Beranda Ekonomi Fajar Shiddiq, Tuna Rungu Mitra Kerja GrabCar

Fajar Shiddiq, Tuna Rungu Mitra Kerja GrabCar

10
pelatihan menggunakan subtitle dan juga alat bantu komunikasi di dalam mobil dan di atas motor. Fajar, merupakan salah satu dari jutaan mitra pengemudi Grab yang meraih impiannya untuk merubah nasib. Saat ini, Grab menyediakan layanan dengan jangkauan terluas di Asia Tenggara di 338 kota yang tersebar di 8 negara dengan lebih dari 152 juta unduhan aplikasi, termasuk Indonesia tempat Grab beroperasi di 224 kota dari Sabang hingga Merauke. (ucl/biz/muz) DOK/JATENG POS SEMANGAT : Fajar Shiddiq, tuna rungu tak menghalangi kemampuan kerjanya sebagai mita GrabCar
pelatihan menggunakan subtitle dan juga alat bantu komunikasi di dalam mobil dan di atas motor. Fajar, merupakan salah satu dari jutaan mitra pengemudi Grab yang meraih impiannya untuk merubah nasib. Saat ini, Grab menyediakan layanan dengan jangkauan terluas di Asia Tenggara di 338 kota yang tersebar di 8 negara dengan lebih dari 152 juta unduhan aplikasi, termasuk Indonesia tempat Grab beroperasi di 224 kota dari Sabang hingga Merauke. (ucl/biz/muz) DOK/JATENG POS SEMANGAT : Fajar Shiddiq, tuna rungu tak menghalangi kemampuan kerjanya sebagai mita GrabCar

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Fajar Shiddiq, penyandang difabel tuna rungu, asal Bandung tidak pernah mengeluh dengan keterbatasannya. Meski tidak bisa mendengar, ia tahu masih memiliki kemampuan agar hidupnya mandiri. Bermodal tekad dan keyakinan, dia terus berusaha bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan membantu perekonomian orang tuanya. Menjadi mita kerja GrabCar dan mampu menjalankan profesi barunya dengan baik, menjadi kebanggaan lajang murah senyum tersebut.

“Awalnya saya sudah mencari kerja ke banyak tempat, tapi selalu ditolak. Saya bingung. Kemudian, waktu itu, saya dapat info dari Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) soal kesempatan kerja di Grab. Mereka tahu kemampuan menyetir saya sangat baik,” ujar Fajar dengan menggunakan bahasa isyarat.

Setelah melamar dan tiga bulan menunggu, Fajar resmi menjadi mitra GrabCar pertama di Bandung pada Juli 2019. Fajar bersyukur karena disabilitas seperti dirinya diberikan kesempatan bekerja menjadi mitra pengemudi.

“Dulu, waktu saya belum kerja di Grab, kadang-kadang saya merasa kurang percaya diri. Kalau bertemu orang juga khawatir salah ngomong, takut salah paham. Tapi, setelah masuk Grab, saya jadi berpikir meskipun saya tuli, saya tetap harus berani untuk berkomunikasi. Apalagi saya punya tanggung jawab agar customer selamat sampai tujuan, jadi saya harus berani,”imbuhnya.

Namun, Fajar sadar akan kemungkinan kesulitan berkomunikasi dengan customer, maka dia selalu mengatakan kepada setiap penumpangnya,

“Maaf saya enggak bisa dengar. Jadi, kalau mau komunikasi bisa duduk di depan’. Saya juga tempel poster (berisi informasi bahwa saya tuli dan informasi lainnya) di mobil saya, supaya customer paham.”tukasnya.

Rencana ke depan, Fajar masih akan bekerja sebagai mitra GrabCar. Selain itu, dia berharap semua masyarakat mengetahui informasi mengenai tuli, supaya semuanya bisa bekerja sama.

“Dan saya harap pengangguran di Indonesia menurun,” katanya.

Untuk memperluas misi Grab untuk memastikan setiap orang dapat menikmati manfaat dari ekonomi digital, terlepas dari kondisi mereka, Grab memperkenalkan program ‘Mendobrak Sunyi’ bekerja sama dengan GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) pada September 2019 lalu. Ada banyak pembaharuan dari sistem teknologi Grab seperti fitur bantuan khusus, materi pelatihan menggunakan subtitle dan juga alat bantu komunikasi di dalam mobil dan di atas motor.

Fajar, merupakan salah satu dari jutaan mitra pengemudi Grab yang meraih impiannya untuk merubah nasib. Saat ini, Grab menyediakan layanan dengan jangkauan terluas di Asia Tenggara di 338 kota yang tersebar di 8 negara dengan lebih dari 152 juta unduhan aplikasi, termasuk Indonesia tempat Grab beroperasi di 224 kota dari Sabang hingga Merauke. (ucl/biz/muz)