JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG– Di kawasan Gunungpati, pinggiran Kota Semarang, Kebun Durian Tambah Tumbuh mulai dikenal sebagai penghasil durian berkelas dengan beragam varietas unggulan. Di balik rimbunnya sekitar 230 pohon durian itu, berdiri sosok Wuryanto, pensiunan banker yang pernah berdinas di Bank Indonesia (BI) Semarang.
Bagi wartawan yang kerap meliput di Bank Indonesia Semarang, nama Wuryanto bukanlah hal baru. Pria yang dikenal ramah tersebut kini menapaki irama hidup berbeda, mengganti rutinitas rapat dan angka dengan perawatan pohon serta musim panen yang dinanti.
Sabtu (7/2/2027), ia tampak berkeliling kebunnya sambil memperhatikan buah yang menggantung di sejumlah dahan. Wuryanto mengatakan, kebun ini memang ia siapkan sebagai aktivitas masa pensiun agar tetap produktif sekaligus dekat dengan alam.
“Setelah pensiun saya nggak mau cuma di rumah. Saya ingin tetap berkarya, dan kebun ini jadi sesuatu yang bisa saya rawat setiap hari,” kata Wuryanto.
Kecintaan keluarga terhadap durian menjadi alasan utama berdirinya kebun tersebut. Namun, mencari lahan yang tepat bukan perkara mudah karena ia membutuhkan waktu hampir dua tahun menyusuri sejumlah daerah seperti Mijen, Karanganyar hingga Solo.
Pilihan akhirnya jatuh pada lahan di Gunungpati yang berjarak sekitar 30–40 menit dari rumahnya. Sejak 2017, ia mulai menanam dengan perencanaan matang, bahkan menggandeng konsultan ahli untuk memastikan kualitas kebun terjaga sejak awal.
Empat tahun pertama menjadi fase yang menguji kesabaran. Biaya perawatan terus berjalan sementara hasil panen belum terlihat.
“Kalau di kebun itu kuncinya sabar. Belum panen tapi pengeluaran jalan terus, jadi memang harus siap dari awal,” jelasnya.
Kesabaran itu kini terbayar. Kebun Durian Tambah Tumbuh dikenal menghadirkan varietas premium seperti Musang King, Black Thorn, Bawor, Mas Muar hingga Montong, jenis-jenis yang memiliki penggemar tersendiri di pasar.
Memasuki tahun ketujuh, sekitar 50–60 pohon mulai berbuah optimal. Beberapa pohon bahkan mampu menghasilkan hingga 30–40 buah dalam satu musim, dengan kualitas yang terus dijaga.
Meski permintaan tinggi, Wuryanto memilih jalur penjualan ritel agar durian yang sampai ke tangan konsumen tetap dalam kondisi terbaik. Harga pun mengikuti pasar, dari Montong sekitar Rp70 ribu per kilogram hingga Musang King dan Black Thorn yang dapat menembus Rp300 ribu per kilogram.
Sahabatnya, Anik Pujiastuti, rekan semasa bekerja di Bank Indonesia, menilai kebun ini bukan sekadar ladang bisnis, melainkan cerminan persiapan pensiun yang matang.
“Ini contoh back to nature yang menghasilkan. Tapi memang perlu waktu dan kesabaran,” ujarnya.
Bagi Wuryanto, Kebun Durian Tambah Tumbuh bukan hanya tentang panen buah premium, tetapi juga tentang menumbuhkan makna baru dalam hidup. Dari pengalaman panjang di dunia perbankan hingga kini merawat kebun berkelas, ia membuktikan bahwa masa pensiun bisa menjadi waktu terbaik untuk menanam harapan, dan melihatnya tumbuh dengan kualitas unggulan.(aln)






