Gema Puan Tolak Istilah Banteng-Celeng, Anggap Perlawanan Kelompok Kecil

18
ilustrasi.

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Ketua Umum Generasi Muda Pejuang Nusantara (Gema Puan), Ridwan, menolak istilah banteng celeng yang digagas pendukung Ganjar Pranowo.
Sebagaimana diketahui, istilah banteng merujuk pada PDIP.

Sementara celeng identik sebagai kader PDIP yang tidak tunduk dengan putusan partai dan memilih mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai capres 2024.

“Pertama, saya menolak bahasa banteng-celeng. Banteng, ya, banteng. Celeng, ya, celeng. Tidak ada hubungannya banteng-celeng. Tidak ada sama sekali. Itu sikap resmi Gema Puan,” ujarnya, Senin (15/11).

Menurutnya, istilah yang dimunculkan oleh pendukung Gubernur Jawa Tengah di Solo tersebut justru menunjukkan bentuk perlawanan mereka pada PDIP.

“Itu merupakan bagian perlawanan saja dari kelompok kecil yang mencoba ingin menggadang-gadang Ganjar, dan kita tahu pusatnya ada di Solo, yang merupakan kampung halamannya, berlindung ke Pak Jokowi, jadi di situlah pusatnya,” jelas dia.

Jika dibiarkan, ia menilai istilah banteng-celeng akan berkembang menjadi isu SARA dan akhirnya menimbulkan provokasi di masyarakat.

“Ini [penyebutan banteng-celeng], kan, berbahaya. Saya menolak itu, nanti jadi SARA,” pungkasnya.

Sebelumnya, Jumat (12/11/2021) Ganjar Pranowo menemui Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo di kediamannya di Solo. Dalam kesempatan, itu sejumlah pendukung Ganjar menyambut meriah dan memberikan kaus bertuliskan ‘Banteng Celeng’ pada Ganjar.

Saat awak media meminta untuk diperlihatkan kaus tersebut, Ganjar hanya tersenyum lebar dan hanya memperlihatkan bagian depan yang tidak ada gambar banteng celeng.
“Tidak ada gambar banteng celeng, ngawur wae, (di belakangnya) tadi gambarnya Pak Rudy-Ganjar,” kata Ganjar.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo melihat pameran foto mantan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo di Pendapa Pucangsawit, Jebres, Solo. Dalam kunjungannya itu, Ganjar diberi kaus bergambar banteng dan celeng.

Dia melihat langsung pameran foto perjalanan karier politik FX Rudy bertema ‘Akar’ yang diadakan di Pendapa Pucangsawit.

Pada kesempatan itu, Ganjar mendapatkan kaus dari kader PDI Perjuangan bergambar dirinya sedang “adu banteng” dengan Rudy dan di bawahnya bertuliskan ‘Sedulur Seperjuangan’.

Tidak ada gambar celeng, ngawur wae, (di belakangnya tadi) tadi gambarnya Pak Rudy,” kata Ganjar saat ditanya wartawan di lokasi.

Tetapi, saat ditegaskan kembali Ganjar kembali mempertanyakan gambar tersebut.

“Ho’oh ta? Masak sih? (iya ta? Masak sih?),” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rudy menyampaikan, gambar kaus yang diberikan oleh kader PDIP kepada Ganjar adalah salaman “adu banteng” atau dahi ketemu dahi.

Menurutnya, salaman adu banteng itu mempunyai makna tersendiri bagi keduanya.

“Gambarnya pas saya salaman dengan gubernur selalu adu bathuk, saya selalu menyampaikan melayani masyarakat selalu menggunakan rasa. Saya dan pak Gubernur sama sebagai pelayan masyarakat sebagai pelayan masyarakat hanya tingkatannya beda,” urainya.

Rudy juga menegaskan kembali adanya fenomena banteng celeng. Baginya, menjadi banteng celeng adalah yang lebih baik karena tegak lurus pada aturan partai atau titah ketua umum.

“Sudah saya sampaikan lebih senang dikatakan banteng celeng, jalannya lurus hal yang tidak baik tidak pakai. Ketum katakan A banteng celeng harus jalankan. Kausnya inisiatif kader, jadi kader perjuangan Solo ambil positifnya, tegak lurus,” pungkasnya. (rit)