Beranda Jateng Solo Buruh Bangunan Hidup Andalkan Bantuan, Bersyukur Terima Sembako LAPAAN RI

Buruh Bangunan Hidup Andalkan Bantuan, Bersyukur Terima Sembako LAPAAN RI

29
Sarono dan Tembir saat menerima bantuan beras dari LAPAAN RI. Foto : Ade Ujianingsih/Jateng Pos

JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Sarono (52) warga Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, ini selama dua bulan terakhir terpaksa menghidupi keluarga dengan mengandalkan bantuan. Diakuinya ia sudah mendapat bantuan JPS (jaring pengaman sosial) dari Pemkab Sukoharjo, tapi masih sangat kurang.

“Sejak dua bulan lalu saya tidak kerja, sebelumnya mburuh di bangunan kos tapi sekarang nganggur. Tidak punya pendapatan sama sekali. Hanya mengandalkan bantuan,” kata Sarono, ditemui saat menerima bantuan beras dari sebuah LSM di Kartasura, Jumat (22/5/2020).

Bantuan JPS yang diterimanya berupa beras, kecap dan minyak goreng, dianggap Sarono tidak cukup. Karena ia juga butuh uang untuk beli bumbu dan beli yang lain.

“Alhamdulilah banyak dermawan. Tiap hari saya ambil sayur gratis yang di gantung dijalan. Saya tidak malu minta bantuan, demi kelangsungan hidup istri dan anak,” kata Sarono.

Senada diungkap Tembir (31) petugas parkir sekitar UMS. Dua bulan ini dia terpaksa mengandalkan penghasilan istri yang kerja di jasa laundri.

“Saya sering pulang tidak bawa uang, memang ada pendapatan istri, tapi masak saya bergantung terus, saya kerja serabutan apa saja,” tandas Tembir.

Sarono dan Tembir dua dari 2000 warga penerima bantuan beras dari Lembaga Penyelamat Aset dan Anggaran Belanja Negara Republik Indonesia (LAPAAN RI).

“Kami bagikan 2.000 paket sembako. Tahun ini kita bagikan di 14 titik di Solo, Sukoharjo dan Boyolali. Sasarannya ? Semua warga yang mau menerima,” kata BRM Kusumo Putro, Ketua LAPAAN RI, saat pembagian di desa Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, Jumat.

Kusumo mengaku tahun ini menyiapkan sekira 8 ton beras dan paket sembako yang diberikan untuk empat panti asuhan, yakni Aisyiyah, Pamardi Yoga, Lentera dan Takim.

“Bantuan pemerintah memang ada, tapi itu sangat kurang. Kebutuhan mereka tidak hanya beras. Juga butuh uang. Tolong pemerintah memikirkannya.” Imbuhnya.

Dikatakan Kusumo, sebenarnya warga mau patuh di rumah saja, untuk memutus mata rantai Covid19. Tapi saat dirumah mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan makanan, maka mereka akan keluar mencari.

“Termasuk mulai ramainya jalan, toko dan mall, karena mereka tidak ada jaminan kebutuhan pokok terpenuhi. Maka saya himbau pemerintah serius memberikan solusi. Karena kapan berakhirnya pandemi Covid19 ini belum bisa diprediksi,” tandas Kusumo. (dea/bis)