkisar Rp7,5 juta per bulan,” ujar Sarif Abdillah.

Kakung, sapaan akrab Sarif, tolak ukur kesejahteraan petani tidak cukup hanya berbasis Nilai Tukar Petani (NTP), tetapi juga mempertimbangkan riil pendapatan.
“Karena itu kita terus mendorong pemerintah agar bagaimana kesejahteraan petani ini meningkat,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Apalagi, kata Kakung, jika mengacu NTP, angkanya di Jawa Tengah terus fluktuatif. BPS menyebut NTP pada Oktober 2025 sebesar 116,41.
“Angka ini turun 0,36% dari bulan sebelumnya,” jelas legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Di sisi lain, produktivitas gabah kering giling (GKG) di Jateng periode Januari hingga Oktober 2025 mengalami peningkatan 253.627 ton dibandingkan periode yang sama di tahun 2024.
“Ini tentu merupakan jasa besar dari para petani. Karena itu sudah semestinya, pemerintah terus melakukan perbaikan kesejahteraan mereka,” tandasnya. (adv)






