Bupati Semarang Awali Program Pemurnian Tanah Terdampak Pupuk Kimia di Getasan

PUPUK ORGANIK: Bupati Semarang H Ngesti Nugraha turun langsung mencampur pupuk organik untuk pemupukan lahan pertanian sekitar 100 hektar di Getasan, Kabupaten Semarang, mengawali program permunian tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN– Bupati Semarang H Ngesti Nugraha memastikan program unggulan pertanian pemurnian tanah mulai dilaksanakan di tahun 2022. Pada tahap awal, dilakukan pemupukan organik di lahan seluas kurang lebih 100 hektar di Getasan, Kabupaten Semarang.

“Kita mulai tahun ini,” katanya usai acara penyerahan bantuan alat pertanian kepada kelompok tani Getasan di halaman Kantor Kecamatan Getasan, Selasa (13/12/2022).

Ngesti Nugraha menjelaskan program unggulan di bidang pertanian itu dimaksudkan untuk memulihkan kembali kesuburan tanah dengan pupuk organik.

“Pemakaian pupuk kimia yang terus menerus membuat tanah pertanian rusak. Apalagi harganya juga mahal. Kita gerakkan pemurnian tanah dengan pupuk organik yang lebih murah dan hasilnya lebih maksimal,” katanya.

Ngesti mengatakan saat ini terus digalakkan penggunaan pupuk organik untuk pertanian. Para petugas penyuluh juga telah diperintahkan untuk mendampingi petani menggunakannya.

“Sekaligus bersama-sama membuat sendiri pupuk organik cair maupun padat. Sehingga harganya lebih murah dibandingkan pupuk kimia,” jelasnya.

Kepala Dispertanikap, Wigati Sunu yang mendampingi Bupati menambahkan pemanfaatan pupuk organik murni dimulai di Getasan. Sudah ada tiga kelompok tani di Desa Kopeng yang membuat pupuk organik.

“Kita kembangkan juga untuk kelompok wanita tani. Sosialisasi akan terus dilakukan,” terangnya.

Diungkapkan, total lahan yang terpapar bahan kimia mencapai sepertiga dari luasan pertanian yang ada.

“Akibat dari paparan bahan kimia tersebut memengaruhi kesuburan lahan pertanian, produktivitas menjadi terganggu,” jelasnya, Selasa (13/12/2022).

Sunu mengungkapkan, saat ini yang dilakukan adalah melakukan sosialisasi tentang pentingnya pemurnian tanah.

“Harapan kita, semakin banyak lahan yang sehat sehingga hasil panen lebih baik. Beberapa kelompok tani sudah ada yang menggunakan pupuk organik dan padi organik. Lahannya sudah dimurnikan dengan pupuk organik,” paparnya.

“Ada lahan seluas sekitar 1.000 hektare yang diolah dengan pupuk organik. Tiga kelompok tani di Desa Kopeng mulai membuat dan memanfaatkan pupuk organik secara murni,” kata Sunu.

Pada tahun ini pula ada demplot tanaman padi organik di 16 kecamatan. Setiap Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di tiap kecamatan melaksanakan program pemurnian tanah ini.

“Sosialisasi dan pelatihan akan terus dilakukan. Tahun depan ada enam program pelatihan pembuatan yang digandengkan dengan kegiatan pertanian lainnya,” terang Sunu. (muz)