Eks Napiter Jack Harun Ingatkan Mahasiswa Waspadai Radikalisme dan Selektif Pilih Konten

Pembicara dan peserta dalam Seminar Nasional Virtual dengan tema “Patriotisme Intelektual Muda dan Cinta NKRI Menuju World Class University yang diadakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro menutup rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Kamis (17/09/2020).

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Maraknya paham radikalisme yang memasuki dunia kampus menunjukkan adanya pihak yang hendak merongrong kesatuan NKRI. Persebaran radikalisme juga kian masif dengan kemudahan teknologi yang diakses melalui media sosial.

Hal itu diungkapkan mantan napi tindak pidana terorisme Jack Harun, saat menceritakan pengalaman dirinya terlibat dalam kelompok radikalisme. Jack yang dikenal sebagai anak buah gembong teroris Noordin M Top mengisahkan keterlibatannya dalam aksi terorisme saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Virtual dengan tema “Patriotisme Intelektual Muda dan Cinta NKRI Menuju World Class University yang diadakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro menutup rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Kamis (17/09/2020).

Disampaikan Jack, ketertarikannya pada paham radikal berawal dari media sosial dengan menonton video-video pembantaian kaum muslimin khususnya negara-negara yang sedang terlibat konflik, sehingga memunculkan empati dan solidaritas sesama muslim. Dia mengakui terlibat melakukan aksi kerusuhan di Ambon kemudian pada tahun 2002 melakukan pengeboman di Bali berperan menjadi perakit timer bom.

Dari sering nonton video yang memang dimaksudkan menumbuhkan rasa emosional itu, sehingga kaum muda pun tertarik untuk bergabung dengan kelompok pengajian bawah tanah.”Saya berharap kaum muda utamanya mahasiswa agar selektif dan waspada menggunakan media sosial apalagi konten radikalisme yang memancing emosional terhadap paham radikal,” ujarnya.

Pembicara lainnya, Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Prof Dr Irfan Idris, Ketua Timaru Undip ang juga ulama NU Jateng Dr M Adnan, serta dosen Ilmu Pemerintahan Drs Turtiantoro.

Seminar virtual yang diikuti oleh sekitar 1.300 peserta dari mahasiswa masyarakat umum ini menghadirkan moderator Dr Nurul Hasfi yang merupakan dosen komunikasi Fisip Undip.

Prof Irfan mengemukakan, patriotisme intelektual anak-anak muda (mahasiswa) dan cinta NKRI menjadi syarat mutlak dalam menuju world class university. Dia mengibaratkan NKRI layaknya seperti kapal besar. maka jangan ada penumpang yang membocorkan kapal besar karena hanya untuk membetuk negara-negara berdasar khilafah. “Radikalisme ialah seseorang yang bersikap intoleran, anti pancasila, anti NKRI dan penyebaran paham kafir sehingga akan menyebabkan disintegrasi bangsa,” urainya.

Sedangkan M Adnan mengatakan, ada indikator yang kerap ditunjukkan kelompok radikal, antara lain, tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Padamu Negeri. Selain itu, kelompok radikal tidak mau menghormat bendera merah putih, karena menghormati sama saja seperti menyembah.

“Untuk menjadi patriot bangsa di kalangan intelektual muda (mahasiswa) kita cukup dengan lulus tepat waktu, merawat dan menjaga Indonesia yang multi entis, agama, bangsa dan dengan segala keragaman yang ada di Indonesia, serta mencegah gerakan-gerakan radikalisme tidak tumbuh dikalangan mahasiswa,” tandasnya.

Adapun Turtiantoro mengatakan proses pembentukan NKRI ini telah dilakukan oleh para penerus-penerus bangsa yang telah mengkorbankan nyawa dan jiwa raga mereka. Saat ini, kita tinggal menikmatinya.

” Tanggung jawab besar kita saat ini adalah mempertahankan apa yang telah dicapai oleh para pendahulu kita dengan cara mencintai NKRI, bersikap toleransi, menghormati perbedaan, menjaga dan merawat Indonesia supaya tidak terpecah belah menjadi beberapa kelompok,” tuturnya. (rit)