Drone “Hope” Jamin Petani Tak Lagi “Kapalen”

Drone Hope yang dikembangkan Kodim Temanggung dan Temanggung Aoromodelling Club. ist

JATENGPOS.CO.ID, TEMANGGUNG – Para pemuda dengan bimbingan Komando Distrik Militer 0706/Temanggung membuat drone dengan ukuran besar yang difungsikan untuk menyemprot tanaman, baik untuk pemupukan, menyemprotkan pestisida, maupun penyiraman ringan.

Bukan hanya itu saja, drone dengan teknologi tinggi ini juga mampu mendeteksi kondisi tanaman pertanian atau perkebunan dalam lahan yang luas.

Mereka yang tergabung dalam pembuatan drone ini merupakan para pemuda dari Temanggung Aeromodelling Club yang memiliki keahlian di bidang IT, pemprograman, rancang bangun drone, teknik mesin, dan pilot microlight.

Guna mewujudkan cita-cita tersebut, mereka rela bekerja tanpa dibayar demi kemajuan pertanian. Bahkan dalam riset dan pembuatan prototipe drone, mereka menggunakan biaya secara swadaya.

Drone dengan kapasitas tangki air 15 liter ini dilengkapi dengan sonar yang bisa mengukur ketinggian dari tanah dan pohon, kemudian terbang menggunakan teknologi GPS dan dilengkapi dengan auto pilot.

Komandan Kodim 0706/Temanggung Letkol Arm Yusuf Setiaji mengatakan untuk membuat drone tersebut membutuhkan waktu riset sekitar enam hingga delapan bulan.

Ide dasar membuat drone tersebut setelah mengetahui visi dan misi Kabupaten Temanggung yang ingin membangun pertanian moderen.

Guna membangun pertanian moderen, industri pertanian memang butuh alat otomatisasi di mana tenaga manusia dipermudah dengan tenaga mesin.

Ia menuturkan drone “Hope” merupakan pioner pertanian moderen di Temanggung, karena pertama kali di Indonesia yang membuat seperti ini. Kalau yang lain masih sebatas riset, di Temanggung sudah ada barangnya.

“Saya optimistis Temanggung ke depan akan lebih maju kalau kita adaptif dengan teknologi. Sekarang jarang anak muda bekerja di sawah, mereka lebih senang bekerja di pabrik, karena bekerja di pertanian kesannya hitam, ‘kapalen’, dan tidak menyenangkan. Pertanian sebenarnya menyenangkan kalau kita menggunakan teknologi,” katanya.

Bicara pertanian modern, katanya, bicara ribuan hektare tanaman, baik padi, jagung, bawang putih atau lainnya, maka alat ini sangat tepat digunakan.

“Alat ini adalah hasil pertama kami untuk menciptakan drone guna memperbanyak luasan semprot,” katanya.

Hasil karya drone ini tidak diutamakan untuk dijual, namun kalau ada yang ingin membeli akan dilayani.

Pihaknya akan lebih fokus menawarkan jasa semprot, karena bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak, kalau dijual begitu saja maka akan hilang kesempatan tenaga kerjanya, kecuali pada saat perakitannya.

Lahan satu hektare jika diseprot secara manual dengan satu tenaga manusia maka akan selesai dalam dua hingga tiga hari, tetapi dengan menggunakan drone ini dalam satu jam bisa menyemprot lahan seluas empat hingga lima hektare. (drh/ant)