Tujuan mulia Pendidikan Agama islam di sekolah adalah meningkatkan keimanan, ketakwaan melalui pengetahuan,penghayatan,pengalaman. Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat membentuk jati diri peserta didik yang berupaya menyempurnakan keimanan,ketakwaan dan membentuk kepribadian yang tercermin dari tingkah laku atau akhlak mulia, dan kesantunan.. Menjadikan manusia yang kuat dan tangguh menghadapi tantangan dan hambatan dalam persaingan global dan mampu menghadapi perubahan budaya dalam masyarakat dan bernegara.
Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang dianggap rumit oleh sebagian peserta didik karena disamping bermuatan praktik juga bermuatan hafalan seperti materi Rasul Ulul Azmi. Untuk menghafalkan 25 Nabi dan Rasul bagi peserta didik mungkin mudah, tetapi untuk menentukan Rasul Ulul Azmi banyak siswa yang tidak hafal dan tidak tahu, iniah yang dialami oleh peserta didik kelas V SD Negeri 1 Kramat Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung, hasil belajar pada materi tersebut masih rendah.
Meningkatnya Hasil belajar merupakan tolak ukur berhasilnya Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah. Hasil belajar sebagai hasil yang telah dicapai seseorang setelah mengalami proses belajar dengan terlebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang dilakukan. (Arikunto, 2013:63). Menurut Kunandar (2013:62), hasil belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik yang dicapai atau dikuasai peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar.
Untuk meningkatkan hasil belajar ini dapat dipengaruhi oleh pemilihan model pembelajaran , pemilihan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi pembelajaran akan meningkatkan hasil belajar siswa. Perlu juga diperhatikan pemilihan model ini disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi yang dibahas. Model pembelajaran yang dipilih diharapkan peseta didik ikut aktif ambil bagian dalam pembelajaran dan juga akan memudahkan mendapat pengetahuan dari materi pembelajaran tersebut.
Bermain Peran atau Role Playing adalah Model yang memberikan kesempatan kepada siswa-siswa untuk praktik menempatkan diri mereka dalam peran-peran dan situasi-situasi yang akan meningkatkan kesadaran terhadap nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan mereka sendiri dan orang lain(Aris Soimun,2014:161) . Sedangkan menurut Nurdyansah dan Andiek Widodo Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk menghadirkan peran-peran yang ada dalam dunia nyata kedalam suatu pertunjukan peran di dalam kelas/pertemuan,yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian tersendiri(Nurdyansah dan Andiek Widodo,2015:75)
Langkah-langkah pokok dari Model Bermain Peran. antara lain: memilih situasi bermain peran, mempersiapkan kegiatan, memilih peran dan menyiapkan penonton, memainkan peran dan mendiskusikan dan mengevaluasi kegiatan bermain peran. Hal-hal yang harus dilakukan pertama guru menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.Kedua guru menyiapkan siswa untuk mempelajari skenario yang akan ditampilkan. Ketiga guru membuat kelompok siswa dan menerangkan kompetensi yang akan dicapai. Keempat guru memanggil siswa yang sudah dipilih untuk berperan sesuai skenario yang sudah disiapkan dan siswa lainnya membentuk kelompok dan diberikan lembar kerja.Kelima masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya setelah itu guru memberikan kesimpulan secara umum.Keenam Evaluasi dan diakhiri penutup.
Model Pembelajaran Bermain Peran dapat meningkatkan hasil belajar pada materi Rasul Ulul Azmi , hal itu didapat dari pemahaman, dan pengembangan konsep, nilai, moral, serta noma yang dicapai. Peserta didik langsung bekerja dan melakukan interaksi satu sama lain dan melakukan pemecahan masalah bersama. Penggunaan model pembelajaran Bermain Peran menjadikan peserta didik semakin paham tentang materi Rasul Ulul Azmi.
oleh
Aryanto Dwi Wibowo, S.Pd.I
Guru PAI SD Negeri 1 Kramat Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung



