Beranda Jateng Banyumas BPBD Banjarnegara Intensifkan Pemantauan Wilayah Rawan Tanah Longsor

BPBD Banjarnegara Intensifkan Pemantauan Wilayah Rawan Tanah Longsor

11
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara Aris Sudaryanto (kiri).

JATENGPOS.CO.ID, BANJARNEGARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Jawa Tengah terus mengintensifkan pemantauan terhadap sejumlah wilayah yang rawan bencana tanah longsor.

“Pemantauan terus kami lakukan di wilayah rawan tanah longsor sebagai upaya mitigasi bencana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara Aris Sudaryanto di Banjarnegara, Selasa.

Dia mengatakan pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana longsor menyusul peningkatan curah hujan di wilayah setempat.

Dia menyebutkan ada sejumlah kecamatan yang dikhawatirkan rawan bencana tanah longsor antara lain Wanayasa, Banjarmangu, Susukan, Pagentan dan Punggelan.

“Pada saat ini kami prioritaskan pemantauan di desa-desa yang ada di lima kecamatan tersebut,” katanya.

BPBD Banjarnegara, kata dia, meminta masyarakat di wilayah setempat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana.

“Masyarakat agar tidak panik menghadapi peningkatan curah hujan namun harus tetap waspada dan selalu berdoa, agar kondisi tetap aman terkendali,” katanya.

Sebelumnya akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr. Indra Permanajati mengingatkan bahwa sosialisasi bencana hidrometeorologi perlu digencarkan dengan memanfaatkan media sosial guna mempercepat informasi.

Indra yang merupakan koordinator bidang bencana geologi Pusat Mitigasi Bencana Unsoed tersebut menambahkan informasi yang perlu diberikan adalah mengenai di mana masyarakat tinggal dan potensi bencana yang bisa terjadi di wilayah itu.

Dia menjelaskan bahwa tiap daerah mempunyai potensi yang berbeda tergantung kondisi geologi dan lingkungan sekitarnya.

“Bentuk aliran sungai, besarnya daerah aliran sungai, morfologi dan morfometri kelerengan bukit, pemukiman, intensitas aliran sungai dan kerusakan-kerusakan lingkungan sekitar merupakan parameter yang bisa dijadikan acuan menentukan tingkat bahaya bencana,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, tingkat bahaya kemungkinan bencana dapat dibedakan dari besarnya potensi yang ada.

“Masyarakat yang hidup di daerah perbukitan yang rawan longsor dan sepanjang aliran sungai menjadi fokus area yang paling berisiko terhadap bencana hidrometerologi,” katanya.

Sementara itu dia juga kembali menjelaskan bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipengaruhi oleh fluktuasi keberadaan air yang ada di dalamnya termasuk curah hujan.

Bencana tersebut, tambah dia, dapat meliputi banjir, tanah longsor, angin kencang dan sebagainya yang bisa dipengaruhi oleh perubahan musim. (fid/ant)