Aktivis Uighur : Kebakaran Urumqi Kelalaian yang Disengaja

    Wawancara Eksklusif - Abdulkadir Tumturk, Aktivis Uyghur, Pengurus Yayasan Budaya & Solidaritas Turkistan Timur

    Abdulkadir Tumturk, Aktivis Uyghur, Pengurus Yayasan Budaya & Solidaritas Turkistan Timur (ist)

    JATENGPOS.CO.ID, TURKI – Insiden kebakaran yang menimpa etnis Uighur di salah satu apartemen di Urumqi, Xinjiang, China, Kamis (24/11) lalu memicu keprihatinan, kritik, spekulasi dan tudingan berbagai aktivis Hak Asasi Manusia Internasional. Kebakaran nahas yang menewaskan 10 orang dan 9 luka-luka tersebut diduga lebih diakibatkan oleh penguncian rumah warga sipil imbas kebijakan zero Covid yang diterapkan Pemerintah China.

    Lambannya petugas pemadam kebakaran dengan dalih armada mobil PMK yang tidak dapat mengakses jalan sempit menuju TKP juga dinilai sebagai upaya pembiaran atas insiden yang menyulut aksi demonstrasi di berbagai kota besar di China ini. Bagaimana reaksi aktivis Uighur dalam menanggapi peristiwa ini? Berikut wawancara eksklusif dengan Abdulkadir Tumturk.

    Setidaknya 10 orang tewas dan sembilan luka-luka akibat kebakaran yang melanda apartemen di Urumqi, Xianjiang, China, Kamis (24/11) malam. Bagaimana Anda menanggapi kasus ini?

    Pada 24 November lalu, saudara-saudara kita dipenjarakan di rumah mereka di kota-kota di Turkistan Timur, termasuk Urumqi/Xinjiang dan di berbagai bagian China, yang didengar dunia secara terbuka, mereka sama sekali tidak dapat menghubungi dunia luar. Bersamaan dengan keputusasaan ini, mereka disingkirkan dari dunia luar dengan alasan virus Corona, yang merupakan suatu penindasan luar biasa seperti kelaparan, kesengsaraan dan penindasan, dipisahkan dengan keluarga dan anak-anak mereka di rumah mereka atau dengan anggota orang lain di rumah mereka, dengan pintu yang terkunci. Mereka orang-orang dan anak-anak yang kelaparan (kemudian) mencoba memakan sepatu, kain, barang-barang plastik mereka sendiri di rumah mereka karena tidak adanya roti (makanan) untuk dimakan di atas meja mereka. Sayangnya, setelah itu beberapa saudara-saudara kita yang secara paksa dan diam-diam memasuki rumah mereka kembali menemukan mayat keluarga mereka yang tertindas, anak-anak, wanita, muslim, yang telah meninggal beberapa hari yang lalu, atau bahkan mungkin berminggu-minggu yang lalu.

    Dalam insiden kebakaran yang terjadi pada 24 November, itu adalah refleksi dari kebrutalan terakhir yang kami dengar di dunia luar. Sebagaimana yang dikabarkan kepada dunia bahwa 10 orang (menjadi korban), tetapi menurut informasi yang kami terima, 44 orang yang menjadi korban terbakar di gedung tersebut. 44 orang saudara dan saudari kita, sayangnya mereka kehilangan nyawa dengan cara yang hingga tidak bisa kita utarakan dengan kata-kata. Insya Allah, kami berdoa semoga Allah memberi mereka pahala dari kafilah syuhada, mengampuni dosa mereka dan memberi mereka kedamaian di akhirat mereka.

    Terkait dengan jumlah korban yang meninggal, angka resmi di sini adalah 10 orang, tetapi angka resmi juga merupakan kebohongan yang disembunyikan. Bukan 10 orang, informasi yang datang ke kami hari itu ada 44 orang, lalu dikatakan selanjutnya 100 orang dan Ini hanya kejadian di Urumqi/Xinjiang. Tentu saja, dalam menghadapi peristiwa ini, tidak hanya orang Turki Uighur, tetapi juga orang Kazakh dan orang Tionghoa yang tinggal di sana memulai protes di jalan-jalan dengan mengibarkan bendera pemberontakan melawan Pemerintahan Komunis Tiongkok yang kejam.

    Apakah benar bahwa kebijakan lockdown  atau isolasi di kota tersebut menghambat upaya penyelamatan oleh petugas, sehingga kebakaran tidak dapat ditangani dengan cepat?

