Air Adalah Teman yang Baik Tetapi Musuh yang Mematikan

Kasmuri S.Pd. Guru (SD N Candi 03)

Kecelakaan dapat terjadi di mana saja, di rumah, di kantor, dalam perjalanan, bahkan ketika melakukan acara santai sekalipun. Sebuah kecelakaan dapat terjadi karena faktor ketidaksengajaan. Hal yang terjadi di luar dugaan ini menimbulkan rasa kaget dan dapat menyebabkan kepanikan. Kepanikan yang terjadi dapat menyebabkan seseorang tidak dapat berpikir secara sehat untuk mengatasi masalah yang terjadi.

Mengatasi sebuah kecelakaan tidak hanya dibutuhkan ketenangan dalam bertindak melainkan juga harus memiliki keterampilan yang memadai agar tindakan yang diambil adalah tindakan yang tepat. Keterampilan ini sangat penting karena dalam proses pertolongan juga mempertimbangkan keselamatan setiap orang yang terlibat dalam peristiwa penyelamatan. Jangan sampai ketika melakukan penyelamatan si penolong ikut masuk dalam keadaan berbahaya. sehingga keterampilan menyelamatkan korban kecelakaan sangat penting dan harus diketahui oleh setiap orang karena kecelakaan tidak memilih waktu, tempat, dan siapa yang menjadi korban.

Memang sebagian besar orang beraktivitas di darat, namun tidak menutup kemungkinan seseorang beraktivitas di air, sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan di air juga ada salah satunya di kolam renang. Keterampilan penyelamatan kecelakaan di air memiliki prinsip yang sama dengan proses penyelamatan di darat, yaitu menolong tanpa menambah korban baru. Keterampilan ini dapat digunakan untuk menyelamatkan diri sendiri maupun orang lain dari kecelakaan.

Sebagai guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan pada SD Candi 03 candisari, Semarang. Kegiatan praktek olah raga renang yang sesuai kurikulum secara periodik kita adakan dengan tujuan penguasaan salah satu gaya renang, dan Teknik menjaga keselamatan diri di kolam renang (injak-injak air, gaya katak terbalik).

Kecelakaan di kolam renang bukan semata-mata karena tidak adanya pengawas kolam, tetapi lebih banyak disebabkan oleh ketidakmampuan perenang mengukur kemampuan diri sendiri, kurang hati-hati, kurang pengetahuan tentang penyebab kecelakaan dan lain sebagainya. Menurut Danielle L. Chappel seorang instruktur dari YMCA, di Amerika Serikat apabila suatu kolam renang pernah mengakibatkan kematian sampai dua kali, maka kolam renang tersebut harus ditutup. Kolam boleh dibuka kembali, jika keselamatan perenang terjamin. Di Indonesia, keadaan tersebut belum dapat dilakukan, karena terbatasnya fasilitas kolam renang dan minat menjadi penyelamat kolam renang sangat kecil (Sugiyanto, 1989).

Berenang yang baik bukan berarti kita harus berenang dengan gaya yang indah dan cepat, melainkan kita harus dapat terapung lama dan berenang dengan perlahan-lahan. Seseorang yang ingin berenang, tetapi tidak menguasai salah satu diantara gaya renang, sebaiknya belajar di perkumpulan atau guru privat. Belajar pada guru pembimbing akan lebih menjamin keselamatan bila dibandingkar dengan belajar sendiri, sebab guru pembimbing yang baik akan mengutamakan keselamatan anak didiknya. Kemampuan berenang tidak akan membuat kita terhindar dari mati tenggelam, tetapi akan sangat mengurangi kemungkinan kecelakaan tersebut. Oleh sebab itu, apa yang dinyatakan oleh Commodore “water is a good friend but a deadly enemy”, merupakan peringatan yang harus diperhatikan oleh setiap perenang. (The Arne· rican Red Cross, 1981:6)

Menurut Danardani (2006) Proses pertolongan, seorang penolong dapat melakukan seorang diri untuk membawa korban dari tengah perairan ke tepi. Adapun teknik yang dapat digunakan, yaitu: The hip carry rescue yaitu membawa korban dengan menggunakan gaya dada terbalik (Back Crawl) serta kedua tangan memeganggi korban. Cara memegang korban yaitu menyilangkan salah satu tangan dari bawah lengan dan menyilang di depan dada korban dan dikaitkan pada tangan satunya. Posisi kepala berada di bahu tempat tangan penolong yang digunakan untuk menyilang. Keadaan korban harus diperhatikan agar wajah terutama hidung dan mulut tidak terkena air. Ada juga cara kedua yaitu Armpit tow untuk menolong korban yang masih dalam keadaan sadar tetapi tidak mampu lagi untuk berenang ke tepi sehingga membutuhkan pertolongan untuk dapat mencapai tepi. Penolong memegang lengan korban secara berlawanan dengan tangan penolong yang akan membantu. Apabila peolong memegang dengan tangan kanan, lengan kiri korbanlah yang dipegang tepatnya di pangkal lengan. Posisi korban dalam keadaan terlentang dan penolong menarik korban dengan berenang menggunakan gaya dada.

Peristiwa kecelakaan dapat terjadi di mana saja dan dapat menimpa siapa saja. Dibutuhkan suatu keterampilan khusus agar dapat menyelamatkan korban. Dengan demikian, proses penyelamatan bagi diri sendiri maupun orang lain sangat perlu untuk dipelajari dan sangat bermanfaat untuk diterapkan di masyarakat. Beberapa teknik dapat digunakan, baik untuk menyelamatkan diri sendiri maupun untuk menyelamatkan orang lain.

Kasmuri S.Pd.

Guru  (SD N Candi 03)