Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Belajar Islam Sambil “Main Kartu”

Belajar Islam Sambil “Main Kartu”

274
Akmal Janan Abror, S.Pd.I Guru SDN Balesari
Akmal Janan Abror, S.Pd.I Guru SDN Balesari

Terwujudnya manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., serta berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur adalah amanah utama Guru Pendidikan Agama Islam.

Kompetensi itu akan tercapai dalam pembelajaran melalui kompetensi guru yang berkualitas dan representatif. Salah satunya adalah kompetensi pedagogik. Dalam kompetensi pedagogik guru dituntut untuk dapat mengelola kelas dengan baik. Guru harus mampu mengambil keputusan untuk menentukan metode yang tepat. Metode sangat berpengaruh pada hasil belajar. Menurut Mulyasa (2009:43) menjelaskan bahwa kegagalan pelaksanaan pembelajaran sebagian besar disebabkan karena menerapkan metode konvensional, anti dialog, proses penjinakan, pewarisan pengetahuan dan tidak bersumber pada realitas masyarakat.

Pembelajaran Agama Islam yang cenderung dogmatis dan statis akan sangat membosankan bagi siswa. Hal ini diperparah lagi dengan kondisi pembelajaran yang masih konsisten menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah yang hanya diselingi sedikit tanya jawab dan diskusi sederhana. Mereka lebih banyak terangsang untuk mengingat dan menghafal materi pelajaran sehingga materi pelajaran akan bertahan sebentar saja dalam ingatan mereka. Pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan hanya niscaya. Hal ini berpengaruh pada hasil belajar siswa yang rendah.

Untuk itulah perlu mencari alternatif representatif guna mengefektifkan pembelajaran di kelas. Salah satunya dengan belajar agama Islam sambil bermain kartu. Bermain kartu di sini bukan berarti bermain judi kartu. Hal itu tentu dilarang dalam Agama Islam (Q.S: al-Baqoroh:219). Bermain kartu yang dimaksud adalah metode pembelajaran dengan menggunakan potongan kartu berisi materi pembelajaran. Metode ini dikenal dengan metode card sort.

Metode card sort adalah metode pembelajaran yang mengajak peserta didik agar mempunyai jiwa yang mandiri sehingga dapat meningkatkan kreativitas peserta didik untuk membuat inovasi dalam pembelajaran (Ismail: 2006). Metode ini merupakan metode pembelajaran melalui permainan sehingga dapat menarik minat siswa untuk belajar. Melalui permainan siswa akan berkembang dalam segi perkembangan berpikirnya maupun kemampuan mengontrol emosi serta melakukan sosialisasi dengan siswa lain dalam kelas. Sehingga metode ini dapat digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu obyek atau mengulangi informasi.

Langkah – langkahnya dalam kegiatan inti pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Guru menyiapkan kartu berisi tentang materi pembelajaran. Jumlah kartu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik di kelas. Isi kartu terdiri dari kartu induk/topik utama dan kartu rinciannya sebagai pasangan. 2) Seluruh kartu diacak agar campur. 3)Bagi siswa ke dalam beberapa kelompok. 4) Minta siswa mengamati penjelasan dengan slide power point. 5) Beri tugas kelompok mengisi kolom diskusi. 6) Beri setiap kelompok paket kartu sortir dan minta memasangkan. Tugas kelompok harus berhubungan dengan isi kartu sortir. 7) Mintalah untuk dipresentasikan. 8) Berilah penguatan dari guru. 9) Buatlah lomba kecepatan memasang kartu sortir. 10 ) Lanjutkan dengan Kuis kecepatan menjawab. 11) Buktikan dengan meminta siswa mendemonstrasikan perilaku yang diharapkan . 12) Beri kesempatan bertanya dan buatlah kesimpulan bersama-sama.

Siswa dibuat merasakan suasana bermain dalam pembelajaran. Mereka bersama-sama mencocokan. Sebagian ada yang berugas menulis, mempresentasikan, berlomba memasangan kartu, berlomba dalam kuiz dan bersama-sama bermain peran. Semuanya aktif dan merasakan pembelajaran agama Islam yang menyenangkan dan bermakna dengan metode bermain kartu sortir. Pembelajaran inipun berimplikasi pada hasil belajar yang proporsional, efektif dan efisien.

Akmal Janan Abror, S.Pd.I
Guru SDN Balesari