    Anda bertanya bahwa Kota Urumqi memiliki kebijakan isolasi. Kebijakan isolasi ini, pembantaian (dengan dalih) isolasi ini telah berlangsung berbulan-bulan, tidak hanya di Urumqi/Xinjiang, tetapi juga di kota-kota lain di Turkistan Timur seperti Kasgar, Houten, Tufan, Hulul, Aksu, Gurca, Yarken dan kota-kota lainnya. khususnya dengan alasan Corona. Dengan dalih propaganda pembersihan Corona dengan zero tolerance terhadap penyakit ini, ini menjadi alasan untuk pengambilan organ dari saudara kita dan umat Islam disana (Masyarakat Uighur).

    Ketika orang-orang (Uighur) pergi ke rumah sakit karena penyakit Corona, mereka tidak mengobati secara benar-benar dan hanya mengisolasi kamar pasien dan tidak melakukan tes. Hasilnya sama sekali tidak positif dan kami (orang Uighur) bukanlah pasien Corona, tetapi mereka menunjukkan video berbeda seolah kami terjangkit dan diberikan suntikan. Sayangnya, ketika kami pergi ke rumah sakit dan kemudian diisolasi, anak-anak kami dirumah dibiarkan kelaparan. Hingga orang tua kami meninggal karena kelaparan akibat isolasi dan bahkan ada video (yang membuktikan) hal ini.

    Sekarang, pada bagian yang Anda sebutkan di pertanyaan kedua bahwa tidak adanya intervensi (oleh Petugas SAR dan Pemadam Kebakaran), ya tidak ada suatu intervensi apapun. Dan pasti tidak ada intervensi apapun. Karena, dalam dokumen yang kami terima, ketika orang-orang yang berada didalam bangunan (yang terbakar) meminta bantuan mengatakan “Tolong buka pintunya, kami dapat menyelamatkan nyawa kami sendiri” orang-orang diluar hendak pergi membantu karena petugas pemadam kebakaran tidak dapat memasukkan kendaraan, ke wilayah tersebut. Tetapi meskipun pemadam kebakaran memang tidak bisa memasuki wilayah tersebut, orang-orang diluar bangunan tetap akan bisa masuk dan menolong mereka dengan peralatan untuk memotong besi atau benda yang dapat digunakan untuk mendobrak pintu dan merusak kunci pintu, namun Otoritas China tidak mengizinkan mereka melakukan ini.

    Jadi di sini, telah terjadi kebohongan yang disebarkan kepada dunia luar. Di sini, pembantaian besar-besaran terjadi di depan mata. Karena Muslim yang dibunuh di sini sepenuhnya Muslim, tertindas, dan etnis Uighur, mereka mencoba membuat penyebab umum pembunuhan massal yang kita sebut genosida, dengan dalih Corona.

    Dalam sebuah pemberitaan kepala pemadam kebakaran dan penyelamatan Urumqi, Li Wensheng, mengatakan evakuasi kebakaran itu sulit dilakukan karena akses jalan memang sempit sehingga tim penyelamat sulit untuk memasuki lokasi, bagaimana pendapat Anda?

    Dalam sebuah laporan, departemen SAR dan pemadam kebakaran Urumqi mengatakan bahwa para tim pemadam tidak dapat masuk karena akses yang terbatas di sana, adalah jelas sebuah kebohongan. Rumah-rumah Di ibu kota seperti Urumqi, jika Anda mengunci rumah dan pintu serta memenjarakan orang, jika Anda mengunci bangunan dengan rantai dengan las besi di pintu. Mobil-mobil Pemadam tidak melakukan ini. Orang-orangnya lah yang keluar dari mobil itu dan melakukannya. Para pembunuh (Aparat Pemerintah) menutup dan mengisolir (rumah-rumah tersebut) dengan tangan mereka sendiri. Selain itu, jika mobil-mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk, Anda harusnya melihat bahwa ini bertentangan dengan tata kota.

    Jika mobil-mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk, jika petugas pemadam kebakaran di sana tidak bisa masuk, kami warga Uighur berkata, “Kami bisa masuk dan mengeluarkan mereka yang ada didalam”. tetapi mengapa mereka Aparat Pemerintah tidak mengizinkan ini?.  Bahkan, saudara-saudara kita (Masyarakat Uighur) yang datang ke gedung-gedung yang terbakar tersebut dari beberapa tempat untuk mengambil anak-anak dari lantai satu dan dari lantai dua, melompat turun dari gedung dan menyelamatkan anak-anak itu, Meskipun sayangnya mereka kehilangan nyawa mereka sendiri. Saudara kami yang seperti ini juga tidak absen untuk ambil bagian (dalam membantu penyelamatan ketika kebakaran). Jika China mengatakan bahwa ambulans dan pemadam kebakaran tidak dapat memasuki zona kebakaran dan jalanan tersebut sempit, kita harus mengerti bahwa itu bukan karena jalan tersebut sempit, tetapi fikiran mereka yang terfokus pada pembantaian tersebut yang membuat mereka membiarkan orang-orang Uighur tersebut mati (dalam kebakaran).

