Beranda Jateng Angka Kematian Corona Tinggi, Gubernur Harus Lebih Fokus

Angka Kematian Corona Tinggi, Gubernur Harus Lebih Fokus

15
Sekretaris FPKS DPRD Jateng Riyono

JATENGPOS.CO.ID,  SEMARANG – Kondisi kasus Corona di Jateng terus meningkat, masuk 3 besar nasional dalam kasus kematian. Bahkan pejabat provinsi dan daerah banyak yang sudah terkena virus ini.

Kluster baru di kabupaten/kota cukup mengkhawatirkan. Per 23 Juli 2020 terjadi peningkatan kasus baru dari 898 menjadi 1172. Positif Corona sebanyak 7593 orang dengan pasien sembuh 3777 dan meninggal 636 orang.

Data per 19 September mengalami kenaikan kasus sangat signifikan mencapai 1000% lebih. Laporan Dinkes Jateng dalam web tanggap Covid 19 tercatat kasus Corona di Jateng terkonfirmasi positif 19.210 orang, meninggal 1769, dirawat 3041 dan sembuh 14.400.

“Kasus kematian di Jateng cukup tinggi, naik 150% lebih dan masuk 3 besar nasional, data Satgas Covid-19 nasional persentase kematian Covid-19 di Jateng sebesar 6,45% ini membutuhkan kewaspadaan kita semua baik eksekutif ataupun legeslatif” Papar Sekretaris Fraksi PKS Jateng ini.

Data Jateng menyebutkan bahwa angka reproduksi efektif masih di atas angka 1, artinya masih tinggi dan harus diturunkan di bawah 1.

Bahkan data per 14 September Jateng menjadi penyumbang prosentase angka kematian paling tinggi, Terjadi penambahan sebanyak 14 kasus kematian dalam 24 jam, sehingga menyumbang kumulatif kasus kematian menjadi 1.677 kasus.

“Gubernur harus lebih fokus dan membuat kebijakan sistematis dalam sektor kesehatan. Jika Covid terus meningkat jangan berharap ekonomi akan bisa bangkit” kata Riyono

Perlu swab massal dan tracking terhadap kluster baru yang terjadi di Grobogan, Kudus, Wonogiri, Jepara, Kota Semarang dan mulai masuk ke rumah makan serta kluster perkantoran cukup mengkhawatirkan.

PKS mendorong agar pemprop bekerja lebih keras untuk penanganan korona. Usulan PKS untuk mengendalikan covid 19 adalah, pertama mendukung Pemvrop untuk menarik rem lebih dalam daerah – daerah zona merah yang menjadi sumber penyebaran virus, jika perlu PSBB seperti Jakarta.

Kedua, segera adakan dan perbanyak faskes berupa lab tes PCR baik di faskes pemerintah dan swasta. Beli segera mobil PCR per kabupaten untuk mempercepat penanganan korona.

Ketiga, percepat kinerja penyaluran bansos kepada rakyat terdampak korona, per juli baru 28.13%, harusnya per september ini sudah 70%. Kalau masih lamban penyaluran bansos maka masyarakat akan tetap keluar untuk mencari makan.

“Tiga usulan PKS kepada pemprop untuk penanganan korona, kita harus mengendalikan pertambahan kasus jika ingin ekonomi bisa bangkit dari – 5.92% menuju bisa 0% atau 1%. Artinya penanganan kesehatan berhasil jika terjadi penurunan angka kasus korona” tutup Riyono.(udi)