33.4 C
Semarang
Rabu, 6 Mei 2026

Inflasi Jateng Terjaga Pasca Lebaran, April 2026 Alami Deflasi 0,03 Persen




JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Inflasi Provinsi Jawa Tengah tetap terjaga pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H. Pada April 2026, Jawa Tengah justru mencatatkan deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho mengatakan deflasi tersebut dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Kondisi ini terjadi seiring normalisasi permintaan masyarakat setelah periode Lebaran.

“Deflasi Jawa Tengah terutama disumbang oleh komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Dijelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil minus 0,22 persen. Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada emas perhiasan dan angkutan antar kota.

Baca juga:  Airlangga Hartarto: Kolaborasi Jadi Kunci Kebangkitan Industri di Asia Pasifik

“Penurunan harga terjadi seiring normalisasi permintaan pasca momentum Idulfitri,” katanya.

Menurutnya, deflasi yang lebih dalam sebenarnya tertahan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas lain. Di antaranya minyak goreng, angkutan udara, serta nasi dengan lauk.

“Kenaikan harga minyak goreng dipengaruhi harga kelapa sawit dan biaya produksi kemasan,” ungkapnya.

Ditambahkan, inflasi juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman restoran dengan andil 0,09 persen. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya energi, khususnya gas LPG dan bahan kemasan.

“Selain itu, harga telepon seluler dan laptop juga naik akibat kenaikan harga komponen elektronik,” imbuhnya.

Ditegaskan, secara tahunan Jawa Tengah mencatat inflasi sebesar 2,11 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan nasional yang sebesar 2,42 persen. Inflasi tahunan terutama didorong oleh komoditas emas perhiasan, beras, dan minyak goreng.

Baca juga:  Pemerintah Optimis Ekonomi Nasional Makin Meningkat

“Inflasi tertahan oleh penurunan harga bawang putih, bawang merah, dan cabai merah,” tegasnya.

Dituturkan, secara spasial sebagian besar daerah di Jawa Tengah juga mengalami deflasi bulanan. Deflasi terdalam terjadi di Wonogiri, disusul Wonosobo dan Cilacap.

“Sementara inflasi bulanan terjadi di Kota Semarang dan Kudus,” tandasnya.

Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat koordinasi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga inflasi tetap berada pada kisaran sasaran 2,5±1 persen.(aln)




TERKINI




Rekomendasi

...