    Bagaimana sikap aktivis Uighur saat ini dalam merespon peristiwa kebakaran di Urumqi?

    Aktivis Uighur, warga Uighur, hingga Warga selain Uighur mengadakan demonstrasi, protes, dan pawai di depan konsulat China dan kedutaan besar China di negara-negara berbagai belahan dunia, di Eropa, Amerika, Australia, khususnya di Turki, dan di berbagai negara di dunia. Namun, pawai dan demonstrasi terorganisir ini tidak dapat mencapai hasil penuh karena kepentingan antarnegara dari beberapa negara dengan imperialisme Tiongkok tanpa memberi kesempatan untuk mereka menunjukkan reaksi mereka (berdemonstrasi) bahkan sejak dari jarak yang sangat jauh dari Gedung Konsulat/Kedutaan Besar.

    Mengapa tidak dipersilahkan kami pergi ke depan Konsulat China dan membiarkan mereka meneriakkan kemarahan mereka, permasalahan mereka, dan tidak mengizinkan mereka melakukan protes ini dengan keyakinan, tangan, lidah dan hati mereka sebanyak yang mereka bisa tentang pembantaian dan penindasan yang terjadi kepada mereka? Aksi Demonstrasi yang kami lakukan sudah sesuai hukum, demokratis, dan legal. Kami tidak membawa senjata tajam, tidak memiliki senjata, dan kami bahkan tidak berniat membunuh, Kami hanya ingin meneriakkan suara mereka kepada pers dan dunia didepan konsulat/kedutaan China, tentang kesalahan dan pembantaian dengan spanduk, banner, dan tulisan protes di tangan kami.

    Apakah ada rencana melakukan demonstrasi besar dalam waktu dekat, mengingat tanggal 10 Desember 2022 ini adalah Hak Asasi Manusia?

    10 Desember adalah Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, dan sayangnya, Hari Hak Asasi Manusia yang dirayakan sejak 1949 ini, masih terjadi penganiayaan dan pembantaian oleh Pemerintah China di Turkistan Timur yang telah mereka duduki, dimana penganiyaan tersebut semakin meningkat dari hari ke hari, menambah kebrutalan yang ada. lebih buruk dari hari sebelumnya.

    Seperti yang Anda ketahui, resolusi pertama Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa suatu orang/etnis tidak dapat ditindas, disiksa, diancam karena perbedaan agama, bahasa, pemikiran, dan struktur budaya, inilah hak hidup yang mengharuskan mereka untuk dilindungi dalam hukum yang menunjukkan perbedaan mereka. PBB dan organisasi hak asasi manusia lainnya perlu untuk memberlakukan sanksi penuh terhadap China dengan sangat jelas, sangat transparan,  mengambil sikap terbuka jika perlu di ranah global, di SCO, di parlemen Eropa, di Dewan Keamanan Eropa, dan jika perlu di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Dari waktu ke waktu, pertemuan diadakan di Majelis Nasional negara-negara, di parlemen, senator, di Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam bentuk perwakilan di negara-negara lain di Uni Eropa, dengan laporan yang diperoleh sebagai hasil demonstrasi dan penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia. penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia. Suatu kenyataan dan urgensi yang tak terhindarkan untuk menjatuhkan sanksi besar terhadap China. Dimana pada abad kedua puluh satu ini, China merupakan kelompok pembantaian, kelompok pembunuh, yang bertanggungjawab untuk pembunuhan massal terbesar didunia setelah setelah Nazi Hitler yang kita sebut dengan Holocaust.

    Sungguh memalukan bagi umat manusia untuk membiarkan perlakuan ini setiap harinya. Dimana hingga saat ini masih ada orang-orang tertindas yang meninggal di sana (Xinjiang/Urumqi) yang tidak berdaya. Namun, Allah memiliki kekuatan untuk tidak membiarkan orang-orang yang tertindas dan membalaskan dendam orang-orang yang tertindas ini. Kami sangat menginginkan agar tidak ada manusia manapun di dunia ini yang merasakan hidupnya sendiri dalam bahaya oleh manusia lain di tempat tinggalnya sendiri. Akan tetapi hingga saat ini, umat Islam, terutama di daerah terpencil, terus berada di geografi yang tertindas.

    Karena kekuatan ekonomi China saat ini, karena perjanjian uang yang dibuat negara-negara lainnya dengan China, karena hubungan dagang dengan China, semua negara yang melihat kekejaman ini, pembantaian ini, mengungkap dengan dokumen yang terbukti, namun sayangnya mereka takut untuk membongkarnya. Contoh paling nyata dari hal ini adalah reportase dari seorang petinggi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, (Berhubungan Dengan Micelle Bachelet), yang mengumumkan pengunduran dirinya 15 menit setelah melihat langsung kezaliman di Urumqi/Xinjiang, China beberapa waktu lalu. Dia pergi ke sana, melihat penganiayaan, mendokumentasikannya, tetapi tetap diam selama 3 bulan, 4 bulan, bahkan hingga 5 bulan lamanya tanpa menerbitkan dokumen resmi apapun. Namun 10-15 menit sebelum dia mengakhiri tugasnya di PBB, dia muncul di depan pers dan berkata, “Ya, ada pembantaian besar-besaran dan penganiayaan terhadap orang-orang Uighur di China.”

    Inilah yang kita sebut ketidaktulusan. Apa yang akan terjadi jika Anda melaporkan langsung penganiayaan di sana ketika Anda pergi? Apa yang akan terjadi jika Anda telah memberikan sebelum Anda mengundurkan diri? Apakah Anda akan kehilangan banyak hal? Apa yang menyebabkan Anda diam? Apakah China juga membeli Anda? Apakah kemanusiaan Anda hilang hingga jmenjadi orang yang tidak bermoral yang termakan kata-kata manis China dengan perhiasan berharga, dan uang yang diberikan kepada Anda di sana?

    Itu sebabnya kami mempercayai bahwa di mana pun ada bangsa yang tertindas di dunia, kami bersama mereka. Dan siapapun yang berlaku zalim, maka kami melawannya, kami berdoa kepada Allah SWT agar penganiayaan ini segera berakhir. Semoga Allah merahmati para syuhada kita yang telah gugur dalam kafilah syuhada bagi kita dalam peristiwa tersebut dan khususnya pada peristiwa kebakaran yang terjadi pada tanggal 24 November. Kami memohon kepada Allah untuk mengampuni kami agar mereka (yang menjadi korban) tidak mengadu tentang kami (yang membiarkan hal ini terjadi kepada mereka) di akhirat kelak.

    Semoga Allah menganugerahkan yang tertindas di dunia, Muslim di dunia, orang-orang Uighur dan Kazakh yang tinggal di Tirkestan Timur, untuk menjalani kehidupan di mana mereka dapat hidup sebagai manusia yang bebas, mandiri, dan melindungi agama, kehormatan, kehidupan mereka, keluarga mereka, anak-anak mereka, iman mereka, dan Al-Qur’an mereka. Kami percaya Allah berjanji bahwa Dia akan membalas yang tertindas terhadap yang berbuat zalim. Pada kesempatan inipun, sekali lagi kami ingin menyampaikan isi hati, doa dan duka cita kami kepada saudara-saudara kami di Indonesia atas musibah dan gempa bumi yang memilukan yang sebelumnya melanda Indonesia. Berkaitan dengan Michelle Bachelet, dapat dilihat di:

    https://www.republika.co.id/berita/rh81ad335/kepala-komisioner-ham-pbb-akui-hadapi-tekanan-terkait-laporan-xinjiang

    Jika ada rencana demonstrasi, dapatkah Anda berbagi dengan kami detail rencana tersebut, apa isu yang diangkat dan sejauh mana persiapan dilakukan?

    Sekali lagi, Insya Allah dalam minggu depan di bulan Desember, ribuan saudara dan saudari kita dengan bendera ditangan mereka akan berada di depan Konsulat China di Istanbul Sarıyer, memprotes penindasan Tiongkok. Insiden oknum polisi sebelumnya akan terus membuat kita menjadi lebih kuat, lebih demokratis, dan lebih memiliki persatuan melawan China yang kejam, dan mengumumkan kepada dunia apa yang sedang dilakukan China terhadap masyarakat Uighur. Karena kita adalah kaum tertindas, tanah tersebut (Xinjiang/Urumqi) bukanlah milik China, melainkan milik Turkistan Timur. Kami memohon kepada Tuhan untuk membantu saudara-saudara kami yang tinggal di sana, insya Allah, mereka diselamatkan dari penindasan ini sesegera mungkin. Semoga Tuhan memberkati kita dengan rahmat dan perlindungannya, Melalui perantara Saudara-saudara kami di Indonesia juga, kami kirimkan salam dan doa kami untuk kalian. Semoga Tuhan menjadi penolong kita semua. (*/diq)