Beranda Semarang Dinyinyir, Tetap Sabar Menuju Hijrah 

Dinyinyir, Tetap Sabar Menuju Hijrah 

30
JALAN ILLAHI: Ahmad Nur Kusuma Yuda, meski mendapat nyinyiran ia tetap sabar dan berdoa menghadapi proses hijrah ke jalan Agama Allah SWT. FOTO : DWI SAMBODO/JATENG POS.

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Ahmad Nur Kusuma Yuda, pemuda 21 tahun dengan tato penuh di sekujur tubuh dan wajah, mengaku lebih sabar dan tawakal setelah berhijrah ke jalan Agama dan memiliki mimpi bisa berdakwah ke berbagai wilayah Indonesia.

Yuda sapaan akrabnya, yang kini mengabdikan hidupnya di Masjid Jami Al-Istiqomah Jalan Kusumawardani, Pleburan, Kota Semarang. Ia, tak mau lagi terjun kejalan menjalani masa hidupnya yang suram seperti dulu.

“Saya tinggal di sini sekarang, bantu-bantu bersih-bersih, adzan dan jualan madu. Memang harus adaptasi, alhamdulilah di sini lingkunganya menerima saya,” kata Yuda, belum lama ini

Tutur kata lembut, tak segarang penampilanya, ia menceritakan kisahnya. Yuda sebenarnya tidak asing dengan ilmu agama karena sejak dini ketika Taman Kanak-kanak ia sudah menjadi santri bahkan kemudian berpindah-pindah pesantren.

“Pernah pesantren di Klaten, kemudian gempa di sana, pindah ke Tangerang, kemudian di Bogor 6 tahun, lulus SD pindah ke pesantren dakwah di Salatiga,” ujarnya.

Di pesantren Salatiga itulah jiwa remajanya bergejolak dan tumbuh tak terkendali. Namun ayahnya sempat mengembalikan Yuda ke pesantren itu, namun ia tidak kuat dan dipulangkan kemudian memilih hidup di jalanan.

Tato, menjadi sangat lekat dengan perjalanan hidupnya. Sejak lulus SD, Yuda mulai menghias wajahnya. Tato pertama adalah gambar tetesan air di dekat mata kanan dan kirinya. Dan seiring tumbuhnya usia ia nekat, menghiasi sekujur tubuhnya dengan gambar tinta tubuh alias tato.

Meski sudah terlihat sangar dengan hidup di jalanan, beberapa waktu menjelang bulan Ramadhan tahun lalu hatinya mulai terketuk ketika membayangkan masa depan. Yuda mengaku bosan karena tidak ada perubahan dalam hidupnya yang bermanfaat.

“Saya bosan, di jalan lihat teman meninggal, meninggalnya lumayan parah juga. Banyak kejadian, sering berantem, hidupya tidak bermanfaat, saya renungin dan telepon om saya, saya mau hijrah kembali ke jalan yang benar, walau keluarga belum menerima semua tapi saya usaha,” jelas Yuda.

Ia memilih ke Semarang karena ada keluarga di sana termasuk ayah. Proses hijrahnya tidak mudah karena banyak omongan orang yang kadang menyakiti hati. Namun Yuda sudah berniat hijrah, maka ia bertahan.

“Dulu ada omongan, ngapain ke masjid, percuma sholatnya tidak sah. Pernah ke Masjid kan mendung. Kata mereka, kamu tuh bikin mendung dan hujan. Dalam hati ini, Saya tahu hidup penuh ujian dan rintangan, saya pendam aja,” ujarnya.

Yuda tidak menggubris omongan orang karena yakin sah tidaknya ibadah itu urusan dia dengan Allah. Saat ini pun ia belum terpikirkan untuk menghapus tato yang sudah terlanjur ada di sekujur tubuh.

Kini ia memperdalam ilmu agamanya. Mengulang hafalan Alquran yang dulu sudah 24 juz, menemui ulama-ulama dan mempelajari lagi ilmu dakwah. Ia punya cita-cita berdakwah di wilayah Indonesia yang jauh.

“Ingin jadi pendakwah di Indonesia dan Slsekarang ini sedang memperbaiki bacaan Alquran dan isi kandunganya,” tukasnya.

Tidak hanya memperbaiki diri sendiri. Yuda juga tengah berusaha mengajak anak jalanan untuk belajar dan mengenal agama.

“Mengajak teman juga ada, sudah ada sedikit teman-teman yang mau ikut dalam usaha dakwah, ada yang istikomah. Udah sekitar 3-4 orang, tapi kan harus adaptasi. Hijrah tidak segampang membalikkan telapak tangan,” tandasnya.

Selain berdakwah dan mengajak orang kembali ke jalan agama, Yuda punya impian bertemu dengan ibunya karena orangtuanya berpisah sejak ia masih kecil. Namun Yuda masih enggan  menyebut nama ibunya yang katanya tinggal di Tangerang Jawa Barat.

Yuda berharap, kembalinya kejalan agama dalam kisah hidupnya yang penuh kemaksiatan dalam usia muda. Hijrah dan hidayah yang didapat bisa untuk bekal hidup yang lebih baik dunia hingga akhirat. (ucl/muz)