Bermain Kartu Cerita untuk Menentukan Ide Pokok

9
Efi Nurahmawati, S.Pd,SD.

Tahap membaca bagi seorang peserta didik sangat penting karena akan berpengaruh kepada sikap membaca dan pandangannya terhadap bahan bacaan. Hasil analisis saya selaku guru wali kelas VI, bahwa peserta didik mengalami kesulitan belajar pada muatan pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pada materi menemukan ide pokok paragraf. Data yang diperoleh bahwa persentase ketuntasan belajar TA. 2020/2021 peserta didik masih 30% atau orang 6, dari jumlah 21 peserta didik hasil belajarnya belum tuntas. Upaya yang sudah saya lakukan adalah dengan pendekatan personal dan latihan soal, tetapi anak-anak lebih mengingat apa yang dilihatnya di televisi atau di gadgetnya, Untuk mengatasi permasalahan di SD Negeri 6 Suwawal pada muatan pelajaran bahasa Indonesia pada materi menemukan ide pokok paragraf, peneliti tertarik untuk menggunakan Media Kartu Cerita.

Media pembelajaran kartu cerita adalah kartu yang berisi kalimat utama yang harus dikembangkan peserta didik menjadi kalimat-kalimat penjelas agar menjadi sebuah wacana. Secara berkelompok peserta didik menganalisis kartu-kartu yang diberikan dan mengurutkannya. Media Kartu Cerita merupakan media pengajaran visual tiga dimensi, karena berupa benda yang sesungguhnya dibuat dari karton yang digunting membentuk kartu-kartu yang di dalamnya bertuliskan cerita. Darwan Syah, Supardi, dan Eneng Muslihah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Diadit Media, 2009), 224-225.

Berdasarkan indera yang digunakan media pembelajaran digolongkan ke dalam tiga bagian yaitu: (1) media yang dapat didengar (visual aids), seperti rekaman, suara, dan radio; (2) media yang dapat dilihat (auditive aids), seperti grafik, bagan, poster; (3) media yang dapat diraba (motorik aids), seperti patung, peta kontur dan model. Langkah-langkah penggunaan Media Kartu Cerita, sebelum melakukan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran kartu cerita terlebih dahulu guru harus mengetahui tahap-tahap pelaksanaan media pembelajaran kartu cerita dalam pembelajaran. Tahap-tahap penggunaan media pembelajaran kartu cerita adalah sebagai berikut: 1. Guru menginformasikan peserta didik tentang cara bermain kartu cerita dan menetapkan waktu permainan. 2. Guru membentuk menjadi 3 kelompok yang setiap kelompoknya 7 peserta didik. 3. Guru membagikan teks cerita menanam padi kepada seluruh peserta didik. 4. Guru membagikan kartu kepada seluruh peserta didik. 5. Peserta didik membaca cerita, kemudian mencari ide pokoknya dari setiap paragraf cerita itu. 6. Peserta didik menuliskan kembali ide pokok dari cerita menanam padi dalam kartu. 7. Guru mengawasi, memotivasi, dan mengarahkan kegiatan peserta didik. Dengan langkah-langkah pembelajaran menggunakan media kartu cerita di atas, peserta didik diarahkan untuk dapat mengorganisasikan daya nalarnya tentang suatu cerita secara tepat. Hal tersebut diharapkan dapat menambah pemahaman peserta didik tentang cerita daripada guru menerangkan teknik dan cara mengarang dari awal hingga akhir pelajaran. Dalam hal ini, peserta didik secara aktif dapat menyimpulkan sendiri materi pelajaran tersebut. Teknik menyusun kartu ini disukai para peserta didik yang senang hal-hal yang nyata dan kinestik, yang senang aktif bergerak dan juga yang senang menyusun potongan gambar atau memecahkan teka-teki.

Hal yang menggembirakan adalah meningkatnya motivasi dan hasil belajar siswa dan ada beberapa alasan, mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa. Alasan berkenaan dengan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa antara lain: a) pengajaran agar lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, b) bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik, c) metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran, d) siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.

 

Oleh :

Efi Nurahmawati, S.Pd,SD.

Guru Kelas SD Negeri 6 Suwawal, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara