30.2 C
Semarang
Minggu, 6 Juli 2025

Aksara Jawa Mendorong Budi Pekerti Siswa

JATENGPOS.CO.ID,  – Perkembangan teknologi yang pesat semakin menggerus kebudayaan daerah. Generasi muda lebih tertarik pada berbagai hal baru dalam era globalisasi yang tidak terbendung. Banyak hal positif yang disuguhkan tetapi dampak negatifnya juga tidak sedikit. Benteng karakter positif harus ditegakkan dalam diri penerus bangsa agar mampu menyaring derasnya pengaruh modernisasi. Revitalisasi bahasa daerah merupakan salah satu program pemerintah dalam melestarikan budaya bangsa. Disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa pemuda yang dididik dengan semangat kebangsaan dan nilai-nilai luhur akan menjadi tiang kokoh bagi negeri ini. Pendidikanlah yang menanamkan semangat itu dalam jiwa mereka.

Ki Hadjar Dewantara juga menyampaikan bahwa pendidikan merupakan daya dan upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual) dan tubuh anak (jasmani) dengan tujuan memajukan kesempurnaan hidup yaitu kehidupan anak yang sesuai dengan dunianya. “Budi” menurut beliau berarti pikiran perasaan, kemauan dan “Pekerti” berarti tenaga. Athul Musthofa (2018). Maka Pendidikan budi pekerti dapat dijabarkan sebagai suatu upaya memajukan tumbuhnya karakter, pemikiran, dan tubuh anak yang didorong menjadi tenaga untuk memajukan kesempurnaan hidup yaitu kehidupan anak yang sesuai dengan dunianya. Di tanah Jawa sebagai kodrat alam anak terdapat Carakan (abjad Jawa) yang digunakan di dalam ejaan Bahasa Jawa pada dasarnya terdiri atas dua puluh aksara pokok yang bersifat silabik (bersifat kesukukataan) (Darusuprapta, 2002).

Baca juga:  Tingkatkan Hasil Belajar IPA Menggunakan Media Gambar

Dengan semangat Panca Dharma yaitu azas kebangsaan, azas kebudayaan asas kemerdekaan, azas kemanusiaan, azas kodrat alam dapat diimplementasikan dalam pembelajaran menulis aksara Jawa yang menggembirakan, meskipun saat itu belum ada wacana deep learning. Seperti halnya yang diterapkan oleh penulis di SD Negeri 4 Barenglor Kecamatan Klaten Utara Kabupaten Klaten pada tahun 2023. Siswa dibawa dalam kesadaran penuh terhadap keberadaan aksara Jawa sebagai salah satu kekayaan peradaban bangsa. Siswa dipahamkan terhadap akibat yang dapat terjadi ketika ia yang berada pada kodrat alam berbudaya Jawa tidak mempelajari dan memegangnya dengan rasa memiliki. Pembelajaran aksara Jawa yang sarat akan pembentukan budi pekerti luhur dengan berbagai ketentuan yang ada di dalamnya diimplementasikan dengan joyfull learning. Pembelajaran ini diikuti oleh siswa kelas lima sesuai minat dan pilihannya. Siswa diperbolehkan menuliskan satu huruf, satu kata, satu frase, satu kalimat, satu paragraf, ataupun satu teks sesuai keinginan mereka. Siswa menuliskannya dalam lembar kertas berukuran A3 yang mereka desain dengan gambar dan warna sesuai kreatifitas mereka. Siswa kelas lima yang awalnya menganggap bahwa belajar aksara Jawa merupakan hal yang sulit perlahan menerapkan Tri N (Niteni, Niroke, Nambahi) dan akhirnya tidak merasa terbebani.

Meskipun membutuhkan waktu beberapa minggu tetapi nilai luhur dapat dilihat dari hasil pembelajaran tersebut. Karya siswa yang dihasilkan diantaranya ada yang menuliskan ungkapan salam dalam bahasa Jawa beraksara Jawa (sugeng rawuh) dan terima kasih (matur nuwun). Ada pula siswa yang menulis sebuah kalimat sederhana disertai dengan gambar ilustrasinya. Ada siswa yang menuliskan semboyan Ing Ngarsa sung Tuladha, ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani beserta dengan gambar beliau Bapak Pendidikan Nasional sebagai pencetusnya. Siswa dengan semangat yang tinggi ada yang menuliskan sebuah teks cerita dalam beberapa paragraf beraksara Jawa. Setelah proses pembuatan karya telah selesai, mereka sangat antusias untuk menempelkan hasil karyanya di mading yang berada dinding sekolah untuk menunjukkan dan membuktikan kecintaanya terhadap aksara Jawa. Mereka telah mempunyai rasa memiliki yang tertanam dan tidak ingin kekayaan budaya bangsa ini terambil ataupun terhapus.

Baca juga:  Microsoft Power Point, Tingkatkan Minat Belajar Siswa

Meskipun belum menguasai aksara Jawa secara keseluruhan tetapi diharapkan dengan pembelajaran bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan yang telah dilakukan dapat menumbuhkan dan menanamkan semangat untuk mempelajari dan melestarikan aksara Jawa dalam diri siswa secara permanen. Budi pekerti siswa juga terbentuk dalam pembelajaran aksara Jawa yang memuat unggah ungguh. Dengan demikian tujuan pembelajaran dan tujuan nasional dapat tercapai.

 

Eka Anisa

Mahasiswa Pasca sarjana PEP UST Yogyakarta

SD Negeri 1 Gergunung

 

TERKINI

Rekomendasi

Lainnya