Digitalisasi Program “UMKM Tangguh” Tingkatkan Penjualan Abon Bu Rini

PENGEMASAN: Proses pengemasan abon di rumah produksi Abon Sapi dan Ayam Bu Rini di Mrican, Salatiga. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

JATENGPOS.CO.ID,  SALATIGA– Surini (61) warga Mrican, Kota Salatiga tidak menyangka usaha abon yang dikelola dapat meningkat pesat seperti sekarang ini. Usaha ditekuni sejak tahun 1998 itu sudah lama produksinya berjalan stagnan. Kini, sehari ia sedikitnya memproduki 160 kg abon sapi dan 140 kg abon ayam.

Cerita Bu Rini –panggilan akrabnya– mengabarkan kemajuan usaha abon yang dikelola sudah hampir 25 tahun itu, meningkat signifikan tidak lepas dukungan dari program “UMKM Tangguh” yang diadakan Serabut Nusa bersama Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEPI).

Melalui program ini Bu Rini mendapatkan banyak manfaat terkait pemasaran digital hingga produk abon miliknya semakin dikenal masyarakat luas tanpa batas. Pemasaran dapat merambah seluruh daerah di Indonesia bahkan sampai luar negeri.

“Sekarang sudah memasarkan online dibantu dari program “UMKM Tangguh”, pemesanan sampai luar pulau bahkan sampai ke luar negeri. Dulu saya hnya menjual melalui sales yang datang ke rumah dan ke toko-toko,” tutur Bu Rini kepada Jateng Pos, kemarin.

Menurut ibu tiga anak ini, pendampingan dari “UMKM Tangguh” pengaruhnya dirasakan sangat besar. Sejak membuka usaha produksi abon ia hanya mengandalkan sales makanan dan toko-toko yang memesan. Jumlah produksinya tergantung dari pesanan mereka.

“Sejak dulu saya memasarkan seperti itu, produksinya stagnan hanya puluhan kilo. Sekarang rata-rata sehari produksi 160 kg daging sapi dan 140 kg daging ayam,” jelasnya.

Setelah produknya dikenal masyarakat luas ternyata banyak sekali peminatnya. Menurutnya tidak lepas dari varian rasa abon yang dibuat mengikuti selera masyarakat.

“Abon sapi ada dua rasa yakni pedas dan manis. Abon ayam sementara masih rasa manis saja, rencana juga produksi abon ayam pedas tapi masih melihat peminat pasar dulu,” ungkapnya.

Setiap bungkus ukuran 250 gram abon sapi dijual Rp 40 ribu, dan ukuran 100 gram dijual Rp 16 ribu. Ia tidak menyangka usahanya dapat meningkat seperti sekarang ini. Awalnya ia membuka usaha hanya sekedar untuk mengisi waktu luang. Ia belajar dari budhenya yang juga perajin abon. .

Founder Serabut Nusa Dimas Herdy Utomo menanggapi keberhasilan perajin Abon Bu Rini, mengatakan, pihaknya akan terus membantu perajin UMKM melalui platform digital yang dikelola, bersama Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEPI) melalui program “UMKM Tangguh”.

“Banyak e-commerce yang memberi kesempatan memperluas pemasaran, namun platform digital ini hanya sedikit memberi ruang bagi pelaku UMKM yang bermodal kecil. Untuk itu kami hadir membantu para perajin UMKM kecil,” ujarnya kepada Jateng Pos, kemarin.

Serabut Nusa bersama CCEPI sejak menyelenggarakan program “UMKM Tangguh”, menurut Dimas, sudah banyak membantu dan dirasakan manfaatnya oleh para perajin hingga usahanya dapat terdongkrak lebih meningkat omsetnya.

“Kami membantu pemasaran produk mereka. Biar perajin UMKM fokus ke produksi, kami bantu jualannya. Kami juga membeli produk mereka secara tunai di depan agar uangnya bisa segera kembali diputar untuk membeli bahan-bahan,” tandasnya.

Diketahui, Serabut Nusa merupakan perusahaan rintisan yang berpusat di Kabupaten Semarang. Digawangi sekelompok anak muda yang memfokuskan diri pada platform pengembangan bisnis UMKM dan menyediakan ruang pemasaran produk secara online maupun offline. (biz/muz)