Bakti Bocah 10 Tahun Pada Ibunya Ini Gegerkan Media Sosial

Sejumlah warga bergantian membesuk Ani dan anaknya Rayyan di Bangsal Gladiol RSUD Tidar, Kota Magelang. FOTO:WIWID ARIF/JPNN

JATENGPOS.CO.ID. MAGELANG- Sepuluh hari yang lalu ibunya menderita penyakit gagal ginjal dan harus dirawat di rumah sakit. Sejak saat itu, bocah yang masih duduk di bangku kelas 3 SD itu harus menjadi tulang punggung keluarga.

AL Rayyan Dziki Nugraha (10), seharusnya lebih sibuk dengan kegiatan-kegiatannya di sekolah. Sayangnya, waktu untuk mencari ilmu di usia belianya harus tersita. Sejak awal Februari lalu, dia tidak bisa masuk sekolah.

Kisah bocah ini lebih dulu mencuat di media sosial dan menjadi viral. Itu ditengarai salah seorang perawat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tidar Kota Magelang, Arif, yang mengunggah foto seorang bocah yang tengah menjaga ibunya terbaring di Bangsal Gladiol kelas 3, rumah sakit setempat. Bahkan, ada yang mengetahui jika keseharian Rayyan terpaksa mengumpulkan sampah yang kemudian dijual untuk membiayai dirinya makan selama di rumah sakit.

Ibu kandung sang bocah, Ani Supriyati menderita penyakit gagal ginjal. Sejak saat itu, ibunya hanya bisa terbaring di tempat tidur. Namun, Rayyan, tetap setia menungu dengan sabar dan meladeni apa yang diperlukan ibunya selama di rumah sakit. Dari membantu duduk, mengganti pakaian, ke kamar mandi, dan sebagainya.

”Sudah empat kali masuk rumah sakit karena ibu sakit gagal ginjal dan pembengkakan jantung,” kata Rayyan, yang terus menebar senyum tatkala ditanyai para pembesuk.

Memang, jumlah pembesuk di Bangsal Gladiol RSUD Tidar, Minggu (18/2) tak seperti biasanya. Ani Supriyanti berada di ruangan paling ujung. Ia pun mendapat perhatian dari banyak orang, yang sengaja membesuknya.

Sedangkan bocah itu mengenakan kaos kerah bermotif lurik dan terus menghampiri semua pembesuk yang hadir. Dengan sabar, Rayyan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang mereka ajukan.

Kisah seorang bocah yang menggegerkan jagat media sosial tak hanya menyulutkan para pengusaha dan warga untuk berkunjung. Calon gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pun sempat mendatangi ibu bocah yang dikenal penuh semangat itu. Kemudian juga Pj Bupati Magelang, Tavip Supriyanto dan Kapolres AKBP Hari Purnomo sehari setelahnya.

Walau sempat dihampiri beberapa tokoh terkenal, Rayyan tak langsung berbangga. Ia tetap siap sedia ketika ibunya meminta apapun darinya.

”Nak, tolong pijatkan pundak ibu,” kata Ani lirih. Bocah dengan kulit sawo matang itu pun bergegas menuju tempat tidur dan memijit pundak ibunda tercintanya.

Ani sebenarnya merasa kasihan melihat anaknya yang masih SD harus menanggung beban keluarga. ”Sebenarnya tidak tega tapi bagaimana lagi, kondisi saya seperti ini,” kata Ani, yang tak kuasa menahan air mata.

Sebagai ibu, Ani mengaku hanya bisa berdoa untuk kebaikan anaknya. Dia berharap suatu saat nanti, dirinya bisa sembuh.

”Saya ingin menyekolahkan anak biar dia bisa jadi orang yang sukses,” ucapnya.

Sampai sekarang ini, Ani memang merasa masih lemas. Dia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Jangankan membantu putranya mempersiapkan peralatan sekolah, bangun untuk ke kamar mandi saja tidak kuat.

Sumarman, Kepala SD Negeri Mertoyudan 3, Kabupaten Magelang, mengetahui jika salah satu siswanya ini terpaksa tidak sekolah beberapa hari karena harus merawat ibundanya. Pihak sekolah pun memaklumi Rayyan dan akan memberikan pembelajaran khusus setelah dia kembali sekolah lagi.

”Libur sudah seminggu yang lalu dan Sabtu (17/2) baru masuk. Kami beri kesempatan kepada Rayyan supaya bisa mengejar ketertinggalan pelajaran selama merawat ibunya di rumah sakit,” katanya.

Pihak sekolah bahkan berencana membantu Rayyan dengan memberi peralatan sekolah secara gratis, seperti buku catatan, buku bacaan, alat tulis, maupun seragam sekolah. Sebab, Sumarman menilai bahwa sosok Rayyan adalah anak yang pandai dan tidak gampang menyerah.

”Dia punya semangat dan rajin. Kalau di kelas, ia cenderung aktif, dan prestasinya menengah ke atas,” ujarnya.

Kisah Rayyan yang masih ramai diperbincangkan di media sosial pun berlanjut hingga ke Bangsal Gladiol RSUD Tidar. Saat jam besuk dibuka, petugas rumah sakit sering kebanjiran pertanyaan tempat di mana Ibu Ani dirawat.

Seperti yang dilakukan rombongan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip). Belasan perempuan berhijab itu langsung menuju ruang di mana Ani dirawat. Sesekali mereka memeluk Rayyan karena kekaguman mereka melihat bocah yang taat dan berbakti terhadap ibunya.

”Saya dapat kisah ini dari grup media sosial dan langsung berencana datang dengan alumni SMA Negeri 3 Magelang hari ini (kemarin). Walaupun bukan keluarga, tapi kami merasa bangga dengan Rayyan. Dia punya rasa bakti terhadap orangtua yang begitu besar,” ucap Zulfa Fatmawati (21), seorang mahasiswi yang merasa iba itu dengan meneteskan air mata.

Perempuan yang acap disapa Vava itu merasa sangat terkagum dengan kebiasaan bocah yang meski usianya terpaut hampir 11 tahun lebih muda darinya. Rayyan, menurutnya memiliki pemikiran layaknya orang dewasa.

”Itu membuat kami terketuk hatinya. Bocah seperti Rayyan tidak seperti kebanyakan, yang lebih suka bermain gawai. Rayyan membuktikannya sebagai generasi yang seharusnya membuat orang dewasa malu, jika tidak berbakti terhadap orangtua,” ujarnya.

Saking banyaknya orang yang membesuk, hampir tiap jam besuk dibuka membuat Babinkamtibmas Desa Blondo, Kecamatan Mertoyudan, Aipda Donny Sugiarto berencana untuk membuatkan rekening khusus bagi Ani dan Rayyan. Ia merasa sebagai seorang petugas, tidak hanya membesuk dan mendampingi mereka berdua, karena lebih dari itu, ia mengaku perlu menjaga keduanya.

”Dari keluarga sudah saya tawari tapi tidak ada yang mau. Jika anak kecil nanti yang mengurusnya, saya malah kasihan. Maka terketuk hati saya, untuk membuatkan nomor rekening terhadap Ibu Ani,” ujarnya. (wid/jpnn/muz)