Kisah Maria Kepala Sekolah Lansia Pancasila, Lega Sukses Luluskan 349 Lansia


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Topi wisuda sedikit miring. Jubah toga dikenakan menutupi kebaya. Tapi semangat di mata mereka tidak kalah dari wisudawan kampus mana pun. Rabu (22/7/2026) siang itu, Pendapa Rumah Dinas Bupati Semarang penuh tawa dan tepuk tangan.

Acaranya, seratusan lansia dari Sekolah Lansia Pancasila Desa Kenteng, Bandungan resmi diwisuda. Dan, di tengah kerumunan itu, Maria Ana Sri Warti berdiri paling bahagia.

Pensiunan BKKBN Kabupaten Semarang ini sudah 6 tahun jadi Kepala Sekolah bagi para siswa usia uzur. Menatap 112 wisudawan angkatan ketiga hari itu, ia seperti melihat anak-anaknya sendiri lulus.

“Bangga sekali. Capeknya hilang semua,” ujarnya lirih.


Cerita Sekolah Lansia Pancasila dimulai 2021. Saat itu Maria, bersama 5 pengurus lain, berinisiatif bikin kelas untuk lansia di desanya.Tujuannya sederhana agar para orang tua tidak hanya di rumah, menunggu waktu. Tapi tetap belajar, bersosialisasi, dan produktif.

Materi yang diajarkan bukan hitung-hitungan. Tapi soft skill tentang kesehatan, komunikasi, agama, keterampilan, hingga cara jadi lansia yang bahagia. Untuk mengajar, Maria mengetuk pintu banyak pihak. Dari puskesmas, penyuluh, tokoh agama, sampai akademisi.

Baca juga:  Dinlutkan Bantu Sarana Prasarana Budidaya Ikan Bandeng di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang

Ajaibnya, banyak yang mau datang. Gratis. Padahal untuk dirinya dan tim, tidak ada gaji layak.

“Insentif dari desa cuma untuk 3 orang, @Rp100 ribu. Saya bagi rata ke 6 pengurus. Kita memang volunteer. Ada atau tidak ada uang, tetap jalan,” katanya tegas.

Selama 6 tahun berjalan, sekolah ini sudah meluluskan 3 angkatan. Angkatan I sebanyak 235 orang. Angkatan II sebanyak 115 orang. Dan angkatan III sebanyak 112 orang. Total 349 lansia sudah mengenakan toga.

Hari itu, Bupati Semarang H Ngesti Nugraha dan Ketua TP PKK Hj Peni Yulianingsih ikut hadir. Sekda Vakeanto Sukendro juga duduk di barisan tamu.

“Para lansia diharapkan tetap produktif dan terus berinteraksi. Jangan berhenti di wisuda ini,” pesan Bupati.

Pesan yang sama disampaikan Kepala DP3AKB Dewanto Leksono. Baginya, sekolah lansia bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini investasi.

“Tahun ini Usia Harapan Hidup warga Kabupaten Semarang naik jadi 76,40 tahun. Dari 76,15 tahun di 2024 dan 75,95 tahun di 2023. Pemberdayaan lansia seperti ini berpengaruh langsung ke peningkatan IPM kita,” jelasnya.

Baca juga:  Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan Perkuat Nilai Pancasila untuk Persatuan dan Kemajuan Bangsa Indonesia

Bagi Maria, wisuda ini bukan garis akhir. Ia ingin sekolahnya terus hidup. Ia tahu, di banyak desa, lansia masih dianggap “sudah waktunya istirahat”. Padahal menurutnya, di usia 60-70 tahun, manusia masih punya banyak hal untuk dipelajari dan dibagikan.

“Selama masih bisa jalan, masih bisa ngomong, masih bisa ketawa bareng teman, kenapa harus berhenti belajar?,” katanya sambil menata kembali jubah salah satu wisudawati.

Hari itu, di Pendapa Ungaran, tidak ada yang merasa tua.  Ada yang selfie dengan toga. Ada yang menangis haru dipeluk anaknya. Ada yang berbisik, “Bu, tahun depan daftar lagi ya.”

Dan, Maria hanya tersenyum. Enam tahun mengabdi tanpa pamrih, terbayar lunas oleh 349 senyum yang hari itu resmi lulus. Karena ternyata, belajar tidak pernah mengenal kata terlambat. Bahkan di usia senja. Dan, wisuda kali ini menjadi spirit untuk meluluskan lebih banyak lansia di tahun depan dan seterusnya. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...