JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN — Momentum Lebaran dimanfaatkan Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, untuk mengajak karyawannya mulai menabung saham. Kampanye ini digelar di pabrik Sido Muncul Ungaran, Senin (30/3), bekerja sama dengan Ina Sekuritas.
Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat mengatakan kebiasaan masyarakat membawa pulang uang saat Lebaran sering berujung habis tanpa perencanaan jelas. Ia mendorong agar dana tersebut dialihkan menjadi tabungan saham yang lebih produktif.
“Kalau uangnya cuma disimpan atau dibawa pulang, setahun bisa habis tanpa terasa. Kenapa tidak ditabung dalam bentuk saham,” katanya.
Irwan menilai masyarakat Indonesia masih minim literasi investasi saham, terlihat dari jumlah investor yang baru sekitar 3–4 persen dari total penduduk. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Amerika Serikat yang mencapai lebih dari 60 persen.
“Di Indonesia yang pernah beli saham itu baru sekitar 3 sampai 4 persen. Sementara di Amerika bisa sampai 62 persen penduduknya berinvestasi di saham,” ujarnya.
Ia menjelaskan konsep yang ia dorong bukan sekadar investasi, melainkan menabung secara bertahap sesuai kemampuan. Karyawan dapat menyisihkan sebagian penghasilan, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, untuk dibelikan saham perusahaan yang memiliki rekam jejak baik.
“Jangan dianggap investasi yang berat, tapi menabung dalam bentuk saham. Bisa pilih perusahaan yang sudah terbukti seperti BCA, BRI, Mandiri, atau Sido Muncul sendiri,” jelasnya.
Irwan mengakui selama ini edukasi saja tidak cukup untuk mengubah kebiasaan masyarakat. Karena itu, ia memilih memberi contoh langsung dengan mendorong karyawan Sido Muncul menjadi investor saham.
“Kalau cuma diajari, orang sering lupa. Yang paling penting itu praktik. Maka saya mulai dari karyawan sendiri,” tegasnya.
Dari sekitar 4.000 karyawan Sido Muncul, saat ini baru sekitar 30 orang yang memiliki saham. Kondisi ini menjadi alasan kuat bagi manajemen untuk menggencarkan kampanye literasi keuangan di internal perusahaan.
“Dari 4.000 karyawan, yang punya saham baru sekitar 30 orang. Ini yang ingin kita ubah,” tandasnya.
Ia berharap ke depan semakin banyak karyawan yang rutin menabung saham sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Dengan cara ini, kesejahteraan karyawan diharapkan meningkat seiring pertumbuhan perusahaan tempat mereka bekerja.(aln)














