Ekonomi Jateng Tumbuh 5,89 Persen, APBN Regional Surplus Rp7,24 Triliun

JATENGPOS.CO.ID,  SEMARANG – Perekonomian Jawa Tengah hingga Mei 2026 tetap menunjukkan kinerja yang solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada Triwulan I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,89 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya mengatakan, stabilitas ekonomi daerah juga tetap terjaga. Inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 2,85 persen atau lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,08 persen.

“Perekonomian Jawa Tengah hingga Mei 2026 tetap menunjukkan kinerja yang solid di tengah dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian. Kondisi ini mencerminkan daya tahan ekonomi daerah yang tetap kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).

Bayu menjelaskan kondisi kesejahteraan masyarakat juga terus membaik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 tercatat 4,24 persen, tingkat kemiskinan turun menjadi 9,39 persen, sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 74,77 atau masuk kategori tinggi.

Baca juga:  Pendapatan PLN Naik Jadi Rp212,8 Triliun

Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Hal itu terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 yang berada pada level 117,0 atau masih berada di zona optimistis.

Dari sisi fiskal, realisasi pendapatan APBN Regional Jawa Tengah hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp49,18 triliun atau 37,54 persen dari target. Capaian tersebut tumbuh 11,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Realisasi belanja negara mencapai Rp41,94 triliun atau 43,20 persen dari pagu. Belanja tersebut terdiri atas belanja Kementerian/Lembaga sebesar Rp14,56 triliun dan Transfer ke Daerah sebesar Rp27,37 triliun, sehingga APBN Regional mencatat surplus Rp7,24 triliun.

“Dengan perkembangan tersebut, APBN Regional Jawa Tengah hingga akhir Mei 2026 mencatatkan surplus sebesar Rp7,24 triliun yang menunjukkan kondisi fiskal tetap sehat dan terjaga,” katanya.

Baca juga:  Sinergi Apik PLN dan Jasa Marga Sukseskan Peresmian Toll Banyudono – Ngawen

Kinerja fiskal daerah juga menunjukkan hasil positif. Pendapatan APBD konsolidasi mencapai Rp41,09 triliun, sedangkan belanja daerah terealisasi Rp29,55 triliun sehingga menghasilkan surplus Rp11,54 triliun.

Pemerintah juga terus memperkuat sektor UMKM melalui berbagai skema pembiayaan. Hingga Mei 2026, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Tengah mencapai Rp21,53 triliun kepada 391.584 debitur atau tumbuh 16,81 persen, sementara pembiayaan Ultra Mikro (UMi) mencapai Rp781,38 miliar kepada 114.078 debitur atau meningkat 143,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Ke depan, pemerintah akan terus mendorong optimalisasi belanja negara, menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tandasnya.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...