31 C
Semarang
Minggu, 15 Februari 2026

Bolu Lapis Khoja, Tradisi Manis yang Dirawat Lintas Generasi

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Di balik legitnya rasa dan hangatnya aroma rempah, Bolu Lapis Khoja menyimpan jejak tradisi panjang komunitas Khoja di Pekojan, Semarang. Kue ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol kehormatan yang hanya hadir di momen-momen istimewa seperti Lebaran dan pernikahan.

Untuk menjaga warisan itu tetap hidup, Komunitas Budaya Khoja Semarang (Khojas) menggelar Lomba Bolu Lapis Khoja di Kampung Begog Pekojan, Semarang, Sabtu (14/2/2026). Ajang ini menjadi ruang regenerasi sekaligus perayaan atas tradisi kuliner yang selama ini diwariskan dari dapur ke dapur.

Ketua Khojas, M Sholeh Jaelani menuturkan, Bolu Lapis Khoja memiliki posisi istimewa dalam budaya mereka. Tidak setiap hari kue ini dibuat, karena kehadirannya identik dengan momentum sakral.

“Bolu Lapis Khoja itu bukan kue harian. Ia hadir saat Lebaran dan menjadi pelengkap di kamar pengantin Khoja. Ada rasa bangga ketika keluarga bisa menyuguhkannya kepada tamu,” ujarnya.

Sebanyak 15 peserta ambil bagian dalam lomba tersebut. Mayoritas merupakan pembuat rumahan yang mewarisi resep dari orang tua atau neneknya, lengkap dengan racikan rempah khas masing-masing.

Bolu Lapis Khoja dibuat dari minimal 15 butir telur untuk loyang berdiameter 18 sentimeter. Tepung hanya beberapa sendok, dipadu gula, margarin, minyak samin, serta rempah seperti kapulaga, pala, kayumanis, dan serutan kulit jeruk yang menciptakan aroma kuat dan cita rasa khas.

Ketua UMKM Khoja, Anissa Devi Ika mengatakan, lomba ini bukan sekadar mencari pemenang, melainkan mendorong para pembuat bolu agar naik kelas. Ia berharap tradisi ini juga memberi dampak ekonomi bagi pelakunya.

“Kami ingin para pembuat Bolu Lapis Khoja lebih profesional dan memiliki daya saing. Semakin dikenal masyarakat luas, semakin besar pula peluang ekonomi yang terbuka,” ungkapnya.

Sesepuh Khoja, Ustaz Muhammad Faiq Hafidh menyebut lomba ini sebagai sejarah baru bagi komunitas Khoja. Menurutnya, ajang tersebut menjadi sarana silaturahmi sekaligus wadah berbagi pengalaman antarpembuat.

“Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi cara membangun kebersamaan dan mempertemukan produsen dengan konsumen. Dari sini mereka bisa saling belajar dan mengembangkan kreativitas,” tuturnya.

Dari hasil penilaian dewan juri yang terdiri atas Chef Arie, perwakilan Disbudpar Kota Semarang, Ustaz Faiq, dan Anissa, terpilih lima juara yakni Nuri Aska, Nanahe, Maimun, Azizah, dan Fatimah Mustafa Heimi. Para pemenang akan menerima uang pembinaan pada gelaran Pasar Kuliner Khas Khoja (Paku Khoja) yang digelar 21–22 Februari 2026 di depan Masjid Jami Pekojan.

Lewat lomba ini, Bolu Lapis Khoja tak lagi sekadar tradisi yang disajikan setahun sekali. Ia kini dirawat bersama, diperkenalkan kembali, dan disiapkan untuk tetap hidup lintas generasi.(aln)



TERKINI

PLN Tutup Bulan K3 Nasional 2026 di Semarang

Rekomendasi

...