JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Lampu panggung redup. Gamelan mengalun pelan. Tiba-tiba suasana GOR Pandanaran Wujil, Kecamatan Bergas berubah jadi Paseban Kadipaten. Malam itu, Sabtu (25/7/2026), yang naik panggung bukan pemain profesional. Tapi Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Dandim, hingga Ketua Pengadilan Agama (PA), tengah memerankan tokoh ketoprak dengan lakon “Wahyuning Jodho Tebus Kembar Mayang”

Pertunjukan seni budaya Jawa itu dalam rangka HUT ke-35 DPD Permadani Kabupaten Semarang atau Catur Windu. Sorak penonton pecah saat Adipati Dipo Permodo muncul bersama kerabat, patih dan tumenggung. Pemeran Adipati adalah Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha. Di sampingnya, Wakil Bupati Hj. Nur Arifah sebagai istri Adipati.
Keduanya tampak khidmat berembuk soal jodoh anaknya. “Anakku, wes wayahe golek jodho. Bopo lan Ibu kepingin ndang nduwe putu,” ujar Adipati dalam bahasa Jawa Kromo Inggil.
Tapi sang anak menolak. Ia ingin mencari jodoh sendiri. Harus lewat petualang “tebus kembar mayang” dulu. Diskusi makin seru saat Eyang Gondoroso yang diperankan Ketua DPRD Bondan Marutohening, Patih Suryogo oleh Dandim 0714/Salatiga Letkol Kav Fajar Hapsari Nugroho, dan Ronggo Sabuk Tampar oleh Ketua PA Muh Irfani Husaeni ikut menengahi.

Nasihat demi nasihat keluar, semua pakai unggah-ungguh Jawa. Meski para punggawa sudah disuruh mencarikan jodoh, sang anak tetap keukeuh tidak mau dijodohkan. Penonton khidmat. Tertawa pas ada guyonan, mengangguk pas ada wejangan. Suasana pertunjukan bertambah seru oleh penampilan para seniman ketoprak ‘bolo dhupak’ asal Pati.
Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan, namun ada misi ingin disampaikan lewat nasehat-nasehat dari para tokoh yang ditampilkan dalam lakon. Yang menarik, pimpinan Forkopimda yang memerankan tokoh lakon sama sekali tidak canggung. Dari nada bicara sampai gerak diperagakan secara total.
Mereka sadar bahwa melestarikan budaya tidak cukup dengan pidato. Kadang harus ikut naik panggung, pakai beskap, dan bicara Kromo. Di akhir lakon, tepuk tangan paling panjang justru saat sang anak akhirnya mengerti nasihat orang tua, jodoh boleh dicari sendiri, tapi tetap dengan restu dan tata krama.
Pesan sederhana. Tapi di zaman sekarang, rasanya penting untuk diingat lagi. Malam itu tidak ada rapat prokoler yang serius. Yang ada hanya Adipati, Patih, Eyang, dan Ronggo. Semuanya pejabat. Semuanya sedang belajar jadi orang Jawa sepuh untuk mengajarkan tata krama pada anak-anak muda.
Dan penonton pulang membawa pesan penting, bahwa budaya tidak akan mati, selama ada yang mau “tebus” dengan usaha, seperti kembar mayang dalam cerita.
Ketua Panitia Catur Windu DPD Permadani Much Chlizin menyebut kegiatan ini bentuk nyata melestarikan budaya Jawa yang mulai ditinggalkan anak-anak muda jaman sekarang. Ceria lakon “Wahyuning Jodho Tebus Kembar Mayang” sendiri sarat dengan nilai kesetiaan, perjuangan, dan kebijaksanaan yang menjadi bagian dari falsafah hidup masyarakat Jawa.
“Kita menampilkan seni budaya ketoprak untuk nguri-nguri kabudayan. Sekarang anak-anak kecil banyak yang bahasa Jawanya hilang. Dahar jadi makan, ngunjuk jadi minum. Padahal ini pelajaran budi pekerti dari leluhur yang sarat petuah seperti dalam lakon,” katanya.
Permadani sendiri punya sekitar 7.000 anggota di Kabupaten Semarang. Komunitas ini memang fokus menjaga adat, bahasa, dan seni Jawa agar tidak punah.

Bupati Ngesti Nugraha mengaku bangga. Menurutnya, pentas ini jadi contoh langsung untuk anak muda.
“Ini puncak acara Catur Windu Permadani. Yang penting bukan hanya seninya, tapi juga bahasanya, tata kramanya, sopan santunnya,” ujar Ngesti Nugraha.
Ia berharap ke depan Permadani merekrut lebih banyak milenial untuk belajar pranatacara, kromo Inggil, dan karakter Jawa.
“Ini harus terus kita gelorakan bersama Forkopimda. Ada Bu Wabup, Pak Ketua DPRD, Pak Dandim, Pak Ketua PA, semua ikut meramaikan. Tujuannya satu, memberi contoh ke anak-anak kita,” tegasnya.
Bupati Ngesti Nugraha berharap Permadani terus berkembang dan mampu mengajak semakin banyak anak muda mempelajari bahasa Jawa Krama Inggil, pranatacara, tata krama, serta nilai-nilai pendidikan karakter yang diwariskan para leluhur.
Melalui perpaduan pertunjukan ketoprak, keterlibatan Forkopimda, hingga hadiah undian bagi penonton, Permadani berharap ribuan masyarakat datang bukan hanya untuk menyaksikan hiburan, tetapi juga ikut merasakan bahwa budaya Jawa tetap hidup, relevan, dan layak diwariskan kepada generasi muda. (muz)





