“Dunia Sedang Sakit… Dunia Sedang Tidak Baik…”

148
George Nicholas Huwae

JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA – Hampir satu tahun ini sebuah virus “menjajah” dunia kita terutama Indonesia. COVID-19 adalah virus yang dimaksud. Pada awal tahun 2020, virus ini mulai “beraksi” di Indonesia dengan segala kemampuannya yang sangat mengancam hidup dan tatanan sosial manusia. Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan.

Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari corona virus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, seperti lansia (golongan usia lanjut), orang dewasa, anak-anak, dan bayi, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.

Infeksi virus Corona disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan.

Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.

Kebijakan yang dibuat ini bukanlah sebuah hal yang hanya serta merta muncul begitu saja, namun tentu saja sudah melalui pemikiran, pengkajian, dan diskusi yang matang. Meskipun telah melalui proses yang panjang, namun tetap saja ada efek yang ditimbulkan oleh kebijakan yang dibuat ini. Dengan adanya PSBB ini banyak bidang yang terimbas, diantaranya pada bidang perekonomian yang mengakibatkan banyak perusahaan, hotel, restoran, dan sektor perekonomian lainnya yang mengalami penurunan hasil penjualan secara drastis bahkan sampai beberapa memilih untuk menutup perusahaannya.

Dalam bidang Pendidikan, pemerintah daerah memutuskan untuk meliburkan sekolah-sekolah, karenanya kini semua siswa dan mahasiswa harus menjalani belajar dari rumah.

Sektor pariwisata yang sejak lama menjadi harapan sebagai sumber kontribusi devisa bagi Indonesia pun akhirnya tumbang juga. Mulai dari semua objek pariwisata yang terpaksa harus ditutup hingga wisatawan mancanegara yang sangat menurun karena adanya kebijakan pemerintah yang memutuskan untuk menutup akses keluar masuk negara.

Setelah kita membahas semua sektor yang terdampak dakibat pandemi COVID-19 ini, giliran kita membahas mengenai korban virus ini, dalam hal ini adalah manusia yang terinfeksi COVID-19.

Hampir semua propinsi di Indonesia ini terserang COVID- 19 ini. Tidak terkecuali propinsi Jawa Tengah, dan Kota Salatiga. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota ( DKK) Salatiga, kasus COVID-19 di Kota Salatiga terus mengalami peningkatan. Sehubungan dengan terus meningkatnya angka kasus tersebut, maka semua lembaga pemerintah membuat program yang melibatkan seluruh lini masyarakatnya.

Sebuah strategi pun juga harus dijalankan demi lancarnya sebuah program agar hasilnya sesuai dengan harapan. Pemerintah pusat terus menggalakkan gerakan pakai masker saat berada di luar rumah dan social distancing, sedangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mengajak seluruh masyarakat untuk ikut serta dalam penanganan COVID-19 melalui gerakan Gotong Royong.

Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah mencetuskan sebuah program yang diberi nama “Jogo Tonggo”. Istilah ‘Jogo Tonggo’ ini diambil dari Bahasa Jawa yaitu Jogo yang artinya menjaga dan Tonggo yang artinya tetangga. Maka seperti namanya, program ini merupakan gerakan saling menjaga tetangga atau orang yang berada di lingkungan sekitar untuk meminimalisir dampak Covid-19 di masing-masing wilayah. Alasan bahwa program ‘Jogo Tonggo’ ini penting untuk diterapkan pada masyarakat  yaitu untuk membantu masayarakat sekitar yang kesulitan melalui posko-posko Jogo Tonggo seperti posko kesehatan, posko lumbung pangan, posko keamanan, dan lain-lain.

Sebuah contoh kasus adalah yang terjadi di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana ( UKSW) Salatiga, yang dikenal juga sebagai Indonesia mini, karena mahasiswa yang berkuliah di UKSW ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ketika pemerintah memberlakukan program PSBB, banyak mahasiswa yang tidak bisa pulang ke daerah asal mereka masing-masing, untuk tetap memperhatikan para mahasiswa ini, pihak Kampus UKSW menyediakan asrama nya untuk menampung para mahasiswa yang harus tetap tinggal di Salatiga dengan menyediakan semua kebutuhan sehari-hari yang diperlukan oleh mereka.

