Badai Siklon Tropis Nama Seindah Bunga, Memakan Korban Jiwa

Sejumlah warga melintas di tenda warung yang roboh akibat ombak laut di Pantaisari, Pekalongan, (1/12/2017). Siklon tropis dahlia menyebabkan di sejumlah titik di kawasan Pekalongan Utara banjir.

JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA – Siklon tropis bernama bunga sedang menjadi trending topic atau pembicaraan utama masyarakat Indonesia, siklon cempaka dan dahlia. Tak seindah namanya, siklon tersebut berdampak negatif. Bahkan, hingga menyebabkan puluhan korban meninggal dunia.

Siklon tropis adalah badai dengan kekuatan yang besar yang radiusnya rata-rata sekitar 150-200 kilometer. Sudah ada empat siklon yang berada di wilayah Indonesia yang namanya diberi nama dengan bunga sejak tahun 2008, yaitu siklon tropis Anggrek pada 2010, Bakung pada 2014, Cempaka pada 2017, dan Dahlia pada 2017. Pertanyaannya, kenapa harus nama bunga, bukan tokoh wayang, nama gunung, atau nama lainnya?

“Penamaan menggunakan nama bunga agar mudah dikenal masyarakat dan tidak terkesan menakutkan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho lewat keterangan tertulis pada Sabtu (2/12).

Indonesia, kata Sutopo, menamakan siklon tropis yang masuk ke wilayah dengan menggunakan nama bunga setelah dibentuknya Pusat Peringatan Siklon Tropis (TCWC, Tropical Cyclon Warning Center) di Jakarta yaitu di BMKG pada 2008.

“Jadi jelas, tujuan utama penamaan siklon tropis agar orang-orang dengan mudah memahami dan mengingat siklon tropis di suatu wilayah,” kata dia.

Dengan begitu, lanjut Sutopo, dapat membantu meningkatkan peringatan dini, kesiapsiagaan, manajemen bencana dan pengurangan risiko bencana dari pengaruh siklon tropis. TCWC Jakarta memilih menggunakan nama bunga asli Indonesia yang mudah dikenal. “Meskipun dampak siklon tropis bernama bunga ini tidak seindah dan seharum bunga,” kata dia.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) selalu memantau penamaan siklon tropis di masing-masing regional. TCWC regional harus menyiapkan nama yang banyak dan mudah dihafal. Sebelumnya penamaan dilakukan acak dan bebas.

Sejak pertengahan 1900-an penamaan siklon tropis menggunakan istilah feminin. Sebelum akhir 1900-an, para ahli prakiraan cuaca di Hampshire Selatan memberi nama badai dengan nama pria. Agar sistem penamaan lebih terorganisasi dan efisien, para pakar meteorologi kemudian memutuskan memberi nama siklon secara alphabet.

Untuk TCWC Jakarta, kata Sutopo, sudah disiapkan nama bunga sesuai urut abjad yaitu Anggrek, Bakung, Cempaka, Dahlia, Flamboyan, Kenanga, Lili, Mangga, Seroja, dan Teratai. Sedangkan alternatif untuk menggantikan nama siklon yang pensiun menggunakan nama buah, yakni Anggur, Belimbing, Duku, Jambu, Lengkeng, Melati, Nangka, Pisang, Rambutan, dan Sawo.(tmp/udi)