Ternyata hal ini didengar oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang kemudian mendatangi langsung Asrama UKSW Salatiga untuk melihat secara langsung kondisi para mahasiswa yang berasal dari luar kota Salatiga, terutama luar pulau Jawa dan tidak bisa Kembali ke daerah asal mereka. Dalam kesempatan ini Ganjar Pranowo memberikan sejumlah bantuan untuk memenuhi keperluan  para mahasiswa.

Munculnya kasus-kasus inilah yang membuat Bapak gubernur Jawa Tengah akhirnya terus menginstruksikan dan menggalakkan pelaksanaan program ini untuk semua wilayah agar seluruh masyarakat mengimplementasikan kebiasaan gotong royong masyarakat desa di Jawa Tengah.

Penerapan kebiasaan gotong royong dalam program ‘Jogo Tonggo’ dilakukan dengan cara membentuk satgas Jogo Tonggo. Satgas Jogo Tonggo adalah Satuan Tugas Menjaga Tetangga. Satgas Jogo Tonggo ini mensinergikan seluruh kegiatan-kegiatan organisasi kelompok sosial dalam wilayah perkampungan seperti Karang Taruna, Dasa Wisma, Posyandu, dan seluruh warga di tingkat RW serta Lembaga dan organisasi diluar wilayah RW yang terkait. Tugas pokok Satgas Jogo Tonggo terbagi ke dalam empat bidang, yaitu: Kesehatan, Ekonomi, Sosial dan Keamanan, serta Hiburan.

Pada dasarnya keempat bidang Satgas Jogo Tonggo memiliki tugas pokok yang hampir sama, yaitu menjaga, memantau, dan memastikan tetangga satu wilayah tingkat RW secara bergotong royong melawan penularan dan penyebaran COVID-19 di wilayahnya. Berdampaknya COVID-19 ke seluruh sektor seperti sektor ekonomi, kesehatan dan lain-lain juga menjadi landasan digagasnya program Jogo Tonggo oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah karena dalam satu lingkungan RW pasti akan ada beberapa warga yang mengalami kesulitan ekonomi dan pangan sehari-hari akibat turunnya pemasukan bahkan sampai kehilangan pekerjaan.

Disinilah peran Satgas Jogo Tonggo sangat diperlukan karena satgas yang akan mendata dan menyalurkan bantuan kepada warganya yang membutuhkan. Seluruh warga di lingkungan tingkat RW wajib berperan aktif serta mendukung seluruh kegiatan dalam program ‘Jogo Tonggo’.

Meski program ‘Jogo Tonggo’ ini diwajibkan untuk dilaksanakan masyarakat Jawa Tengah, namun masih ada beberapa wilayah yang belum secara matang melaksanakan program ‘Jogo Tonggo’ ini. Termasuk di salah satu kota di Jawa Tengah yaitu Kota Salatiga. Beberapa wilayah tingkat RW di Kota Salatiga belum seluruhnya melaksanakan atau masih hanya sekedar rencana untuk melaksanakan program ‘Jogo Tonggo’.

Dari penjelasan mengenai program ‘Jogo Tonggo’, beserta alur teknisnya, jika kita kaji dengan Teori Organisasi, program ini masuk pada Teori Jaringan (Network Theory). Semua aktifitas yang dilakukan dalam melaksanakan program ‘Jogo Tonggo’ ini termasuk dalam aktifitas sebuah organisasi.

Ada banyak pekerjaan teoritis yang membahas cara-cara di mana jaringan berfungsi dalam organisasi. Misalnya, jaringan dapat (1) mengontrol arus informasi, dalam studi kasus ini, informasi yang dimaksud adalah informasi mengenai segala sesuatu tentang Covid-19, lebih spesifiknya adalah orang yang teridentifikasi positif Covid-19.

Informasi tersebut berasal dari pihak kesehatan (rumah sakit dan laboratorium terkait) yang kemudian akan disampaikan kepada kelurahan dimana orang yang teridentifikasi positif ini tinggal. Dari Kelurahan, informasi ini akan diteruskan ke bawah, yaitu kepada RT dan RW setempat dengan tujuan, RT akan dapat mensosialisasikan kepada tetangga sekitar dimana orang yang teridentifikasi positif ini tinggal. Tujuan dari menyalurkan arus informasi sampai ke tetangga sekitar adalah supaya tetangga sekitar dari yang bersangkutan dapat melakukan program ‘Jogo Tonggo’ itu.

Dengan arus informasi yang terkendali, diharapkan tidak akan ada informasi yang salah tersapaikan kepada masyarakat, terutama kepada tetangga sekitar. (2) mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama.

Yang dimaksud dengan orang-orang dengan minat yang sama adalah orang-orang yang berada dalam alur pemerintahan kota (Lurah, Ketua RW, Ketua RT dan warga sekitar). Minat yang sama disini maksudnya adalah minat dalam hal kemanusiaan dan social dalam membantu orang yang terinfeksi virus covid 19. Orang-orang dengan minat yang sama ini termasuk dalam jaringan formal juga, karena mereka terhubung dengan struktur formal yaitu struktur pemerintahan. (3) membangun interpretasi umum. Definisi ‘Jogo Tonggo’ serta semua aktifitas yang dilakukan yang telah dicetuskan oleh Gubernur Jawa Tengah ini merupakan interpretasi umum yang harus disamakan persepsi nya kepada segenap masyarakat, terutama masyarakat Jawa Tengah, karena program ini merupakan program khusus dari propinsi Jawa Tengah.

Pengertian dari ‘Jogo Tonggo’ yang dicetuskan dan di sosialisasikan sehingga menjadi interpretasi umum ini dapat tersebar dan dimengerti khalayak umum terutama masyarakat Jawa Tengah karena terlaksananya poin 1-3 yang telah dijelaskan di atas dengan baik dan sesuai tujuan organisasi, dalam hal ini pemerintah Jawa Tengah.

Selanjutanya (4) meningkatkan pengaruh sosial. Pengaruh sosial karena dalam kasus ini adalah pengaruh pemerintah terhadap masyarakat melalui jalur organisasi tertinggi di kota Salatiga yaitu walikota, sampai dengan warga kota Salatiga, maka pengaruh sosial nya berasal dari jalur formal. Pengaruh sosial perlu ditingkatkan karena, semakin meningkatnya pengaruh sosial maka apapun yang diutarakan oleh posisi organisasi tertinggi, dalam hal ini Walikota, akan semakin dipatuhi juga oleh anggota organisasi di bawahnya (Lurah sampai dengan warga kota Salatiga).

Kemudian (5) memungkinkan untuk sebuah pertukaran sumber daya. Dalam sebuah organisasi, dimungkinkan terjadinya pertukaran sumber daya, yang tentu saja tujuannya adalah untuk semakin meningkatkan kualitas organisasi tersebut. Pertukaran sumber daya juga akan berpengaruh terhadap arus informasi yang terjadi dalam sebuah organisasi tersebut. Arus informasi yang terjadi tidak harus dari atas ke bawah,namun bisa juga terjadi sebaliknya.

Hal ini dapat diterima dalam sebuah organisasi, dalam rangka mencari solusi terbaik untuk sebuah organisasi tersebut. Kembali kepada program ‘Jogo Tonggo’ dalam organisasi pemerintahan kota Salatiga dan dalam hubungannya dengan kasus COVID-19, untuk mengetahui positif tidaknya seorang warga masyarakat, informasinya tidak harus berasal dari Walikota, atau pihak Kesehatan, namun bisa juga sebaliknya. Karena dengan adanya informasi dari warga yang tanggap akan COVID-19 yang disampaikan dari bawah ke atas, akan membantu pemerintah dalam menjalankan program-program yang telah ditetapkan oleh pemerintahan pusat terutama dalam hal ini adalah program ‘Jogo Tonggo’.

Teori jaringan melukiskan gambaran suatu organisasi atau, mungkin lebih tepatnya, berbagai model dari masing-masing orang memahami aspek dari fungsi organisasi. Teori jaringan membantu menjelaskan bagaimana organisasi membangun koneksi antara berbagai node dalam organisasi. Fokus dari teori tentang jaringan ini muncul melalui interaksi dan bagaimana struktur hubungan dan cara mengatur pekerjaan organisasi.

Teori jaringan ini selanjutnya menggambarkan bukan bagaimana pengorganisasian dan penataan dilakukan, melainkan bagaimana anggota membangun realitas organisasi tersebut.*

 

Oleh : George Nicholas Huwae

Dosen FTI UKSW Prodi Humas
Sedang Menempuh Program Doktor Ilmu Komunikasi
di S3 FISIP UNS